Novel Residu: Theerten.

Juli 27, 2009

Theerten

Pimpinan Redaksi, Manajer iklan dan seorang Editor senior yang lain memasuki ruang rapat yang berada di lantai Editorial. Dibelakang mereka. Looke mengikuti. Dua jam kemudian kontrak penerbitan selesai diteken, termasuk pembayaran setengah dari nilai kontrak.

Dari sana dia naik ke lantai berikutnya, satu lantai diatas, hampir menjelang malam.

Miss Parker telah menunggu kemunculannya berjam-jam sebelumnya. Dia nampak gelisah dan letih, wajahnya kusut dan berminyak, aroma parfum dari tubuhnya yang berkeringat tak lagi semerbak sempurna. Dari pagi, siang hingga petang dia menyusuri sepanjang jalan Jakarta yang panjang dan penuh dengan kemacetan disana-sini, keluar masuk kantor, hotel dan restoran hanya untuk sekedar menyapa seseorang dan berbasa-basi ringan, sejenak sebelum berpindah ke pertemuan-pertemuan berikutnya.

“Sudah beres?” Mis Parker tak membuang banyak waktu. Looke menutup pintu, menguncinya lalu berjalan mendekati meja Miss Parker.

“Sudah, tinggal membelanjakannya saja. Terimakasih!”

Miss Parker tersenyum puas.

Namun keletihannya yang sangat, tak tersembunyi.

“Taruh tasmu di sana!”

Looke berpaling ke sofa untuk tamu, dia meletakkan tasnya perlahan dari sana, dia mengambil 3 bundel copy novelnya lalu menaruhnya di atas meja di hadapan Mis Parker.

“Ini novel pertama!”

Miss Parker mengambilnya dari tangan Looke dan mulai membaca ringkasan yang ada di cover belakang.

“Cukup menarik!” ungkapnya menanggapi tak seberapa lama kemudian, lalu melanjutkan mengambil copy yang kedua.

Dia mengangguk-angguk setelah selesai membaca ringkasannya.

“Sastra picisan, namun yang seperti ini yang laku di pasaran!”

“Edisi masa kini, mewakili zamannya!”

“Setengahnya adalah pengalaman pribadi dan selebihnya adalah angan-angan!”

Looke tertawa kecil, dia mengangguk, mengakui dan membenarkan.

“Dan yang ketiga?”

“Ini!”

Miss Parker memecingkan keningnya berusaha menarik kelopak matanya yang mulai terasa berat.

“Semuanya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris!”

“Tapi belum satupun yang terbit, bukan?”

“Benar!”

“Kau terlampau yakin dan ambisius!”

“Sebenarnya itu adalah ide dari seorang teman!”

Miss Parker tak memberi tanggapan.

“Aku ingin menunjuikan sesuatu, boleh?”

“Silahkan, apa?”

“Tunggu sebentar!”

Looke berpaling dari Miss Parker, cekatan dia menghampiri tasnya dan mengambil sesuatu dari sana.

Looke menunjukkan kepada Miss parker.

“Masih tersegel!”

“______________? Kau mau mengajkku main gila, yah?”

“Looke tersenyum genit, dia menggoda menunjukkan kehangatan dan maksudnya, tubuhnya malai berkeringat menebarkan aroma birahi yang telah menemukan bentuknya.

“Ayolah, sedikit saya, Miss!”

“Miss Parker tersenyum.

“Setelah itu sedikit lagi!”

“Tambah sedikit lagi!”

“Dan sedikit lagi, boleh?”

“Boleh?”

“Dasar laki-laki sialan!” ungkap Miss Parker dengan lantang sambil menyambar ponselnya dari atas meja lalu melemparkannya ke dinding, berdiri sigap dari kursinya lalu berlari kecil dan akhirnya melompat ke pelukan Looke.

Looke menangkapnya dengan gesit, dia mengerahkan semua kekuatannya dan memeluk tubuh Miss Parker dengan erat, dengan kuat hingga pelukannya terasa seperti akan merontokkan tulang-tulang Miss Parker. Dia menahan nafash sambil merenggangkan ototnya, ada sensasi yang dia rasakan menggeliat dalam tubuhnya, dalam pelukan Looke.

Looke mengangkat tubuhnya, emggendongnya, sambil memijit-mijit kuat bokongnya dan pahanya yang kencang silih berganti lalu membelai-belai rambutnya.

“Sayang…….!”

“Ya, Looke?” jawab Miss Parker penuh semangat.

“Kau tidak pulang ke rumah malam ini, bukan?”

“Tidak!”

“Jadi?”

“Kita akan bercinta sepuasnya, sayang. Benarkan?” jawab Miss Parker berbisik ke telinga Looke.

“Tentu!” balas Looke.

“Tapi….”

“Ada apa?”

“Bagaimana kalau orang rumah mencarimu?”

“Khan Hpku sudah rusak!”

“Kalau mereka menelponmu kemari, bagaimana?”

“Aku atau kau akan mengatakan bahwa aku sedang tidak ada di sini, mungkin sedang dalam perjalana pulang!”

“Kalau mereka mencarimu sampai kemari?”

“Itu urusanmu, bodoh!”

“Oh iya!”

Looke semakin erat memeluk tubuh Miss Parker. Dia menjuntai di bahu Looke, tenggelam dalam pelukan erat penuh sayang dan hasrat Looke, dia semakin bersemangat memijit tubuhnya, pahanya dan bokongnya, Miss Parker merintih, mengerang dan menjerit setiap kali pijitan Looke pas menyentuh uratnya dan ototnya.

Miss Parker, dia letih dan birahi, sia telah berjalan jauh, berkeliling ke banyak tempat, bertemu begitu banyak orang, dan bekerja lebih banyak dari siapapun, sekarang dia birahi, itu semua adalah sebuah kenikhmatan, sebuah permulaan.

Mereka bercinta, dua kali melampaui pengalaman puncak yang hebat, setelah itu mereka pulang, dalam keadaan mabuk.

*

Both Dior yang bersol kayu di tumitnya berdetak harmonis seirama dengan ayunan langkahnya yang anggun dan percaya diri menyusuri lantai _________ yang terbuat dari panel-panel trasso granit yang licin, bersih dan berkilau.

Namun dia tidak sendiri, ini kejutan, dia menggandeng Pearl dan Sam. Meadowri berada di salah satu meja yang ada disana, duduk membelakangi pintu masuk.

“Selamat malam nona!”

Meadowri berpaling. Dia melihat raut tegang dan pucat di wajah Pearl dan Sam. mereka bingung dengan sorot kamera yang diarahkan kepada mereka. looke tidak memberitahukan apa yang sedang berlangsung. Mereka telah menonton beberapa episode kencan Meadowri dengan Looke di TV, tapi tidak tahu menahu sedikitpun tentang shoting maam ini. Mereka berpikir, ini mungkin adalah makan malam yang istimewa dari Looke untuk mereka. banyak hal akan terjadi dalam hidup mereka dalam beberapa waktu kedepan. Ini mungkin adalah bagian dari kenagan mereka, yang akan mereka tinggalkan, dan bahkan mungkin lupakan.

Looke ingin semuanya berjalan wajar, mengalir sebagaimana yang seharusnya sebagaimana kebiasaan keseharian mereka bertiga. Looke ingin mereka tampil sebagaimana umur mereka, sebagai dua orang anak-anak.

Meadowri kecewa. Dia memendam rasa marah dalam dirinya. Dia ingin mengungkapkannya, menumpahkan semua perasaannya malam ini. Dia sengaja memilih restoran yang romantis, lagi pula ini adalah shoting terakhir dirinya dengan Looke, malam ini dia akan tereliminasi dari kencan Meadowri yang telah mendekati akhir pertunjukan.

Penonton kencan Meadowri telah memilih, telah merequest siapa yang akan tetap bertahan dan pada akhirnya menjadi sang penakluk Meadowri dan siapa pul;a yang harus tersingkir di setiap episodenya, tapi karena ini adalah tontonan Sutradaralah yang menentukan, bagaimana pertunjukannya harus berjalan.

“Siapa”

Meadowri belum mengenalnya.

“Anak-anakku!”

“Anakku? Jadi Looke, kau sudah berkeluarga?”

“Perkenalkan…..”

“Pearl!” sambung Pearl cepat memperkenalkan dirinya.

“Dan……..”

“Sam!”

“Pearl dan Sam?”

“Yep!”

Pearl dan sam mengangguk mengikuti jawaban Looke.

“Ayo, silahkan duduk!”

Dia berpikir jelas bagaimana menyesuaikan dirinya dengan apa yang ada di depannya. Sekali lagi dia kecewa, dia tidak menduga ataupun mengharapkan Looke adalah seorang duda.

Pita dalam ketiga kamera masih panjang.

Namun ini tidak akan berlangsung lama.

Ini adalah sebuah makan malam terakhir, hidangan penutup yang disajikan di meja kehidupan mereka berdua.

Seorang pelayan baru saja meninggalkan meja mereka dengan 2 lembar bon makanan. Menu-menu yang terbaik yang tertulis dalam bon perlu beberapa saat untuk mengolahnya sebelum disajikan.

“Apa yang mereka ketahui, Looke?”

“Pearl menontonnya ‘Kak!”

“Kamu?”

“Benar!”

“Dan Sam juga!”

Looke hanya mengangguk dan menebar senyum.

“Mereka sangat menyukainya!” tanggapnya.

Meadowri berpaling kembali ke Pearl dan Sam.

“Bagaimana menurut pendapat kalian?”

“Papa yang paling keren!”

“Benar Kak!” sambung Sam sambil mengacungkan jempolnya.

“Ya khan Pa?” lanjutnya.

Meadowri dan Looke saling bertatapan.

“Terima kasih!” jawab mereka serempak.

“Baju yang Kakak pakai itu seperti yang Kakak pakai dalam episode yang lalu?”

“Papa yang mengotorinya!”

“Tapi sudah kakak cuci sampai bersih. Lihat!”

Meadowri berdiri meninggalkan kusrinya, di koridor sempit yang merupakan jarak kosong antar meja dia berputa-putar dua tiga kakli menunjukkan pakaiannya, dia ingin membuktikan ucapannya.

Looke tahu itu adalah stelannya yang terbaru.

Pearl dan Sam terperagah, mereka berdua kagum akan kecantikan Meadowri dan keaindahan pakaiannya.

“Pearl ingin cepat besar!” bisik pearl diam-diam dalam hati.

“Pearl, Sam, bagaimana? Looke?”

“Cantik sekali!” balas mereka bertiga hampir serempak. Meadowri membalasnya dengan senyumannya yang termanis, dia puas dan bahagia melihat mimik wajah tenang di kedua ank itu.

“Itu hanyalah segelas Cappucino!” pikir mereka berdua.

Meadowri kembali ke tempatnya.

Dari dalam tasnya. Looke menfgambil dua lembar foto, selembar foto close up Meadowri dan selembar yang satunya adalah foto dia dan Looke dari salah satu lokasi syuting. Dia membagikann ya kepada Pearl dan Sam sambil membisikkan sesuatu.

Meadowri terperanjat melihat kedua lembar foto itu dan persiapan Looke.

“‘Kak tolong ditandatangani!”

“Tanda tangan Kakak jelek, bagaimana ya?”

“Papa juga!”

“Kalau begitu, baiklah Pearl!” dia mengambil bolpoin parker dawat dari tangan Looke, foto dari Pearl dan Sam lalu membubuhkan tandatangannya, berikut sebuah catatan pendek dibawahnya, darinya.

Pearl tersenyum, dia puas dan bahagia, perasaan yang kira-kira sama seperti yang dirasakan Meadowri tadi.

“Kakak adalah idola Papa, Pearl dan Sam!”

“Tapi Papa juga masih punya banyak pacar!” sambung sam sambil membayangkan banyaknya foto di dinding kamar mereka.

Pearl melirik ke arahnya.

Bersamaan dengan itu, Pelayan yang membawa makanan pesanan mereka menyapa.

“Steak….”

Untuk Meaadowri!” jawab Looke sambil membantu pelayan meletakkan piring stak di hadapan Meadowri.

“Sosis……”

Untuk Papa, Pearl dan untuk Sam!”

Mereka berdua nampak begitu berselera.

“Ini yang pertama kalinya kami datang ke sini!”

Meadowri mengangguk memaklumi sambil memotong-motong steak di piringnya dalam ukuran kecil.

Seorang Pelayan yang lain muncul dengan membawa minuman.

“Masih penasaran dengan Cappucino paling enak yang pernah saya ceriotakan?”

“Ya!”

“Ini dia, Looke!”

Meadowri menyambut cangkir capoucino dari tangan pelayan dan menghidangkannya ke hadapan Looke.

“Cappucino paling enak? Meadowri, kau yakin?”

“Dicoba saja dulu!”

Looke cepat mengangkat gelasnya dan menyeruput cappucino panas itu sedikit demi sedikit.

“Penilaianmu benar-benar sempurna!”

“Dan bosmu tidak lain adalah bos yang hebat, Looke!”

“Ya, dia berhasil membuat kami mempercayai takhyul, bualannya itu selama bertahun-tahun!”

“Ha.., ha.., ha..!”

Tapi tiba-tiba Meadowri berhenti tertawa. Seorang tamu yang sedang mendekati meja pesanannya menarik perhatiannya. Dia tamu yang baru saja masuk.

“Looke, lihat, bukankah itu adalah bos Nomoto?”

“Apa? Bosku? Disini?”

“Itu…, coba kau lihat!”

Looke memutar tubuhnya mengikuti arah yan ditunjukkan oleh Meadowri.

“Ya tuhan, dia benar-benar ada di sini?”

“Menurutku dia langganan di sini!”

“Benar pembual, sialan!”

“Ha.., ha.., ha..!”

Pearl dan Sam tidak memerlukan banyak waktu untuk menghabiskabn sosis-sisis di pringnya. Dalam sekejab piring mereka bersih.

“Pearl dan Sam mau tambah lagi?”

Pearl melirik ke arah sam, mencoba bertanya sekaligus mengajaknya untuk jawaban yang masih dia pendam, dia membalasnya dengan raut wajah yang bingung lalu melirik ke Looke. Looke tak cepat menanggapi, dia menimbang terlebih dahulu apakah anak-anaknya benar-benar masih memerlukan sedikit tambahan sosis lagi atau tidak.

Tapi Pearl tak membuang banyak waktu.

“Tidak ‘Kak, Sam sepertinya sudah kenyang, kata Papa!” ungkap Pearl kecewa dengan raut muka Looke, dan lamanya waktu yang dia perlukan untuk membuat keputusan. Sam mengangguk membenarkan Pearl.

Looke terhenyak dari lamunannya, jawaban Pearl benar-benar menyadarkannya dan membuatnya malu.

“Pearl, Papa belum mengatakan apa-apa bukan?”

Pearl tak menjawab, dia nampak tegang.

“Papa mau tambah satu porsi lagi, bagaiamana dengan Pearl dan Sam?” lanjut Looke menghentikan ketegangan dan rasa bersalah yang dirasakan oleh Pearl.

“Tambah juga!” jawab mereka berdua serempak dengan bersemangat.

Meadowri tak memberi komentar, dia hanya mecoba tersenyum, dia terhanyut dengan situasinya.

“Sudah kenyang…., kata Papa? Boleh juga Pearl!” bisiknya dalam hati.

Setengah porsi sosis hanya memerlukan waktu setengah dari waktu sebelumnya.

Tempat yang sangat menyenangjkan. Kau lihat sekeliling, benar-benar nyaman dan romantis!”

“Dan masakannya, cappucinonya yang hebat!”

“Tidak diragukan lagi, kau memang ahli dan pandai dalam memilih, itu menurutku, paling tidak sampai sejauh ini!”

“Sebulan sekali saya datang ke mari, makan steak atau sosis dengan secangkir latte atau cappucino sudah seperti ritual buat saya!”

“Ritual yang mengeyangkan!”

“Dan mahal, kau tahu khan Looke, semua ada harganya. O ya, untuk memastikan kau perlu waktu berapa lama lagi?

Novel residu: Chapter twelve.

Juli 15, 2009


Twelve.


Sebagaimana biasanya, dia bersiap terlebih dahulu sebelum menelphone Looke untuk menjemputnya. Dari sana, mereka berdua menuju ke sebuah megah Plaza terbaru di jantung Jakarta.

Mereka masuk ke Guest, membeli beberapa pernak-pernik perempuan, lalu ke Prada, Luis Vuitton melihat—lihat beberapa exclusiv stuf edisi terbaru utnuk di beli bulan depan. Di _________ Drew membeli kemeja untuknya.

Looke membeli sepasang booth ¾ dari Dior edisi terbaru, kemja falnel berlapis beludru kotak-kotak hijau dan beberapa kemeja warna cerah lainnya Lavine. Malam itu dia berbelanja kemeja lebih dari satu lusin, masing-masing di _____, ______, _______ serta beberapa sepatu lainnya di _________, dan __________. Di Amerika, dia akan sangat kewalahan dan kesulitan menemukan dan berbelanja sepatu, kemeja dan celana bukan saja yang diinginkannya, tapi yang cocok dan pas dengan ukurannya.

Terakhir mereka berbelanja di Levi’s, mereka berdua keluar dari counter itu dengan menenteng beberapa kantong belanjaan. Di Giordano mereka masing-masing membeli sepasang jeans dan terakhir di Cerruti 1881, mereka berbelanja habis-habisan.

Drew selanjutnya mengajaknya ke salah satu toserba pakaian yang menjual berbagai produk fashion merek menengah. Dia memerlukan beberapa pakain dalam untuknya, bra dan celana dalam. Looke mengikuti Drew mencari dan menemukan pilihannya, hampir tidak ada lagi celah di tangannya untuk tentengan kantong belanjaan tambahan. Mereka telah berbelanja habis-habisan dan sepuasnya. Drew mengambil beberapa Bra dan Cd dari raknya lalu bercakap-cakap dengan seorang Pramuniaga perempuan yang ada di dekatnya. Setelah kata sepakat, dia mengeluarkan dompet lalu menyelipkan beberapa lembar uang diam-diam ke balik telapak tangan Pramuniaga.

Setelah itu, dia kembali menghampiri Looke. Si Pramuniaga berjalan mendekati salah satu kamar ganti, kamar pas yang ada di pojok, ada beberapa kamar pas di sana.

Drew menunjukkan beberapa BH.

“Semuanya?”

“Tidak, hanya beberapa. Bantu aku Looke!”

Drew menarik bahunya. Looke menikuti, mereka berdua lalu masuk ke kamar pas.

“Pramuniaga itu melihatku, Drew!?”

“Tidak mengapa, sudah beres, dia kooperatif!”

“Kau pasti te….”

Drew tersenyum. Looke tidak melanjutkannya lagi. Dioa mengerti dengan cepat.

Demikian pula dengan birahinya. Menurut pendapat umum, libido seorang pria dapat terangsang dan tercetus dalam sekejab, dan berakhir dengan cepat. Itulah yang dialami Looke.

“Jangan berisik ya, sayang!” pinta Drew.

Perlahan-lahan Drew membuka kacing blazernya lalu kemejanya. Looke mengikutinya dengan cermat, dia mulai grogi, denyut jantungnya memburuh, nafashnya menggebu tak karuan, ada rasa takut kepergok yang sangat, yang membaur dengan perasaan nafsuh yang menggila. Blus Drew telah terlepas, dia melemparkannya sembanranganke lantai. Seluruh tubuhnya yanbg indah nan elok terbuka, terpampang di hadapan Looke, putih, segar dan bersih. Wangi _________ yang telah membaur dengan keringat membuat tubuh Looke nampak lemas, tapi denyutan jantungnya menandakan bahwa dian sangat bergairah dan nampak sangat bersemangat. Dia sedang berusaha menikmatinya.

“Kita tidak akan melewatkan apapun, sedikitpun dari malam ini!”

Looke mengangguk dengan gerakannya yang kian grogi.

“Aku juga, Drew!” bisiknya.

“kalau begitu, bantu aku melakukannya!”

Drew membalikkan tubuhnya menghadap cermin yang sedikit lebih tinggi dari mereka. Ruangan itu, selain pintu masuik semuanya dilapisi dengan cermin di ketiga sisinya.

“Pelan-pelan saja Looke!” balas Drew membisik.

Looke telah melepaskan kaitan Branya ketika dia merasakan getaran syahwat dari tangan lentik Drew yang meremas penisnya yang telah ereksi dengan sempurna, dia terkejut setengah mati.

“Saatnya kau menggunakannya juga, Looke!”

Looke tak membuang banyak waktu, dia melepas Bra itu cepat, membuangnya ke lantai, lalu mulai meremas-remaa, membelai dan memijat dengan lembut punggung Drew. Dia menggeliat, sedikit, dia berusaha menikmatinya sedikit demi sedikit. Setelah itu dia menciumi pundaknya, lehernya, kembali ke bahunya dan pungungnya. Mengangkat kedua tangannya dan merasakan sensasi bau keringat perempuan, kemudian meremas-remas buah dadar Drew yang telah membesar dengan sempurna, perpaduan antara payudara gadis remaja dan payudara seorang perempaun yang telah menyusui beberapa orang anak, itu terlihat dari putingnya.

“Looke…, lakukan yang terbaik, sayang!” Jerit Drew dengan suara basah mendesah dan berbisik. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan titik-titik sarat yang birahi, pori-porinya meneteskan titik-titik keringat dan bulu-bulu halus di di tubuhnya berkidik. Looke nampak kian bersemangat dan agresif. Dia membaliikan tubuh Drew, mereka sedang berhadap-hadapan, dia mengangkat roknya, melihatnya sejenak lalu kembali berciuman dan bercumbu. Drew membuka gesper Looke beserta sleting celananya dan mulai meremas-remas Penisnya. Mereka benar-benar larut dan menjadi bagian dari permainannya. Mereka masing-masing melakukan apa yang mereka inginkan, pantas mereka lakukan dan yang selama beberapa hari ini mereka khayalkan. Ini adalah contoh kreatif sebuah percintaan yang berjalan mulus dan sempurna dalam situasi sempit dan terjepit oleh waktu maupun tempat, karena mereka mengikuti prinsip-prinsipnya dengan benar. Di Plaza-plaza, seks adalah bisnis kecil-kecilan para pramuniaga dan industri besar dan meluas di tingkat Germo dan_____________.

Akhirnya merekapun bercinta.

Di Plaza itu mungkin bukan hanya mereka yang telah melakukan hal serupa sepanjang hari itu, dari pagi hingga bubaran di toilet, parkiran mobil hingga ke kamar pas, tapi yang pasti untuk hari itu saja tidak ada pserta yang melakukannya lebih baik dari mereka, tidak ada percintaan yang berjalan mulus dan sempurna sebagaimana yang mereka lakukan. Mereka berdua keluar dari kamar pas dengan wajah riang dan berseih-serih, dengan bersemnangat.

Selanjutnya mereka Shanghai Noddles, di lantai dasar, mengakhiri proses panjang percintaan mereka, di sana.

Jika anda sering-sering naik kendaraan umu, anda akan sering bertem dengan pekerja-pekerja plaza dan restoran yang tertidur dalam perjalanan mereka pulang ke rumah. Mengapa? Apakah semata karena keletihan dan lelah telah bekerja 8-9 jam sehari dimana separuh dari waktu itu dalam keadaan berdiri? Pertanyaan tersebut sekaligus jawaban yang benar untuk sebagian besarnya. Selebihna adalah karena mereka baru saja melalui perjalanan, pengalaman percintaan yang hebat di kamar ganti pakaian para karyawan.

Mereka letih dan lemas itu karena seks yang hebat.

Hanya saja tips hari ini belum cukup untuk semangkuk Vietnemse Noodles atau semangkuk Shanghai Noodless yang dihidangkan di dalam mangkuk tembikar ukuran jumbo, mangkuk

mie dari tembikar peninggalan era dinasti Han, Ming, Tang atau Sung.

Ini adalah kenangan saya dari masa lalu.

Dulu saya pernah memiliki beberapa buah mangkok mie dan soup dari tembkar asli era dinasti Han dan Sung. Disinilah saya meresakan perbedaan rasa dari sebungkus Nissin instant Noodless yang disuguhkan di atas mangkok modern dengan Mie atau soup yang dihidangkan di atas tembikar antik Han, sung dan Imari dari masa lalu!

Saya sudah mengalaminya dan mengerti bagaimana rasa berbedanya!

Naskah sebuah novel: Chapter eleven.

Juli 13, 2009

Eleven.

Kembali ke persoalan tomat tadi, jelas setiap lembar tomat di balik lipanan Burger itu, dan ini, berasal dari buah tomat yang besar, yang montok, padat dan bersi, dan berwarna merah mudah yang segar berserih.”
“Yang tumbuh dengan sehat!”
“Tentu saja, Meadowri!”
“Hasilnya adalah buah tomat terbaik!”
“Seperti itulah cinta!”
“Maksudmu? Dimana hubungannya?”
“Cinta itu seperti buah terbaik dari satu musim panen. Akan tiba harinya dimana dia akan membusuk sama seperti hasil
panen terburuk yang anda hasilkan di musim panen itu. Anda akan terus mengingatnya, mengenang rupanya, sambil mengharapkan kejadian serupa itu terulang kembali, di musim panen berikutnya. Yang pasti bahwa, di setiap musim panen, akan selalu ada hasil panen terbaik dan yang terburuk! Kau tentu bisa menebak dari mana buah tomat yang terbaik tersebut berasal?”
“Tentu saja dari bibit tomat terbaik!”
“Cinta itu adalah berkarung-karung biji tomat yang terbaik di gudang kehidupan anda. Jika tidak pernah menyemaikan sebiji cinta, anda tidak akan pernah memetik buah tomat milik anda sendiri! Sebiji tomat sekalipun…, sendiri!”
“Itulah adalah ungkapan-ungkapan bodohmu tentang cinta, bkan?”
“Kadang-kadang kita nampak terlihat bodoh, dan bertingkah bodoh, dari semua perbuatan-perbuatan bodoh yang bisa kita lakukan setiap harinya, adalah mencintai, dicintai, mengatakan dan mengungkapkannya, dan tentu saja pada akhirnya percintaannya itu sendiri! Meadowri….?”
“Ya looke?”
“Berapa banyak cinta dan percintaan yang telah hadir dalam hidupmu, yang telah engkau lewati, yang telah disuguhkan dalam kehidupanmu?”
“Banyak!”
“Sekarang aku percaya, ternyata kau memang tidak hanya cantik, tapi sekaligus bodoh!”
“looke!?”
“Kau tidak sendiria, ada aku, tentunya!”
Looke membuka tasnya. Dia mengambil Carllsbeer yang terakhir.
“Ini adalah petunjuk waktu!”
“Itu yang terakhir?”
“Yep!”
“Seandainya aku bisa menemanimu looke, malam ini akan jauh lebih hebat. Maafkan aku Looke!”
“Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu dan kesempatan yang lain!”
“Aku berharap demikian!”
Itu adalah sekaleng Carllsbeer yang terakhir. Dia membukanya perlahan-lahan, lalu plook…..! dan,
“Criitt…!” buih-buih Carllsbeer menyembur keluar dari kalengnya, tersembur melebar, meluas dan menjauh hingga
mengenai tubuh Meadowri.
Meadowri berteriak.
“Looke….?”
Cepat Looke meletakkan Carllsbeer di atas meja. Masih terlihat buih-buih bir meluat perlahan dari kalengnya, membasahi
meja. Looke mengambil tissue dan berusaha melap tangan, pakaian dan tepian meja di hadapan Meadowri. Dia panik. Mereka berdua tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Dia berusaha menggapai Meadowri dari tempatnya duduknya, tapi belum sempat niatnya terwujud, tangannya telah terlanjur terlebih dahulu menyenggol cangkir Cappuchino, gelas itu oleng lalu tumpah, membasahi meja dan pakaian Meadowri.
“looke…., koq bisa jadi begini?” ungkap Meadowri dengan perasaan kecewa, namun dua juga sadar tak banyak yang dapat dia lakukan, semuanya telah terlanjur terjadi. Wajahnya memerah, dia nampak sangat marahdan kesal, dia menegok ke sekelilingnya, semua mata yang ada di dalam sana tertuju heran kepada mereka berdua, itu adalah pakaian dari_____________, salah satu busana istimewa yang dia miliki.
“Maaf Meadowri, aku tidak sengaja, kau tahu, aku terlalu bersemangat!” ungkap Looke berkali-kali, tanpa henti berusaha menangkan perasaan marah dan kecewa Meadowri. Dia mengambil semua tissue dan mulai melap meja dan tubuh sedapat yang bisa dia gapai dan lakukan. Dia malu, marah dan kecewa, juga, tidak pada siapa-siapa, tapi kepada dirinya sendiri.
Meadowri berusaha membantunya, wajahnya telah memerah, merah padam, entah karena malu atau karena pengaruh alkohol.
“Kau mabuk, bodoh!”
Itulah kata terakhir darinya.
Dia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu tak selang seberapa lama setelah itu, Meadowri beranjak lalu bergegas pergi, meninggalkan Wendy’s, dan meninggalkan Looke sendirian di sana. Seorang petuga kebersihan cepat datang membantunya membersihkan meja, setelah itu, dia masih sempat memesan dua paket Hamburger istimewa untuk dia bawah pulang, untuk Pearl dan Sam.
Keesokan harinya, syuting berlanjut tetap sebagaimana biasanya. Meadowri ada di sana, demikian pula dengan Looke, untuk beberapa shoot yang tertinggal. Demikian pula selama beberapa hari selanjutnya yang masih tersisa. Ini akan menjadi periode syuting yang masih panjang buat Meadowri, berlanjut hingga happy ending, hingga orang terakhir, yaitu kencan yang memenangkan cintanya. Dari sekian banyak kontestan, entah siapa yang akan menjadi pememangnya.
Penyebab yang melatarbelakangi Looke masuk di pertengahan jam kerja waktu itu adalah karena pada pagi itu dia, Pearl dan Sam mengikuti wawancara visa masuk ke Amerika di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.
Mereka bertiga tinggal menunggu panggilan berikutnya, yang akan menentukan apakah sayap-sayap kehidupan mereka akan mengepak dan membawa mereka terbang jauh hingga ke sana, untuk selamanya.
Buat Looke, segala sesuatunya hampir selesai, rampng dan berakhir. Dia tinggal beberapa saat dan langkah di penghujung cerita dan perjalanan dari sebuah periode yang akan menjadi masalalu dalam hidupnya.
Entah Meadowri akan berkata apa tentang itu!

Naskah sebuah Novel: Chapter ten.

Juli 12, 2009
Chapter ten.
Looke membuka Carlsbeer yang keempat, meneguk sedikit lalu ke toilet. Itu adalah permulaan, tidak lama lagi dia akan kembali ke sana, dan seterusnya. Semakin banyak bir dia minum, dia akan semakin sering terlihat keluar masuk toilet, dan semakin mabuk. Alkohol dalam Beer mulai menampakkan fungsinya, itu nampak di wajahnya, merah dan sorot matanya menjadi sedikit sayu, gerakannya lunglai namun hal tersebut sekaligus berarti bahwa dia dapat berbicara jauh lebih banyak. Meluas dan mendalam tentang berbagai hal, jauh dari keadaan normalnya.
Tapi siapa yang benar-benar percaya ucapan yang keluar dari seorang peminum? Dari seorang yang sedang mabuk?
Saya kerap berada dalam situasi serupa itu, dan tentu saja setelah sadar kembali, lepas dari pengaruh alkohol, beberapa waktu setelah itu,  saya mulai mengingat kembali semua ucapan-ucapan  saya dari kaleng ketiga sampai dengan terlentang tak berdaya di kursi sambil mulai memuntahkan sedikit demi sedikit Bir-bir yang telah saya minum beserta semua makanan yang ada di sana, saya mulai menyadari ternyata semua yang telah saya ungkapkan dan katakan sesungguhnya adalah omong kosong terhebat yang pernah saya ucapkan.
Jika anda pernah melewati masa-masa seperti itu, saya yakin bahwa anda akan percaya jika saya mengatakan itu adalah salah satu saat-saat paling indah dan membahagiakan dalam hidup, paling tidak untuk seorang peminum arak seperti saya. Jika di antara makanan dan minuman yang ada dalam perut anda ada juga hal-hal lain yang tidak berguna, tentu alkohol tersebut terbukti bermanfaat bukan?
Di wajahnya, Meadowri mulai terlihat ragu, apakah situasi yang berkembang di depannya adalagh merupakan bagian dari skenario atau tidak lagi. Semaunya nampak wajar dan, sungguhan, cermin yang memantulkan kehidupan Looke yang sebenarnya, di bawah sorot lampu dan kamera.
Orang-orang sering menasehatinya, jangan pernah hidup dengan seorang pemabuk, namun saat ini, yang seorang itu ada di depannya. Semeja dengannya, nampak mulai membual di kehidupanna. Meadowri berusaha sedapat mungkin mengikutinya, mengikutinya sampai sejauh mana ini akan berlaku. Suatu waktu di Paris, dia menghadiri sebuah Fashion show dimana beberapa orang pragawatinya berada dalam keadaan setengah mabuk. Hasilnya, show berjalan mulus dan tetap berakhir sebagaimana biasanya. Saya juga.
Looke menarik selembar tomat dari balik lipatan Burger, lalu menunjukkannya ke hadapan Meadowri.
“Ini hanya selembar tomat, seperti yang kau lihat. Tomat yang diiris tipis dengan tekhnik yang sangat baik. Mengiris tomat, bawang dan mencampur adonan adalah pekerjaan utama saya sehari-hari di Nomoto….”
“Kau adalah pembuat roti yang handal, aku percaya!”
“Benar. Tapi bisakah kamu membayangkan seperti apa bentuk utuh dari selembar tomat ini?”
“Meadowri mencoba membayangkannya sambil merangkai satu persatu kata-kata yang sekiranya pas untuk mengatakannya.
Looke tak menunggu, membuang banyak waktu berlalu begitu saja.
“Ukurannya kira-kira sedikit lebih kecil dari hamburger yang ada di tanganmu itu!”
“Sebesar ini?”
“Coba kau kecilkan sedikit, gunakan imajinasimu untuk mereduksi ukurannya, bukan nilainya, arti pentingnya atau fungsinya, kau akan menemukan ukurannya yang pas, paling tidak ukurannya yang mendekati!”
Meadowri meletakkan hamburger di atas meja, dan dengan tangannya dia membeknuk sebuah lingkaran, sebuah kepalan.
“Kira-kira sebesar ini?”
“Ya, benar. Tapi bisa juga lebih kecil sedikit lagi!”
“Seperti ini? Balas Meadowri sambil mengecilkan sedikit lingkarannya.
“Ya, sebesar itu, tapi juga bisa lebih besar.”
Meadowri mengerti maksudnya.
“Seperti ini yang kau maksud khan?” dia memmperbesar kepalannya dua kali lebih kecil dari pengecilannya.
“Kira-kira seperti itu!” jawab looke. Dia puas.
Dia mengambil kemabli Hamburgernya dari atas meja dan menunjukkannya ke hadapan Looke.
“Sebesar inilah ukurannya yang paling mendekati, sialan!” jawab Meadowri dengan ketus dan sebel lalu menggigit tepian hamburger seukuran dengan lebar gigitannya yang maksimal yang dapat dia lakukan.
“Kurangi sedikit dari yang baru saja kau gigit itu!”
Itulah ukurannya yang paling bijaksana!”
“Yep! Rasanya?”
“Jangan kau bertanya!”
“Kunya Hamburgernya perlahan-lahan, Nona. Dengan mulut terkatup, biarkan tekanan gigitan dan kunyahan menghembuskan udara ke hidungmu. Dari situ kau akan dapat merasakan aroma kelezatannya. Setelah kau menelannya, kelezatannya pun habis. Hanya kenangan dan memori kelezatannya saja yang tertinggal, yang akan menghantuimu untuk senantiasa datang kembali ke sini setiap kali kau punya waktu dan uang yang cukup. Bayang-bayang imajiner kelezatannya itu, kira-kira sama adiktifnya dengan alkohol di Carlsbeer atau nikotin di setiap batang rokok dan tembakau. Maaf nona, ini adalah rahasia,
di kehidupan seksual saya, lidah sangat membantu, jelas, tidak hanya di dapur Nomoto.
Meadowri tersentak terkejut mendengarnya. Dia merinding, bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya berkidik, dalam sekejab birahi yang meledak telah menguasainya….
“Apa?”
Dia berteriak, separuh histeris, menggema ke seluh ruangan restoran itu. Orang-orang melirik ke arahnya, tidak ketinggalan Foster, Kline dan kru.
“Aku khan sudah minta maaf sebelumnya!”
“Bodoh!”
“Mau minta di cut tidak?”
“Jangan, bodoh!” jawabnya cepat, birahi seperti zat adiktif di tubuhnya mencoba menguasai pikirannya dan kehendaknya, dia menggeliat karena sensasi yang tertahan.

Naskah sebuah novel: Chapter nine.

Juli 11, 2009
Chapter nine.



Looke yang muncul paling belakangan dari semua teman kencan Meadowri. Sudah beberapa hari ini dia masuk sif pagi. Sepanjang sore itu hingga malam akan diadakan pengambilan gambar di studio rekaman dan pengambilan suara untuk sesi unplug dalam beberapa hari ke depan. Mereka akan mengambil bagian, bernyanyi bersama dengan Meadowri dalam sebuah lagu.

Sebuah kamera mengikuti langkahnya. Seharian dia berada di Nomoto mengambil profil pekerjaan Looke. Sekarang dia nampak bergegas keluar dari sana, dari pintu belakang, melompat ke atas bus kota yang akan membawanya ke sebuah Plaza.

Semua gambar yang telah diambil sepanjang hari hingga sore itu  dan dalam beberapa waktu ke depan akan diedit ulang, dicompose dan dirangkaikan kembali dengan gambar yang telah diperoleh dari kencan-kencan Meadowri yang lain hari itu dengan latar belakang dan cerita yang berbeda lalu, siap untuk ditangkan di episode berikutnya.

Periode pendahuluan kencan Meadowri yang terdiri dari beberapa episode telah ditayangkan. Drama telah dimulai beberapa hari lalu, mereka sudah berada di separuh perjalanan, dan penonton-penonton yang emosional telah memilih, menentukan pilihan siapa yang akan tereliminasi di episode berikutnya.

Dia telah sampai di plaza.

Looke cepat menemui Foster yang membaur di anatara para kru. Looke tersenyum ke arah Meadowri, dia cantik dan anggun, dan sangat berkelas dengan——————–di tubuhnya.

Thema malam ini adalah sesuatu yang dramatis dari situasi yang berkembang tidak menyengkan, keduanya akan memanikan karakter yang sama, sebagai pribadi dari sebuah kencan protagonis yang tidak menyengkan, yang memuakkan dan membosankan.

Meadowri mendahuluinya memasuki Wendy’s restoran. Tidak banyak restoran Wendy’s di Jakarta, jadi cukup muda untuk menebak dimana mereka berada, mencarinya, kalau tidak di sana, berarti di suatu tempat, di sini.

Dia memesan minuman ringan untuknya.

Tak lama kemudian looke muncul, nampak kusut, semrawut dan tergesa-gesa. Ini akan menjadi kencan yang buruk.

“Maaf, aku terlambat, cantik!”

“Meadowri melirik jam tanganya___________.

“Tidak masalah. Aku juga tiba belum seberapa lama!”

“Bagaimana kabarmu hari ini?”

Looke bertanya sambil membaca dari atas ke bawah, satu persatu menu yang ditawarkan restoran tersebut.

“Baik saja!” Meadowri menjawanya datar. Lalui beranjak sedikit dari kursinya untuk memperbaiki letak roknya.

Tak seberapa lama, pesanan khusus mereka datang, pelayan mulai mengaturnya di atas meja.

Looke mulai dengan sepiring salad yang segar, dalam piring yang besar, mereka berbagi. Dia mengambil sekaleng bir dari tasnya dan membukanya. Seperti kehausan, dalam sekali tegukan, sekejap mata, bir satu kaleng itu habis.

Dia bersendewa dengan kera.

Meadowri tersentak dia merinding mendengarnya.

Lalu mengambil bir yang kedua.

“Mau?”

“Tidak, kamu saja!”

“Masih ada beberapa kaleng di tasku, tidak mengapa!”

“Kali ini tidak, Looke. Sekali lagi, kau saja!”

“Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya.

“Baik-baik saja. Tak ada yang istimewa.

Dia berhenti sejenak, seperti sedang memikirkan dan menimbang suatu hal.

“Sebenarnya kurang baik! Aku ada sedikit masalah tadi sore di Nomoto.”

“Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri, Looke. Seperti apa masalahmu?”

“Bos memarahiku!”

“Mengapa?”

“Karena menumpahkan minuman ke gaun seorang tamu, VIP. Sebenarnya aku tidak sengaja!”

Looke meneguk sedikit bir.

“Dia sering marah, sebagaimana semua bos di dunia, kai tahu khan seperti apa, semua karyawan pernah mengalaminya, tapi sore tadi dia sangat lain dari biasanya. Dia benar-benar marah, dia murka!”

“Terkadang sesorang mendapatkan masalah di lain tempat, menahannya selama beberapa saat lalu kemudian menumpahkannya di tempat lain. Mungkin seperti itulah yang terjadi!”

“Kau benar, tapi untuk kali ini, aku menyadari bos layak marah sebesar dan sehebat itu. Apa yang aku rasakan saat ini ada sisa-sia, residu, dan gambaran asaan marah dan kesal pada diriku sendiri, mengapa sampai aku melakukannya, melakukn kecerobohan tersebut?”

“Seberapa fatal kesalahanmu? Itu hanya tumpahan, sedikit khan?”

“Kau bayangkan saja, segelas jus ukuran jumbo tumpah di atas gaun yang mahal, menciprati jas seorang teman pria di sampingnya. Mereka jelas harus membeli yang baru!”

Kaleng yang kedua baru saja habis. Dia memencetnya hingga sepipih mungkin lalu memasukkannya kedalam tas. Dari sana dia mengambil yang baru, alalu membukanya.

“Plook!”

Meadowri tersentak kaget, dia terkejut tak menduganya sama sekali!

Lalu…

“Cus…….!” buih-buih busa bis yang terkocok lama menyembul hingga membasahi tangannya, tumpah kebalik meja.

Looke tersenyum, seolah itu biasa, lupakan saja, jangan dipikirkan. Wajahnya mulai nampak memerah. Dia menjilat permukaan kaleng yang dipenuhi oleh bir lalu menggigit sedikit Beef Burgernya.

“Kau pernah Mengalami yang seperti itu?”

“Mabuk maksudmu?”

“Bukan, tapi dimarahi!”

Meadowri terpekur, seolah berpikir mencari kepingan kenangan yang demikian itu yang mungkin tersembunyi di benaknya dalam memorinya. Hanya ada melodi yang harmonis, nada-nada yang menyenangkan hati, menangkan jiwa dan lagu yang terdengar merdu, club yang menyenangkan dan pentas fashion show yang gemerlap. Hidupnya yang luar biasa berjalan biasa sebagaimana yang biasanya, seharusnya dan sewajarnya, dimana semuanya berjalan baik-baik saja. Dia sangat mencintai keluarganya yang damai dan harmonis, kemarahan yang meledak, memuncak dan berada diluar akl sehat tak pernah terjadi, dia belum pernah mengalaminya.

“Seingatku tidak pernah. Kalaupun ada, akulah yang melakukannya, seperti bosmu itu!”

“Staf manajemenmu?”

“Iya!”

“Pernah ada yang kabur tidak?”

“Tidak!” ungkap Meadowri dengan tegas.

Lanjutnya, “Kau merencakannya?”

“Akh tidak, tentu saja. Tapi entahlah juga. Mungkin juga sudah saatnya, sudah waktunya saya mulai berpikir yang lain tentang tempat dan pekerjaan yang lain. Yang mana yang baiknya saja nanti!”

Kemarin pagi, bos Nomoto datang lebih pagi. Restoran telah dibuka, semua karyawan telah berada pada posisinya dan menjalankan tugas dan pekerjaan mereka masing-masing. Namun Looke tidak ada di sana. Dia muncul setelah setengah hari jam kerja berlalu.

Seorang karyawan masuk setengah hari? Peristiwa tersebut barui pertama kalinya terjadi di Nomoto. Looke adalah karyawan senior adalah pertimbagannya. Bos tidak senang, dia memendamnya hingga malam berganti pagi hingga Looke membuat kesalahan yang lain, kesalahan yang terbaru darinya. Jika hal tersebut tidak dibereskan, boleh jadi akan menjadi preseden yang buruk, contoh yang tidak baik dan pantas untuk karyawan-karyawan lain, yang sederajat dengannya atau yang lebih mudah.

Ternyata bos Nomoto tidak perlu memendam terlampau lama perasaannya. Dengan cepat, hanya selang beberapa jam, sehari, Looke telah membantunya memberinya peluang terbuka yang dia harapkan dan tunggu-tunggu, yang menghantui tidurnya, menjadi mimpi buruknya, yaitu peluang untuk mengungkapkan perasaannya, kemarahannya kepada yang bersangkutan, kepada Looke.

Itulah yang kemudian terjadi.

“Aku punya cerita lain! Katanya memecah keheningan.

Looke meneguk sedikit Carlsbeer lalu mempermainkan kaleng yang masih berisi setengah bir di tangannya. Dia menarik nafash panjang, menghembuskannya perlahan dan beraturan, dia nampak serius, aliran darahnya mengalir deras ke seluruh tubuh, ini sehat, dari denyutan jantung yang sehat. Jika dia tidak lagi berdetak normal, tidak mau lagi berdetak kencang sekalipun anda telah meneguk setengah krak bir, tidak mampu lagi memompa darah ke seluruh tubuh anda dengan normal sebagaimana ritme detakannya, itu tandanya jantung anda tidak lagi sehat, anda dan jantung anda sudah sakit. Jika dia telah berhenti berdetak, itu tandanya anda telah mati, cerita hidup anda telah berakhir. Jika dia terlampau kencang, itu tandanya anda sedang ketakutan.

“Seperti apa?” tanya Meadowri, menunjukkan keseriusannya. Dia berharap dapat mendengar lebih banyak dari Looke, tentang luapan perasaannya, keresahannya, kemarahannya segala kekecewaan dan kebahagiaan dalam pergumulan hidupnya. Ini adalah waktunya, saat-saat yang singkat dengannya, yang sangat berharga baginya. Setelah episode ini berakhir, mereka akan kembali ke kehidupannya masing-masing dengan segala macam urusan, kesenangan, keluh-kesahnya sendiri-sendiri. Di derajat tertentu dari kedalaman bathin mereka, Meadowri ataupun Looke tidak mungkin menutupi dan mengingkari bahwa sedikit cinta telah tersemaikan dalam kedalaman jiwa mereka. Namun pada derajat yang sama, mereka sadar, seberapapun tingginya bibit cinta itu tersemaikan dan bertumbuh, mereka tidak akan pernah menjalaninya.

Cinta mereka adalah cinta yang tersemaikan dan tumbuh di balik kamera, silau lamopu sorot aneka warna, make up dan manuskrip skenario. Ini adalah pertunjukan, drama mereka, tentang cinta.

Looke melanjutkan, memulai ceritanya….

“Ada dua orang, yang berkenalan di internet mengikat janji untuk saling bertemu. Setelah waku, hari dan tempat ditentukan dan disepakati bersama, tibalah saatnya bagi mereka untuk melakukannya, mereka bertemu. Keduanya sangat terkejut. Sambil menikmati Pizza pan di Domino’s, yang seorang berkata, mengungkapkan perasaannya kepada kenalannya itu:

“Tadi malam saya menonton fashion show di Fashion TV, menampilkan desin-desain karya Stephene Rolland, saat baru dimulai dengan kemunculan seorang Pragawati yang kemudian diikuti oleh Pragawati lainnya, saya sama sekali tida mengetahui seperti apa rupa Stephene, sang Designer. Begitu semua Model selesai memperagakan semua hasil rancangansang Designer, dari belakang panggung muncul Stephene Rolland, sang designer itu tentunya dengan langkah sedikit melompat ke balik panggung lalu berjalan memberi salam dan sebuah kecupan ke arah penonton. Saya terkejut, bukan dengan lompatannya, tapi ternyata dia adalah seorang Designer laki-laki. Saya pikir perempuan. Belakangan saya sadar, namanya ternyata berakhiran e, bukan I, jadi sesuai dengan ejaan namanya, dia memang adalah seorang laki-laki. Sebenarnya saya menduga dan berharap kamu adalah perempuan!”

“Saya bisa menjadi perempuan untukmu. Kalau kau menginginkannya dan memerlukannya!” jawab kenalannya itu bersemangat.

“Tidak. Jangan. Terimakasih!” jawabnya.

Get it back!

Juli 9, 2009

Heidi kecil melangkah keluar dari Oshkosh. Tangan kirinya menggelantung di balik cenkeraman ibunya yang erat. Mereka tidak membeli apapun, hanya melihat beberepa barang dan keluar. Beberapa langkah kecil meninggalkan Oshkosh, Heidi kecil mulai mempermainkan sebuah barang, itu mainan. Ibunya terkejut.
“Heidi, dimana kamu mendapatkannya?”
“Didalam, Ibu!”
“Ayo kembalikan!”
“Itu adalah barang yang dijual. Untuk memilikinya, Heidi harus membayarnya!”
“Lakukanlah itu Ibu, tolonglah!” sambung Heidi kecil cepat, seolah-olah ingin berkata;
“Ibu, dompetnya khan ada di tanganmu, bagaimana ini?”
Heidi tak perduli, apakah ada perbedaan antara mengambil dan membeli. Dia hanyalah seorang anak kecil yang suka bermain. Jika sebuah mainan berada di tangannya, itu adalah miliknya, itu adalah mainan kepunyaannya, tidak perduli dia mengambilnya dari kotak bermain di kamarnya, mendapatkannya di jalan ataukah mengambilnya dari rak mainan di Oshkosh. Jika sebuah dompet ada di tangannya, itu adalah dompet miliknya, seberapapun uang yang ada di sana, itu adalah miliknya, dia bebas membelanjakannya, apapun, dimanapun, dia akan melakukannya.
“Tapi kenyataannya, dompet tersebut ada di tangan Ibu!”
“Ibunya berusaha membujuk, tapi dia berkeras. Dia bertahan. Dia fokus pada permainan dan pendiriannya, itu adalah mainan miliknya, yang ada di tangannya. Itulah yang dia ketahui.
Siapakah yang benar dan salah di sini?
Heidi kecil ataukah Ibunya? Ataukah memang di tangan siapapun dompet tambun itu berada, itu adalah dompet yang tidak berisi apapun, selain dari sebuah dompet yang untuk sekedar dipegang-pegang.
Ini adalah sebuah cerita yang saya rangkai kembali sebagai sebuah komentar naratif yang utuh atau sebuah foto dari Popsugar yang ketika itu saya beri komentar seadanya. Sebenarnya, dari foto tersebut dan tentu saja banyak foto lainnya di sanaadalah foto-foto dimana anda, siapapun anda, berpeluang untuk membuat beragam narasi dengan latar belakang imajinasi dan sudut pandang yang saling berbeda satu dengan yang lain, sesuka anda, cerita macam mana yang anda sukai dan yang bisa anda buat. Dan, cerita naratif yang saya buat ini tentu saja tidaklagh serta merta dapat diakatakan sebagai terjemahan sahih atas bahasa gambar yang ada di balik foto tersebut.
Atau, bahkan boleh jadi foto tersebut sebenarnya adalah sebuah foto yang tidak bermakna apapun, tidak memiliki kandungan pesan simbolik apapun selain sebuah foto semata. Jadi, dengan kata lain, tangan sayalah yang terlampau gatal, dan imajinasi sayalah yang keliru.
“Heidi kecil, oh my baby, kenapa kau lakukan itu?”
“Apakah permainan kecil ini akan menyiksamu, Ibu?”
“Ibunya terdioam, melirik ke balik Oshkosh lewat hamparan kaca tembus pandang, seorang pelayan perempuan berdiri di balik rak-rak mainan dan pakaian anak-anak, memandang ke arah mereka berdua, dan tersenyum.
“Dia adalah Heidi kecil, adik kecilku!” ungkapnya dalam hati.
Heidi kecil, entah dia ada dimana bersama ibunya saat itu, saat ini, tapi ketahuilah bahwa beberapa tuluh tahun ke depan, Heidi kecil yang terkenal keras kepala itu, yang mengendalikan keluarga dan lingkungannya dengan kemampuannya memadukan sikap keras kepala seorang anak kecil dan kemampuannya untuk mempertahankan keyakinan dan hemat pemikirannya, hemat pemikiran yang sederhana seorang Heidi kecil, seorang anak kecil, akan tumbuh besar dan dewasa menjadi Heidi besar yang memang besar dengan tangan dan belakang kepalan tangan yang dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol membuatnya nampak keras, kian seksi dan menggairahkan, sebuah tangan dan belakang kepalan yang serupa dengan milik saya.
Entahlah, sebenarnya tangan Heidi besar, Heidi Klum yang serupa dengan tangan saya, ataukah sebaliknya, milik saya yang nampak serupa dengannya.
Heidi kecil yang cantik dan periang itu di saat dewasa kelak, dia akan nampak seksi seperti Sienna Miller di Popsugar. Beberapa jam setelah melihat foto di taman dan di pantai itu, saya masuk kekamar, dan tentu saja onani bukanlah dosa. Saya melakukannya sambil menghayalkan mereka berdua.
Akhir kata dari saya, don’t blame your doughter if you lose your diamond!

Naskah sebuah Novel: Chapter eight.

Juli 8, 2009

Chapter eight.


Looke, Pearl dan Sam  muncul di Senayan, siang menjelang sore ini, memilih salah satu jalan memanjang yang sepih mengarah ke stadion Bung Karno, untuk mulai melakukan kegiatan rutin mereka, berolah raga. Halaman terbuka  yang lebar yang mengitari stadion tersebut adalah jalan yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berolah raga dan bersantai.
Looke melakukan pemanasan seperlunya, lalu mulai berlari sari ujung ke ujung. Setelah itu bermain bola dengan kedua anaknya, lalu joging lagi.
Telpon berdering di atas tikar kain yang terhampar di tanh. Diatasnya beberapa bungkus snak, air mnireal dan minuman ringan.
Looke berusaha mengatur nafashnya agar dapat berbicara dengan baik di ponsel. Namun tidak secepat itu, diapun tidak menunggu.
“Kamu lagi ‘ngapain?”
“Lagi berolah raga, maaf nafash saya agak berat!”
“Dimana?”
“Senayan. Saya mendengar suara mobil, ibu lagi nyetir, ya?”
“Betul!”
“Kemana?”
“Mau shopping, ada beberapa keperluan kecil di rumah yang harus saya beli!”
“Di Senayan, kamu ada di sebelah mana?”
“Pintu masuk sebelah Timur.”
“Masih lama khan?”
“Baru mulai!”
“Kalau begitu aku akan mampir!”
“Belanjaan ibu bagaimana?”
“Nanti saja, itu tidak jadi masalah!”
“Baiklah!”
Ibu Venity Parker mempercepat laju mobilnya, meliuk dengan gesit di anatar kepadatan lalu-lintas Jakarta. Kecepatannya bertambah dua kali lipat, dia sungguh nampak tak sabar lagi, dia berharap dapat secepatnya tiba di sana. Seperti seorang yang sedang birahi berat dia menyetir mobilnya, mencoba menepis semua halangan dan rintangan tak berrarti apapun baginya, menyenggol tipis ke kanan lalu tipis ke kiri, dia ingin cepat menyelesaikannya, dia tidak perduli banyak hal yang mungjkin saja dia lewatkan. Dia sedang birahi.
Akhirnya dia sampai juga.
Jika dia adalah orang yang sedang bercinta, dia adalah pecinta yang bertipikal penuh semangat, yang terburu-buru, yang keluar dengan cepat, tidur lebih cepat, dan bangunnya paling belakangan.
Dia tiba dengan cepat.
Dia seorang penegmudi yang gila!
“Ini Pearl dan Sam!” Looke memperkenalkan kedua anaknya.
“Ini Tante Venity Parker. Temannya Papa!”
mereka bersalaman.
“panggil saja tante veni, papa memanggil tante seperti itu, bukan begitu, Looke?”
“Yep!”
“Tante cantik!”
“Iya, cantik!”
“Papa punya banyak teman perempuan cantik, seperti Tante!”
“Sam punya foto-fotonya, banyak sekali!”
“Ditempel sama papa di dinding, semuanya! Katanya teman-teman spesial!”
“Entah maksudnya apa!?”
“Foto Tante Veni ada tidak?”
“Sam?”
“Belum!”
“Benar, belum ada, Tante!”
“Looke, bagaimana ini?”
“Masih ada di tas papa, belum sempat ditempel!”
“Nanti minta foto Tante Veni sama Papa. Lalu Pearl dan Sam tempel di dinding, ya!”
“Pa…?”
“Nanti Papa kasih!”
Dia menyeringai ke arah Miss Veni.
“Pearl dan Sam, temani Tante Veni ‘ngobrol, ya. Papa joging dulu, sebentar saja!”
Cepat Miss Venity akrab dengan Pearl dan Sam. Mereka duduk di tanah yang berlapis kain  kotak-kotak mirip taplak meja itu, mulai bercerita, berbagi makanan dan minuman. Sesekali Miss Veni mencuri pandang yang dalam pada tubuh slim Looke, sambil berujar dalam hati..
“God…, wish me luck!”
Potongan yang sungguh tidak menarik dan sensual, tidak punya daya tarik seksual yang mampu meledakkan libido dalam sekejap mata dalam sekalipandang saja, karena itu tentu saja, sama sekali tidak marketable untuk dikomersialkan. Jika tidak sedang syahwat berat, perempuan yang punya banyak pilihan dan alternatif tentu saja akan berpikir dua kali lipat untuk membayarnya, untuk kenikhmatan dan kesenangan dengannya, sesuatu yang sifatnya untung-untungan, seperti sebuah percintaan yang dimulai dengan semangat yang menggebu-gebu namun berakhir di ujung alat-alat bantu, vibrator.
Namun Miss Venity sangat menyukai tubuhnya, dia menyukai gayanya, bagaimana dia mengapresiasikan kebutuhan sama seperti yang dia khayalkan. Dia memiliki kehidupan kelas atas yang sangat menarik, dia ingin membaginya dengan Looke. Jelas bahwa dia bukanlah seorang perempuan yang sedang krisi penghargaan. Kadang-kadang apresiasi yang diberikan oleh seseorang yang menerima sesuatu yang dia butuhkan, yang tidak dimiliki dan tidak dapat dimilikinya dengan mudah berbeda sama sekali dengan memberi kepada seseorang yang telah memiliki. Entahlah saya dapat menjelaskan maksud saya dengan baik atau tidak tapi tentu saja anda tidak akan merasakan apresiasi apapun yang dapat menguncang dan menggetarkan perasaan anda, arti pentingnya diri danda dan segala pemberian anda jika anda berderma kepada seorang pemilik bank. Pemberian anda tidak akan membuatnya bertambah kaya sedikitpun dan tidak pula menyentuh persoalan apapun dalam hidupnya. Derma anda seperti segenggam garam yang ditaburkan ke laut, untuk menggaraminya, mengasinkannya.
Veni Parker adalah seorang Ibu paruh baya yang sangat menarik di kelasnya, kulitnya jauh lebih lembut dan bersih dari kulit anaknya yang remaja, gayanya casual dan mampu bersosialisasi dengan cepat di lingkungan seperti apapun. Dia adalah seorang perempuan yang akan dengan mudah membuat anda jatuh cinta dengan sangat bersemangat, seperti Heidy Klum, sekali anda mengenalnya, anda tidak akan melupakannya seumur hidup. Hal-hal hebat dan menarik dalam hidupnya tidak pernah berhenti berputar. Mungkin inilah saatnya untuk menyenangkanmu, memuaskan dan membahagiakanmu.
Let me to entertain you!
“Rotinya Tante!”
Pearl memecah keheningan dengan memecah roti dalam beberapa bagian dan memberi bagian yang lebih kecil kepada Venity Parker.
“Terimakasih, Pearl! Sebenarnya Tante mengharapkan yang sedikit lebih besar!”
“Itu cukup khan, Tante?” Pearl, memaksa, namun…
“Papa menyuruh kami agar tidak pelit, pada siapapun, terlebih dengan Tante yang cantik!”
“Tidak pemarah dan tidak sombong!” sambung Sam.
“Agar kami selalu diingat dan dikenang sebagai anak-anak yang baik dan menyenangkan!”
“Karena Papa akan membawa kami terbang, pergi sangat jauh!”
“Untuk selamanya khan, Sam?”
“Benar, kata Papa demikian!”
“Maksud kalian?”
“Papa sering berkata….”
“Seperti burung-burung, yang terbang tinggi di atas itu Pearl….”
Mereka mendongak mencari tahu apa yang dikatakan oleh Sam, lalu melanjutkan.
“Ya, seperti kata papa, kami ini seperti seekor burung dengan sayap-sayapnya yang terluka. Kami sedang menunggunya sembuh kembali. Itu adalah harapan terbesar kami dalam hidup ini. Kesembuhan adalah kemerdakaan terbesar kami, kami akan berjuang. Kalau itu sudah terjadi, kami akan terbang, terbang sejauh mungkin! Lalu papa bertanya kepada Pearl…: Kamu mau kemana? Jawab Pearl: berkeliling dunia dan ke Disney world. Kau Sam menjawabnya apa?” ungkap Pearl dengan bersemangat.
“Ke Disneyland dan berkeliling dunia!”
“Kami akan berkeliling dunia dengan Papa, Tante!”
“Katanya tidak lama lagi! Seperti banyaknya perempuan-perempuan cantik di dunia, wonderland juga banyak di dunia, dan kami akan mengunjungi semuanya!”
“Tante mau ikut, boleh tidak yah?”
Emosi Venity Parker terhanyut dengan ungkapan Pearl dan Sam yang begitu bersemangat, nampak bersungguh-sungguh, seperti semuanya akan menjadi kenyataan.
“Boleh tidak ya sama Papa? Sam?”
Keduanya mengangkat bahunya.
“Entahlah! Lanjut Pearl.
Looke telah selesai dengan pelemasan, dia menghampiri mereka bertiga, lalu menyuruh Pearl dan Sam untuk bermain-main sejenak. Tidak lama lagi olah raga minggu sore itu akan berakhir. Looke membuka bajunya yang basah oleh keringat, lalu menyeka semua permuakaannya dengan sebotol air mineral kemudian melapnya dengan handuk hingga kering. Venity Parker memperhatikannya dengan seksama, dengan teliti, membuatnya geregetan, jantungnya berdetak kencang, pikirannya telah diselimuti oleh birahi. Dia sangat bernafsu dengan tubuh Looke.
“Ibu belum melihat semuanya khan?”
Ibu veni tersenyum manis. Dia birahi di tingkat tertingginya.
“Bagaimana menurut Ibu?”
“Luar biasa, aku syahwat Looke! Kau jangan menggodaku, aku bisa gila!”
“Looke pun demikian, Nyonya!”
“Ha…, ha.., ha…!” keduanya larut dalam derai tawa bahagia.
“Saya menduga, dalam beberapa waktu ke depan, kita berdua, Nyonya dan Saya, Looke, akan melewati masa-masa percintaan yang mendebarkan. Aku belum pernah mengalaminya, sebelum-sebelumnya Nyonya, tapi aku menduga akan demikian. Menurut Nyonya bagaimana?”
“Akupun demikian!”
“Ini akan menjadi sebuah proses dalam sebuah periode dan rentang waktu yang bagaimanapun akan sampai pada suatu masa dimana semuanya yang terlihat dan yang dikhayalkan, yang menghantui selama ini akan berubah menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja, dan kemudian diikuti oleh perasaan bosan yang akan membuat kita merubah persepsi, kebutuhan dan sudut pandang kita terhadap banyak hal!”
Venity Parker mengangguk, dia mengikuti dengan seksama, dia kerap mengalaminya, itulah kenyataan yang sebenarnya, Looke adalah citranya beberapa puluh tahun yang lalu!
“Periode tersebut akan terus menghantui kita berdua dan tidak ada kemungkinan lain yang dapat kita lakukan adalah untuk selain membuatnya menjadi pertemuan-pertemuan dan percintaan-percintaan yang hebat dan berkualitas….”
“Atau tidak sama sekali!”
“Itulah yang akan aku katakan! Terimakasih Nyonya,”
“Untuk membantumu menarik nafash sejenak!”
“Sekali lagi, terimakasih tas pengertiannya. Saya mungkin termasuk golongan segelintir species pria yang masih percaya dengan mitos G Spot yang entah dimana letaknya, benar ada atau tidak, titik klitoris yang mendebarkan jantung, titik syahwat pada wanita. Setahu saya, titik tersebut masih diselimuti oleh kabut misteri dan mitos. Bisa tidak Ibu membantu saya mengertinya, menemukannya dan menikhmatinya?”
“Kau boleh bermain, bermanuver dan berimprovisasi sesukamu di sana Looke, aku akan menunjukkannnya, mengajarimu dan membantumu. Aku akan mempermudah usahamu, sepuasmu sayang!”
“Untuk percintaan yang hebat, di antara kita, sepakat Nyonya!”
“Hanya untuk kita berdua!”
“Kalau bgitu, barang telah terjual habis!”
Dia melirik sekilas pada pearl dan Sam , lalu dengan cepat dia mencuri waktu yang sangat sempit dan singkat, dia mencium pipi Mis Venity Parker.
Veity Parker telah menunggu, dia telah siap untuk kejutan-kejutan yang mendebarkan, dengannya. Dia menikhmatinya.
“Ingat Looke, seperti katamu, aku telah membayarmu!”
“Ha.., ha.., ha..!”
Looke memanggil Pearl dan Sam, untuk berkemas.
Di telinga Looke Mis Venity berbisik….
“Aku akan menggunakan sedikit dari hargamu, malam ini, untuk berbelanja dengan mereka!”
“Dihitung saja!”
“Ayo anak-anak, cepat, kita akan shopping!”
“Shopping, Tante?” Pearl terkejut.
“Benar. Bagaimana Pearl, Sam?”
“Hore…, hore…..!”
Mereka melewati parkiran Timur, di depan Drive range mobil berputar ke kanan, dan menyusuri sepanjang jalan paralel tersebut. Plaza Senayan di depan mata, lampu-lampunya yang semarak terlihat dengan jelas dari kejahuan.
“Saya ada ide untuk menerbitkan cerpen-cerpen kamu dalam bentuk buku dan menjadikannya sebagai bonus terbitan. Bagaimana menurutmu, Looke?”
“Sudah lama saya mengharapkannya. Saya rasa ide tersebut akan berjalan dengan baik!”
“Cerpen-cerpenmu layak untuk dibaca, secara meluas. Apakah masih ada edisi yang terlewatkan olehku?”
“Tidak, semuanya telah ada dalam bundelan tersebut. Semua cerpen yang pernah saya tulis selalu saya kirimkan ke sana!”
“Saya menunggu cerita yang terbaru darimu, Looke!”
“Beberapa ide cerita sebenarnya telah nampak di benakku, tapi saya belum ketemu jalannya, harus memulainya dari mana. Semoga saja dalam waktu dekat ini akan ketemu yang terbaik!”
“Saya berharap demikian!”
Mereka memasuki perempatan pertama dan yang terakhir. Itu satu-satunya yang ada di sana.
“Redaksi akan menghubungimu, secepatnya, untuk keperluan editing, setelah itu kontrak dan akhirnya adalah penerbitannya. Semuanya itu tidak akan rumit dan tidak akan memakan waktu yang lama. Kau ikuti saja!”
Venity Parker memperlambat laju mobilnya. Pos tiket parkir ada di depan, beberapa mobil di depan mereka.
“Di kamarmu, selain foto-foto perempuan-perempuan cantik, ada apa lagi?”
“Novel, ada tiga judul, tertarik membacanya?”
“Saya akan menghubungimu, kapan dan dimana kau harus menghantarkannya!”
Mereka saling bertatapan dan tersenyum, merka berdua tahu kemana arahnya dan berakhirnya semua itu.
“Saya berharap tidak melewatkan satu episodepun dari cerita-cerita seperti ini!”
“Episode yang hebat, tentang kita, semuanya, tentu saja aku akan sangat-sangat merindukanmu, Looke!”
“Kita saling menyayangi, kita akan selalu saling merindukan. Selalu….!”
“Tentu Looke!”
Mereka telah sampai.
Di Hero, mereka berbelanja semua kebutuhan untuk beberapa waktu kedepan, dan berpisah di sana.

*

Looke menyalakan Notebooknya. Sambil menunggu konesi internet, dia membuka satu keripik—————, sekaleng dari dua Henekken yang telah dia siapkan dan tentu saja keripik Tortilla, kesukaan mereka bertiga.
Pearl dan Sam telah tertidur. Mereka sangat letih.
Dia mulai dengan memberi komentar di facebook Maria Sharapova, Yuna Ito dan Drew Barymore. Tidak ketinggalan komentar atas beberapa foto fashion dan artis-artis Hollywood yang dipublikasikan di onsugar.
Terakhir dia membaca dan membalas satu persatu surat elektronik. Sebuah surat terbaru dan yang paling dia tunggu-tunggu dari seorang frenster yang dia kenal dari Facebook, seorang perempuan, dia tinggal di jantung New York, bekerja full time di sebuah butik fashion ternama dan memiliki reputasi, di sana. Seorang perempuan muda yang matang dan mapan dari sebuah kota besar dunia yang paling hidup, paling semarak dan paling glamour di dunia, yang sedikit lebih muda darinya. Dia mengirimkan beberapa salinan profil dirinya dan dokumen-dokumen penting lainnya yang menyiratkan dan menyatakan bahwa dia sanggup menjadi sponsor penuh untuk Looke dan kedua anaknya selama mereka berada di Amerika. Dokumen-dokumen tersebut sangat penting dalam proses pengajuan Visa berkunjung, masuk ke Amerika Serikat.
Namun mereka berdua memiliki rencana yang lain, yang jauh lebih matang dan serius di balik semua itu.
Sebuah agen penulis di Amerika yang akan menghubungkannya dengan penerbitan telah dia persiapkan oleh Jude, untuk dirinya. Dia tidak akan pergi untuk berlibur, sebagaimana yang diimpikan oleh Pearl dan Sam.
Dia pergi untuk kawin dengannya, dengan Jude.
Jude, dia adalah pintunya ke dunia!

2nd book FRRE ATTITUDE; Manifesto kehendak bebas orang-orang merdeka!

Juli 7, 2009

Dunia yang indah adalah dunia yang penuh dengan pernak-pernik yang hidup dan warna-warni yang harmonis. Dunia dimana kejujuran, ketulusan, cinta, kasih sayang, integritas dan kehormatan merupakan bahan-bahan ajaib pada kosmetik yang anda kenakan, yang akan membuat kepribadian dan bahkan kealpaan anda tampil menyenangkan dan begitu mengesankan.

Saya pernah mengalaminya dengan akhir yang menakjubkan. Jika anda pernah mendengarnya, saya yakin, anda tidak akan pernah dapat membayangkannya dengan benar bagaimana semua hal-hal dahsyat itu terjadi, bagaimana caranya saya melakukan dan menyelesaikannya, terlebih untuk menirunya. Ini hanya untuk mereka-mereka yang pernah ikut serta mengalaminya. Thanks for everythings!

Itu adalah sebuah ruang di cakrawala dunia, yang luas membentang di keempat penjuru mata angin, dari timur ke barat, utara ke selatan, sebuah dunia dimana engkau dapat menumpahkan semua kemarahan, keletihan, pedihan, segala kegetiran dan kebahagiaan dalam keharuan derai tangis  dan air mata tanpa perlu merasa malu terlebih merasa diri seorang pecundang. Suatu tempat, dimana anda dapat tertawa lepas dengan riang dan gembira, tanpa perlu merasa risih.

“Itulah kami di dunia kami, di kolam geometric Ping yang jenaka. Kalian dapat melihat dan menemukan keberadaan kami mulai dari etalase-etalase kosmetik di counter-counter Maybilline di New York, London, Shanghai, Ryadh, Dubai dan Tokyo, hingga ke botol-botol Cognag, Johnny Walker, 7 ‘UP dan Coca-cola di kota anda!”

“Bahan-bahan ajaib…,” sebagaimana ditulis oleh Jack Trout & Steve Rivkinadalah bahan-bahan yang tidak perlu di jelaskan.”

“Mengapa demikian?”

“Tuan, karena mereka memang ajaib!”

Seperti itulah kami, di dunia kami!

So, semoga hari-hari anda menyenangkan. Have a nice days!

HUMOR SPECIES 1

FREE ATTITUDE; Manifesto kehendak bebas orang-orang merdeka!

Oleh: Erich Tinggi, S.H.

Desain cover dan lay out oleh Erich Tinggi. Cover: Erich Tinggi.

Status: Belum terbit. Format ukuran asli: Kertas 70 gram, Lebar 9 cm, Tinggi 18 cm, Margin kiri-kanan 1cm, Margin atas-bawah 1.5cm. Tebal: Halaman depan + Kata pengantar I-XI + Isi 1-154 + Daftar pustaka + Tentang penulis + Cover belakang.

Tentang penulis: Lahir di; Makale Tana Toraja, Sulawesi Selatan 15 Mei 1975. Pendidikan; SD Kristen II Makale, Tana Toraja. SMP Strada Budi Luhur Bekasi. SMA KAPIN Jakarta Timur. Fakalutas Hukum UKI Jakarta. Riwayat lain; Aktif dalam pergerakan mahasiswa 1997-1999. Pemred Bulletin kampus “Reformasi” dan “Colloseum”. Sekjen Forum diskusi Mahasiswa (FORDIMA FH UKI). KP. Bakhti sosial FH UKI 1999 dan KP Seminar bertajuk; Reformasi: antara cita-cita dan realita. Pemred tabloid “Panji Demokrasi” th. 2003. Membuka kantor advokad partikelir th 2002-2005. Karya tulis: Kompilasi essay dan artikel th 1997-2005. Novel hukum: “Pengacara Pilihan” (Indie, Jakarta 2004). FREE ATTITUDE; Manifesto kehendak bebas orang-orang merdeka! (2008 Belum terbit).  AN OTOBIOGRAFI; Kami akan mengenangnya! (2009 Belum terbit).

Sisipan: 1)   Iklan maskara kosmetik Maybelline New York edisi 2007. Image sisipan adalah iklan Maskara Maybelline NY yang penggunaan dan penempatannya dalam buku ini belum dimintakan dan mendapatkan ijin dari pemilik hak cipta @ Maskara Maybelline New York 2007.

Hak cipta atas karya tulis ini dilindungi oleh undang-undang tentang hak atas kekayaan intelektual tentang hak cipta RI. Hak cipta @ Erich Tinggi, Washington DC, 2008. Segala keberatan dan kepentingan yang terkait dengan isi dari buku ini termasuk pula kritik, saran dan komentar dapat menemui atau menghubungi langsung saya di; Buisun 101 Makale, Tana Toraja Sul-Sel 91811 Tlp. 0423-22300. Blog/Email: erichbook@hotmail.com / erichbook@yahoo.com atau xches@ hotmail.com

Cover dan isi, sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis.

Beli yang asli, say no to piracy!

Againt plagiat!

Kata pengantar.

Apa perkataan Tuan Presiden, George Walker Bush, setelah tragedi 11 September? Ada yang ingat? Kira-kira tidak lebih kurang dari apa yang dilakukan oleh Osama, tuan Bin Laden saat itu.

Penuhi kantong anda dengan uang dan dompet anda dengan credit card, debit card ataupun aneka kartu diskon. Pilih menu teristimewa dari restoran-restoran terbaik. Jangan pernah keluar dari bar dalam keadaan tidak terhuyung-huyung dan terlihat sempoyongan, memalukan.

Jack Daniels rasanya tidak akan pernah menerima situasi demikian itu.

Dan, giring anak isteri serta kerabat keluarga anda agar memenuhi supermall-supermall, plaza dan swalayan. Biarkan mereka menenteng pulang sebanyak mungkin kantong belanjaan yang telah penuh dengan barang-barang belanjaan yang selama ini mereka inginkan Yang selama ini mereka idam-idamkan.

Intinya, “Pergilah berbelanja!”

Uangkapan yang sangat sederhana, tapi pikirkan hakekatnya, jangan tragedinya, niscaya anda akan menemukan kebenarannya. Soal tragedi, bukankah siapapun bisa mengalaminya, kapanpun, dimanapun. Di belakang meja di lantai teratas menara kembar Petronas, di jantung Kuala Lumpur hingga ke jalan-jalan yang padat di keramaian main street, di jalan-jalan utama New York.

“Bagaimana dengan tragedy tersebut tuan Presiden?”

“Biar kami yang mengurusnya. Kalian tentu mengerti  akan hal tersebut!”

“Jelas. Sebaiknya demikian!”

Sayangku.., ini hanyalah humor belaka. Semata-mata lelucon. Jadi, tertawalah sepuas-puasnya, selebar-lebarnya, tapi tolong, sebaiknya jangan membaca buku ini saat anda baru bangun pagi.

Beberapa jam lalu di NYJ Manhattan, dari kejahuan saya baru saya melihat seorang perempuan ekspatriat yang sangat cantik di tengah beberapa teman prianya. Dia sepertinya mencuri beberapa kedipan menggoda ke arahku. Dan, aromanya?

Sambil mencoba menjiwai kehadirannya, “…Hmmm..!” kataku sambil menutup mata, saat itu. Saya adalah pria multi orgasme yang letih, tapi Nona, tenang saja, tanganku ada di kepala.

Apakah masih ada yang menduga bahwa ada yang bernuansa politik di sini?

“Hei kawan.., pikiran-pikiranmu itu tempatnya di empang, mengapung-apung di permukaan air kolam yang keruh dan berbau tengik, yang merupakan santapan favourite gurame, dan menjadi rebutan moncong-moncong mujaer yang lezat!”

Masih juga memaksa-maksakan diri?

“Sepertinya mujaer, lele dan gurame di empang itu membutuhkan kawan baru untuk diajak berdiskusi politik, bersafari dan bah-kan berunjuk rasa!”

O ya, ‘Ren, ‘Tur, ‘Jes, ‘Pul, ‘Gus, ‘Mus, ‘Aam, ‘Suy, Oom sekeluarga, apakah ada yang mau ikut saya ke Manhattan?

Ya mata…![1]

Kwitang-Cikini, Jakarta

Mei-September 2007

Erich Tinggi.

Surat kepada seorang kawan.

Kawan, apa yang kau pikirkan dengan kedatangan saya yang mendadak dengan menenteng paket ini? Apakah itu tentang beberapa komitment dan kesepakatan-kesepakatan yang pernah dan telah kita buat di waktu-waktu yang lalu?

Jika hal-hal demikian itu memang pernah ada, pernah kita ikat sebelumnya, ada banyak cara dan parameter, tips dan trik untuk menguji kebenarannya, bahwa apakah hal-hal yang saya argumentasikan ada itu benar-benar memang pernah ada sebelumnya, adalah yaitu dengan melanggarnya. Pada beberapa kasus, reaksi dan respon yang timbul sebagai aksi reaktif terhadap pelanggaran bagaimanapun bentuknya dapat berbicara jauh lebih banyak dan efektif dari perkataan apapun, siapapun.

Jika keberadaan surat ini dapat kau pahami sebagai sebuah bentuk, manifesto pelanggaran, maka sikap tersebut dapat juga sekaligus berarti bahwa memang pernah ada kata sepakat sebelumnya, bahwa ada suatu hal yang penting dibalik persoalan tersebut.

Dalam beberapa waktu kedepan, saya akan mencoba menerbitkan buku kedua saya yang bertajuk: Humor species # 1 FREE ATTITUDE; Manifesto kehendak bebas orang-orang merdeka! Melalui surat ini saya ingin menyampaikan beberapa hal. Terminology manifesto kehendak bebas orang merdeka terinspirasi dari sebuah image salah satu produk eu de toilette yang ada dalam flayer/booklet produk kosmetik Oriflame.

Namun jika anda menginginkan pemahaman yang lebih dogmatis, philosofis tentang terminologi kehendak bebas orang-orang merdeka, anda dapat menemukan jawabannya, jiwa dan semangatnya, pada tiap rangkaian kata demi kata dalam seri theologia; John Calvin.

Jika anda dapat menemukan sudut pandangnya dengan benar, siapapun anda, saya percaya, niscaya anda akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang individu, seorang pribadi yang yang benar-benar bebas dan merdeka dalam pengertian yang sebenar-benarnya, yang memiliki integritas dan kehormatan, di muka bumi ini. Itulah yang akan menjadi kosmetik pada jiwa dan kelakuan anda.

Ditahun pertama saya di universitas, seorang teman memberikan buku-buku bacaan karya-karya Mutahari Muthadara.

Maksud saya; Kebenaran itu seperti udara, dia ada di mana-mana, anda dapat menemukannya, merasakannya dan mencicipi manfaatnya di kehidupan anda, dimanapun anda berada, di kehidupan ini!

Itu adalah persoalan lain. Berikutnya saya ingin menyampaikan pula harapan saya yang lain yaitu bahwa saya berharap kau berkenan membuat sebuah catatan untuk mengisi beberapa halaman kosong di buku tersebut, seperti sebuah kata pengantar kira-kira.

Sebagai seorang paralegal disebuah kantor Advokad ternama, saya yakin dan percaya bahwa kau telah melihat, mendengar, melakukan dan mengalami banyak hal. Oleh karena itu, saya berharap kau berkenan menuliskannya sedikit untuk saya di buku ini.

Lampiran surat ini merupakan contoh print out buku yang akan saya terbitkan, tolong baca dan kemudian selaraskan dengan panggilan jiwamu.

Seperti apakah tema tulisan dan cerita yang ingin kamu tulis, kau sebagaimana aku adalah orang-orang yang bebas dan merdeka. Kau bebas menulis apapun, seirama dengan lampiran surat ini atau tidak, itu tidak akan pernah menjadi persoalan.

Halaman-halaman ini merupakan sehamparan ruang kosong yang terbuka, kau dapat menulis, mengumpat dan atau bahkan bermanufer dengan cara yang paling dramatis tentang apapun di sana. Yang penting untuk kau ketahui bahwa, saya sama sekali tidak mengharapkan kritik ataupun saran dari kau, bagaimanapun bentuknya.

Kawan, saya sudah terlalu tua dan letih bergumul dengan semua hal itu.

Saya bukannya tidak punya uang, kebetulan saya mengantongi cukup banyak uang saat melangkahkan kaki menemuimu nanti. Tapi,  terus terang perut saya memang agak keroncongan karena sedikit lapar saat menghantarkan surat ini, saat melangkahkan kaki memasuki kantormu. Dan jelas sekali bahwa hal-hal semacam itu tidak akan pernah membuat siapapun menjadi kenyang, terlebih saya. Jadi jelas sudah bahwa saya sama sekali tidak berniat mendengar semua hal tetek bengek itu. Sekalipun gratis, saya tidak berniat membelinya.

Ok Bos?!

Demikianlah surat ini saya buat. Kawan, jika kau sempat membalas surat ini, tolong kirimkan ke portal e mailku di xches@ hotmail.com

Jangan terlalu pendek seperti karakter SMS, tapi jangan pula terlalu panjang.  It’s low budget project body..!

Hormat saya;

Erich Tinggi.

Buku ini khusus saya persembahakan dengan rasa cinta dan hormat yang terdalam untuk; Maria Bokko’, ibu saya yang telah melampaui banyak hal dalam hidup ini; Embi, kakak perempuan saya; dan kedua adik laki-laki saya, Amba. Untuk Melokun, dan Uut, dua generasi pemilik kehidupan dan masa depan mereka sendiri.

“O ya, Melokun, apa yang sedang kau pikirkan saat ini?”

“Kau jangan bergurau kak, apakah aku ini memiliki potongan layaknya seorang pemikir? Lebih baik aku menghabiskan waktuku untuk menonton dan bermain daripada melakukan perbuatan bodoh dan sia-sia itu Kak.”

“Baiklah. Tapi bagaimana tentang sekotak Krebipeti dari kedai tuan Kreb, kau juga tidak tertarik memikirkannya? Hamburger King Size ataukah sekotak Bento yang lezat? Bagaimana dengan lagu-lagu Jepang. Aku tahu kau suka sekali bernyanyi Kun.”

Stars Spangled Banner, lagu itu kak, aku sangat menyukainya!”

“Ok, untuk yang itu, saya percaya suatu waktu kelak kau akan melantunkannya jauh lebih merdu dari Whitney Houston, terlebih kakak.”

“Pastikan..!

“Lalu bagaimana dengan film-film kartun terbaru?

“..?…”

“Ataukah generasi baru film-film laga Hollywood yang heroik nan dramatis?”

“..?…”

”O ya Kun, si gaek flamboyan dari generasi kami telah muncul kembali di layar lebar dalam Rambo V. Kamu sudah nonton belum?”

“Belum kak. Tapi, John…, Rambo..? Senang rasanya mendengar nama itu. Kedengarannya seru.

“Tentu. Saya yakin kau akan sangat menyukainya.”

Dia tersenyum lebar sambil mengangguk, mengiakan, memberikan persetujuannya.

“Adik, Melokun, apapun semuanya itu, kami adalah anak-anak kecil yang nakal dan sangat berbahagia di seusiamu. Apakah sempat terlintas di pikiran kami tentang manifesto?

Tentang kehendak bebas ataukah tentang orang-orang merdeka? Terminologi apa lagi itu?

Bahkan sampai sekarangpun kami bahkan belum bisa mengeja dan mengucapkan semua kata-kata itu dengan dengan sempurna.

Namun bagaimanapun, kami senantiasa berharap bahwa semoga semangat masa kecil yang luar biasa serupa itu dapat kami teruskan dalam hidupmu, dalam melewati hari-harimu dan masa kecilmu. Kami akan melakukan dan memberikan yang terbaik Kun!”

“Lalu bagaimana dengan buku ini kak?”

“Akh.., lupakan! Lagipula saya sedang membuat edisi keduanya yang menurutku akan jauh lebih hebat.”

“Hore.., hore.., Kak Tinggi hebat! Hei, kau, Spongebob, tolong dengar, aku pesan krebipetinya ya!”

“Itu tentang sesuatu dari kedai Tuan Kreb bukan?”

“Tepat sekali, Krebipeti yang lezat, kau mengerti itu?”

“Kau dengar itu Sponge?”

“Positif! Aku mendengarnya dengan jelas sekali Melo. Tapi kapan?”

“Ukh.., sialan. Setelah menyiram kembang sebanyak ini kau masih sempat bertanya seperti itu? Tega sekali kau ini kepadaku Spongebob. Apa kau mau tunggu sampai aku tumbuh bunga? Kapan lagi, ya sekarang.., cepat kataku!”

“Ok Melo. Tapi apakah sekarang kau sendirian di sana, di duniamu?”

“Oh tidak, di sini aku punya mami, kak Amba dan kak Embi yang mencintaiku. Mereka sangat membanggakan. Juga, cukup banyak Frente di sini. Dan kau tahu tidak Spongebob, terkadang jumlah kami lebih banyak daripada makanan yang ada di atas meja. Apakah ini akan menjadi persoalan yang baru bagimu?”

“Oh.., tentu saja tidak Kun. Aku hanya ingin memastikan bahwa masih ada tempat untuk saya nanti di sana!”

“Kalau itu maumu Sponge, tunggu apa lagi, cepat kemari!”

“Baiklah Kun. Tapi tolong, jangan lupa membersihkan meja makanmu ya!”

“Baik Spongebob!”

Tak lama kemudian.

“Sialan, kak Tinggi kemana ya? Akh lupakan, Iput.., Brownie, Manis, Scoby, Doff.., kerjakan!

Selang tak seberapa lama setelah meja bersih di ujung lidah iput Scooby, manis dan yang lain. Sopngebob pun tiba.

“Melokun.., here we come. Tentunya fresh from the oven!”

“Hore.., hore.., Thank you very much Spongebob. Thanks God. God bless you Amerika!

Dimata kaki Manhattan Hotel yang mega, megah terlihat seorang lelaki Arab tulen yang flamboyan melompat sedikit lebih lembut dari gerakan Geroge. W. Bush dari sebuah Cherokee hitam metalik yang gagah dan mentereng, lalu langsung menyelinap ke balik kerumunan di pintu depan, tak lama kemudian dia kembali terlihat dan masuk ke NYJ Bar & lounge yang ada disana. Disebuah meja, pada salah satu pojoknya, nampak seorang ibu baru saja kedatangan dua orang tamu. Aira, gadis dewasa itu adalah putrinya, dia telah melalui beberapa hari yang menyenangkan, yang mengesankan dengan pria yang digandeng di sampingnya. Sekaranglah waktunya, tekadnya telah bulat untuk memperkenalkan kekasih barunya yang gagah nan tampan itu kepada ibunya.

“Ma.., ini Boy, saya sangat mengaguminya. Aira yakin dia akan menjadi seorang menantu yang tidak hanya akan mencintai saya, tapi juga menghormati Aira. Percayalah Ma, Boy adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan, Aira berharap Mama bisa juga menyukainya!” kata si gadis lembut dengan aneka pilihan kata yang hati-hati.

Sementara itu si ibu tak langsung menanggapi, mengumbar perasan dan penilaiannya. Dia terdiam, merenung sejenak, sambil menatap dalam pria di depannya melalui kedua bola matanya yang bening.

Lalu tak lama kemudian,

”Dapat di mana?”

Yang sangat mencirikan perbedaan antara mayat dan manusia adalah bahwa hanya satu dari antaranya yang benar-benar masih memerlukan uang, dan berpikir banyak tentang hal tersebut.

Jadi jika anda sudah merasa tua dan terlihat renta, dan bahkan nyaris tak berdaya oleh waktu.., percayalah kepada saya, gudang harta paman Gober tidak akan pernah penuh. Jangan berpikir panjang tentang hari esok. Anda bahkan tidak pernah dapat menebak dengan pasti apa yang akan terjadi dengan hidup anda dalam sejam kedepan.

Uang tidak akan pernah habis. Tuan dan Nyonya tidak akan pernah bisa membawa semua uang yang ada di depan mata kedalam kantong anda. Apa jadinya hidup jika semua orang kaya, orang-orang berduit bisa mendapatkan semua yang bisa mereka beli dengan uang? Hakekat hidup, bukan terletak pada kantong belanjaan, nilainya terletak pada apa yang tidak dapat mereka menangkan. Amerika memiliki Vietnam dan Irak sebagai guru sejarah yang hidup bagi kita semua khususnya bagi anak cucu yang akan lahir dari generasi-generasi mereka yang bahkan belum lahir bahwa, hidup adalah sebuah keseimbangan, harmoni. Hilang sedikit di sini, dapat banyak di sana. Hari ini anda kalah, besok anda menang besar. Amerika bukan tidak dapat memenangkan semua peperangan mereka!

Setidaknya setiap orang dapat belajar banyak dari sini.

Hei kawan, hakekakatnya, jatuh delapan kali berdiri tujuh kali. Burung hantu dalam cerita Ping memberi saran, jatuh tujuh kali berdiri delapan, ini berarti bahwa pemenang membawa pulang semua hadiah! Jika begini jadinya, anda bahkan tidak perlu ikut bertanding, itu semua hanyalah kelelahan yang tidak ada artinya. Bukan begitu?

Tidak tepat begitu! Jatuh tujuh kali atau delapan kali dan berdiri delapan kali atau tujuh kali hanyalah suatu kiasan, intinya, jalani apa yang ada di depan mata!

Dadu telah dilemparkan di atas meja Rolex yang bertepian zamrud, mengisyaratkan bahwa, waktu,  salah satu harta anda yang paling berharga karena sifatnya yang terbatas, terus berlalu detik demi detik, jam demi jam, sehari demi sehari di hadapan mata anda. Apakah anda pernah melihat jarun Rolex berputar melawan hukum alam? Apapun bisa terjadi dalam hidup siapapun, anda dan saya. Yang mungkin masih bisa kita lakukan adalah strategi againts the time, seni bersiasat mencaplok, mencuri waktu.

Denyut ekonomi individu, koporasi dan mikro bukanlah seni menciptakan uang, tapi seni mengolah sirkulasi dan pembelajaannya. Denyut ekonomi adalah seni perputaran uang. Hari ini uang masuk ke kantong anda dari tetangga sebelah kiri, beristirahat semalam di kantong anda hingga akhirnya besok, uang tersebut kembali harus berpindah ke tetangga anda yang lain, demikian seterusnya.

Pikirkan sekali lagi siasat mencaplok Time, jika anda dapat menemukan intinya, pada akhirnya anda akan sadar bahwa ternyata anda bahkan tidak berkapasitas menjadi seorang investor. Dan lebih daripada itu, hingga pada saatnya, anda mungkin akan sadar bahwa jika semuanya telah terlanjur dilakukan, ternyata semua keterlanjuran yang telah anda upayakan itu telah anda lakukan pada hal-hal yang salah dan mungkin merusak, hidup anda dan tidak tertutup kemungkinan orang lain. Bukan tidak mungkin, banyak hal yang telah salah kaprah, yang berada tidak pada tempatnya dalam cara anda memahami arti uang, membelanjakan uang anda, terlebih mendapatkannya.

Apapun yang anda miliki saat ini adalah sesuatu yang, semestinya, seharusnya berputar, untuk anda nikmati, untuk anda belanjakan.

Sekarang, masuk ke kamar, dan isi kantong anda dengan uang, dan pergilah berbelanja..!

Selamat berbelanja!

Akh.., aku tidak akan pernah merasa resah dan putus asa. Sedikitpun tidak!

Mungkin mimpi memang terlihat semakin menjauh, tapi percayalah aku bahkan bisa berlari lebih jauh, lebih cepat penuh bersemangat dan bahkan tiba lebih cepat.

Aku mungkin terlihat letih dan cadangan stamina yang kian terbatas, tapi itu mungkin karena aku telah mulai merangkak uzur. Saat ini, setidaknya aku masih cukup berdaya, mungkin ini semata hanyalah sebuah ketakutan dan kengerian menatap masa depan, dari balik hamparan bermil-mil tikar aspal yang berdebu dan berbatu.

Yang pasti, aku hanya perlu sedikit istirahat, sejenak, aku pikir itu cukup.

”Oh dunia..!” Bisik laki-laki itu dalam hati, pada dirinya sendiri, tidak kepada siapa-siapa, lalu menghembuskan perlahan-lahan asap Marllboro yang telah tertahan cukup lama di tenggorokannya, dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa.

Dia, ya.., dia tengah bermimpi tentang apa yang diharapkan dan dipirkannya dengan sangat serius sebagai sebuah lompatan jauh ke masa depan, berimigrasi ke Amerika. Setidaknya dia akan berkeliling dunia, dan membawa semua pesona dunia dalam pelukannya dengan pasport Amerika Serikat di tangannya.

Dia sangat membutuhkan pencerahan yang menyeluruh, pengalaman baru di dunia baru dengan orang-orang yang baru dengan semangat yang baru, pemulihan yang tuntas dan untuk semua hal tersebut dia menyebutnya sebagai sebuah bentuk revolusi orientasi yang total, yang meliputi semua apek kehidupan. Memposisikan segala upaya, daya, peluang dan kemungkinan pada tempat yang tepat, tempat yang seharusnya, di tempat yang baru.

It’s my life, inilah hidup saya yang sesungguhnya. Tokh, lagi pula aku telah cukup melakukan banyak hal dalam hidup, di sini!

”Aku tahu!”

”Namun..,”

Ini belum ada apa-apanya, dia masih ingin berbisik, berceloteh lebih banyak lagi pada dirinya sendiri, yaitu celoteh tentang dirinya. Lintingan tembakau generasi terbaru dari Marllboro yang ada di tangannya bahkan masih cukup untuk menaburi udara di sekeliling halte tempat dia menyandarkan sejengkal tubuhnya pada salah satu tiang tengah, di depan taman Menteng.

Apakah anda pernah mengalami pergu-mulan hidup yang sama? Karakter dan kemanusian anda tereduksi dan tercemarkan secara dangkal?

Guy kawaguchi memberi nasehat jitu; Tiup lilinmu dan pergi!

Lilin kehidupan saya telah saya tiup, saya siap untuk pergi kapan saja, kemana saja.

Sudah dekat.., Tak perduli masih seberapa jauh.., Dan kini tak ada lagi yang lain… ( Nothing else matter; Metallica)

Tapi kehadiran seorang perempuan di sampingnya seketika membuyarkan lamunan indahnya. Dia berdiri dua langkah di depannya, bergaya wanita modern yang cuek tapi masih sesekali terlihat mencuri beberapa lirikan penasaran kepada pria itu.

Setelah dua tiga kali lirikan malu mereka saling berpadu, dia akhirnya memberanikan diri bertanya;

”Sedang menunggu..?”

”Inspirasi..!” sela pria itu cepat sambil memperlihatkan beberapa gerakan-gerakan kikuk.

”Seorang perempuankah?” sambung perempuan itu bertanya menyuarakan rasa penasarannya dengan lembut, selembut aroma Bvlgari yang semerbak mewangi dari balik leher, tengkuk dan belakang telinganya.

Denny, pria itu tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tipis, beberapa kali.

”Kau dengar, cantikkah dia?” lanjut Kelly kian penasaran.

Terdengar Kelly yang lain, Kelly Clarksoon melantunkan Breakaway dari balik hearphone yang menggantung di bahu perempuan itu mengiringi gema Adzan Magrib dari sebuah Mesjid yang berada tidak jauh dari sana.

Hari telah merangkak cukup jauh meninggalkan senja menjemput datangnya sang malam. Gelap, gulita disana, jika saja tidak ada lampu-lampu penerangan jalan dan lampu taman.

Jawabnya; ”Akh.., cantik? Tidak!”

”Kau yakin?”

”Iulah yang sesungguhnya. Aku sedang menunggu malam. Dan anggur.., kamu tahu tidak, aku sangat merindukannya!”

”Hmm.., pemabuk lagi. Sialan!”  tanggap Kelly lirih, dalam.., di hatinya saja, sendiri.

Disebuah Seminar entrepreneurship dan Leadership, alkisah seorang pakar yang telah menjadi buah bibir di dunia tersebut terlihat sedang memberikan sebuah monolog pencerahan, dengan penuh semangat.

”Untuk sampai pada suatu tujuan, anda harus berani mengayunkan satu langkah pertama, sebuah awal dari sebuah proses yang panjang dan berkelanjutan menuju pada apa yang menjadi fokus, sasaran dan tujuan hidup anda.”

Lanjutnya, ” Seperti makan tiga sampai empat piring nasi, semuanya dimulai dari satu sendok pertama. Tid..!”

”Sir..,” seru seorang peserta, bule’, seorang ekspariat  memotong paparan sang pemapar dengan suara tegas melengking dalam dialek Indonesia yang fasih. Rasa kantuknya jelas terlihat di redup matanya, tapi lebih dari pada itu, ada sesuatu yang ingin di sampaikannya.

”Di pedalaman Papua, sebagian penduduk telah terbiasa makan nasi, jagung dan sagu dengan menggunakan tangan. Saya makan roti langsung dari…” tegas si bule sambil menggigit secuil tepian Big Mac yang dia beli di sebuah drive thru, langsung dari kertas pembungkusnya.

Perlahan-lahan dia lumat hamburger ukuran jumbo itu dalam mulutnya sambil sesekali memejamkan mata menikmatinya sebelum akhirnya menelannya dengan gerakan lembut hingga kenikmatannya hilang di ujung tenggorokan.

”DailyBread, sir!?” lanjutnya kembali sambil mengarahkan Bic Mac ditangannya dari kejahuan kepada bapak penceramah yang kontan membuat seisi ruangan meledak oleh derai tawa yang riuh.

Sebagai seorang penceramah yang telah melanglang buana kemana-mana, dia tak mau kalah set.

Tanggapnya cepat; ” Yang pertama, saya pernah ada disana. Dan yang terakhir, saya juga akan sampai ke sana!”

Si bule terdiam, tak ada tanggapan ataupun sanggahan, dia duduk kembali, meneruskan santap siangnya.

Sambil ersenyum sumringah.

”Sedaaaaap..!”

Produk ini mengandung; Sari crocodilelicktosis sinaum, Panax radixis lacoste, Iuodium seng, Venilalanin sitilysis Glamourkonat, Mononatrium omassesulfam, Funiculicula fractus, Aspartambullshitologistik dll.

Apabila anda bertemu dengan produk dengan daftar komposisi yang terbuka seperti itu, ini artinya;

”Uang masih ada di kantong anda. Beli atau tidak, pilihan ada di tangan anda. Semuanya terserah anda!”

Jika produk yang anda temui ternyata mengatakan yang sebaliknya, itu berarti;

”Apakah anda mengerti istilah-istilah kimiawi tersebut? Apakah ada yang berarti dan berpengaruh langsung bagi anda? Jika ya…, mungkin sebaiknya anda berpikir kembali untuk tidak membelinya. Percayalah, produk tersebut tidak mengandung apa-apa.”

”Hmm…”

Di salah satu kursi tunggu stasiun kereta api, di Gambir, nampak terlihat seorang pria dan wanita tengah menunggu datangnya kereta yang akan mereka tumpangi, waktu yang terluang di selah-selah kesibukan pekerjaan mereka yang super padat, mereka gunakan untuk memperkenalkan diri satu dengan yang lain.

Hingga akhirnya mereka sampai pada percakapan ini;

”Sudah di sunat belum?” si perempuan bertanya ingin tahu lebih dalam lagi.

”Bagaimana kalau kamu memastikannya sendiri. Dia mungkin dapat berbicara lebih banyak dari pada saya!” ajak si pria menantang memberikan solusi.

”Boleh?”

”Dengan senang hati. Silahkan!” tegas Bill, nama pria itu sambil tengok kiri-kanan. Setelah merasa yakin dengan situasinya, perlahan dia melepaskan gesper Dunhill yang membalut stelan Kent yang dikenakannya, membuka kancing dan sletingnya membuat sebuah rongga yang kecil namun masih cukup jelas bagi siapapun untuk melihat isinya dengan jelas, dari dekat, terlebih perempuan itu.

Santi, perempuan itu menggeser pantatnya yang montok dan padat berisi sedikit lebih menempel pada Bill lalu mencondongkan bahunya tanpa keraguan mendekati objek yang ingin dilihatnya, tak seberapa lama kemudian tiba-tiba dia berteriak;

Bazaar..!”[2] pekik Santi dengan suara agak tertahan separuh histeris, girang dan bahagia yang menggema hingga ke ujung terowongan stasiun.

Bill yang tak siap terlebih menduga situasi tersebut sebelumnya, dengan cepat dan gesit membetulkan kembali pakaiannya.

”Bagaimana, sudah di sunat belum?” tanya Bill kemudian.

”Akh.., persetan Bill. Itu tidak penting lagi bagi saya!” jawab Santi dengan manisnya sambil melempar senyum sumringah ke arah Bill. Pikiranya menerawang jauh, sangat jauh pada malam-malam yang akan segera dia lalui bersama Bill dalam beberapa jam, hari, bulan bahkan tahun ke depan.

”Apa yang akan terjadi kemudian?”

Who’s care!

”Selamat malam?!” tanya suara seorang laki-laki dari bilik sebuah telepon umum.

”Selamat malam..,” Jawab  dari ujung sana setelah dering yang panjang. Tapi cepat pria itu memotongnya tak membuang banyak waktu.

”Bisa bicara dengan nona Nani?”

Jawaban yang dia terima dari ujung sana;

”Saat ini saya sedang tidak ada di rumah. Silahkan tinggalkan pesan anda setelah bunyi beep berikut ini. Sa..,”

”Dasar perempuan sialan, tidak ada ruginya khan memberi jawaban yang lain?!” keluh laki-laki itu sambil membanting dengan keras gagang telpon ke tempatnya semula.

”Braaaak..!” bunyi gagang telepon yang dihempaskan dengan keras dan kasar.

Dia adalah pria kelas menengah dari sebuah kota metropolitan, yang sedang jatuh cinta, berat!

Sekiranya, segala sesuatunya berjalan dengan baik hari itu, tumpukan koin-koin di tangannya setidaknya cukup untuk mengobati sedikit kerinduannya untuk beberapa saat ke depan.

Dia melemparkan puntung rokok kretek Sampoerna ditangannya kemudian meraup kembali ceceran koin-koin  dari atas bak telephon dengan gerakan yang senewen lalu membalikkan badannya hendak pergi dari sana.

Tapi baru beberapa langkah kakinya terayun dengan langkah yang berat, dia berhenti sejenak sambil berpaling ke arah deretan antrian di depannya, lalu katanya;

”Saya tidak tahu masih harus kehilangan berapa koin lagi. You see… saya baru saja kehilangan satu.”

”Satu?” tanya salah serorang dari mereka.

”Ya.., satu! seharusnya tak seorangpun pernah menemukan alat sialan itu..!”

Apa yang paling berharga dalam hidup anda? Banyak jawaban dari beragam orang yang berbeda. Namun saya berharap saya menemukan ”waktu” pada salah satu jawaban anda.

Mengapa?

Bukankah memang sudah seharusnya demikian!?

Ada sementara orang beranggapan bahwa untuk apa anda memiliki beragam-ragam hal dengan segala kemegahan, kemewahan dan kementerengannya jika anda tidak punya waktu untuk menikmatinya!? Apa artinya portofolio, surat-surat berharga, uang dan bunga jika anda tidak punya waktu yang terluang untuk sekedar memetik setangkai bunga, menguangkannya lalu membelanjakannya?

Anda telah bekerja keras, membeli waktu untuk mengumpulkan semuanya, seharusnya ada waktu untuk menikmatinya.

Jika kemudian ternyata orang lainlah yang menikmatinya untuk anda, jangan pernah berpikir bahwa saya akan memandang persoalan tersebut sebagai pemenuhan prasarat tanggung jawab sosial anda.

Tidak ada alat pembayaran yang cukup bernilai untuk membeli waktu, sekalipun dengan tunai. Dalam kenyataannya, tidak ada seorangpun yang dapat membeli waktu, dengan kekayaan terlebih kemiskinan!

Anggapan anda?

Iput mungkin makan menu yang sama lezaatnya dengan yang masuk ke mulut tuannya, tapi tidak sepiring!

Seorang Hollygan’s, pelancong muda dari Inggris baru saja tiba di Jakarta. Tapi belum sehari, dia telah tersesat setidaknya 3x dari tiga orang yang berbeda.

Entah bagaimana jalan ceritanya, setelah berjalan, berkeliling kesana-kemari selama berjam-jam, tanpa disadarinya, dia telah kembali ketempat semula, tempat dimana dia tersesat untuk yang pertama kalinya.

Matahari tinggal bayang-bayang membentuk selimut senja yang tipis membentang di cakrawala luas yang membentang dari utara ke selatan, timur ke barat.

Tak lama lagi sore akan berganti malam. Adzan Magribpun mulai menggema di seluruh pelosok Jakarta, berbaur dengan deru kendaran yang meraung-raung dalam kemacetan dan kepadatan lalu lintas Jakarta.

Dengan sisa-sisa kesabarannya, dia lalu mulai mengumpulkan siasat. Tak lama, dia kembali terlihat mengayunkan langkah kakinya mendekati Gandy’s, Steak House & Bakery yang tak jauh dari sana.

Dengan penuh percaya diri, dia memasuki Steak House itu, lalu mulai memperhatikan aneka roti beragam rasa, aroma dan kelezatan yang terpajang di dalam sebuah etalase kaca berbentuk siku.

Aroma khas Salem yang kental masih membau kental di T shirtnya yang kumal oleh keringat. Dari lantai dua terdengar lagu Who’ll stop the rain dari CCR dilantunkan dengan cukup bagus oleh sebuah band live. Tinggal beberapa bait lagu itu memasuki refrein yang pertama.

Dari jarak beberapa langkah seorang pelayan wanita mengamati pergerakannya dengan cermat sambil sesekali melempar senyum.

”Kelihatannya enak. Aromanya…, saya cukup berselera. Bagaimana?” tanya turis itu membuka percakapan sambil lirik sana-sini, ke seluruh pojok etalase roti..

”Sebelumnya pernah kesini?”

”Tidak ini yang pertama!”

”Silahkan pilih menu roti mana yang tuan suka.”

”Ada banyak pilihan di sini!”

”Seperti yang ada di depan mata tuan!”

”Aha..?”

”Saya percaya tuan akan kembali lagi kesini tidak hanya untuk roti yang sama sama, tapi juga untuk yang lainnya!”

”Begitu?”

”Selamat berbelanja tuan!”

Si Hollygan’s tak langsung menyambung percakapan. Dia terdiam sejenak sambil mengamati dengan seksama sebuah roti berbentuk konde yang ditaburi oleh butiran-butiran kismis di atas sebuah nampan yang cukup menarik perhatiannya, setelah itu dia kembali melayangkan pandangannya kepada pelayan itu.

”O ya, ngomong-ngomong, nona tahu tidak letaknya hotel Nikko itu ada di mana?”

”Tidak jauh dari sini, tuan!” jawab pelayan dengan bahasa Inggris yang cukup fasih.

Lanjutnya;

”Diluar, Tuan cukup berjalan kaki 5 menit ke arah kiri sampai bertemu dengan sebuah perempatan. Dari situ, tuan belok ke kiri,  tidak sampai sepuluh menit tuan akan bertemu dengan perempatan kedua. Hotel Nikko berada kira-kira seratus meter ke kanan dari trafict light di depan. Tuan bisa mengerti maksud saya?”

”Dengan sangat baik. Nona, terimahkasih!” jawab si bule’ sambil meraih dengan sekuat tenaga ransel travel bagnya dari lantai lalu menghempaskannya ke balik punggungnya.

”Tidak jadi membeli roti tuan?” tanya si pelayan penasaran. Mendengar pertanyaan itu, si Hollygan’s menghentikan langkahnya yang telah terayun 2-3 langkah.

”Oh..ya..saya mengerti. Saya pasti akan membeli banyak roti, nanti. Tapi nona.., dan hotel Nikko..? Jelas saya harus menemukannya terlebih dahulu. Thank you!” jawab menjelaskan posisinya lalu kembali melanjutkan langkahnya. Si pelayan terus memperhatikan si bule dengan tatapan tak percaya dengan pengalaman yang baru dia alami hingga bule’ itu menghilang di balik pintu.

…He know i’am wonder.., still i’am wonder.., who’ll stop the rain…!

Dalam sebuah antrian disebuah butik BreadTalk, di jantung Jakarta, seorang pria dewasa dengan rona wajah yang mempesona terlihat nampak gelisah. Penyebabnya adalah rasa kesepian yang dalam yang kian menggerogoti hari-harinya, dan seorang ibu yang tengah menggendong seorang balita dalam kekapannya, persis di depannya. Dengan memberanikan diri;

”Cantik sekali! Saya percaya dia akan tumbuh menjadi gadis dewasa yang menawan seperti ibunya!” Ungkap Parmin, pria itu mulai menggoda.

”Terima kasih!” jawab si ibu dengan suara serak yang menggoda sambil melempar selembar senyumnya yang paling menawan. Dia merasa telah sepenuhnya menebar pesona pada orang yang tepat!

”Dan juga montok!”

”Bagaimana dengan Ibunya?”

”Saya membayangkan California cake, ibu!”

”Ya..?”

”Ibu tahau khan perpaduan rasa dan butiran-butiran kismis yang menonjol di atas permukaannya benar-benar membuat saya berselera. Itu membuat saya mengkhayalkan banyak tentang ibu!”

Si ibu mengangguk-angguk kecil. Hasratnya mendesir mengisi semua ruang kosong dalam dirinya, dalam hidupnya. Jelas.., dia sudah tergoda!

”Begitu? Tapi ada perbedaan sedikit. Anda bisa melihatnya?”

Parmin menjawab dengan gerakan naik kedua bahunya.

Artinya kira-kira, ” Saya dengarkan!”

”Namanya Ell, kalau anda tak bisa lagi menahan rasa gemas anda, anda bisa mencobanya, sedikit, seperti ini!” lanjut si ibu menguraikan maksudnya sambil memperagakan sebuah cubitan yang lembut dan mesra di bokong Ell. Dia mendadak melonjak-lonjak riang dalam pelukan ibunya yang masih menyimpan beberapa perkataan.

”Tapi anda jangan pernah berpikir akan dapat melakukannya di sini! Anda tidak mau melihat saya berteriak dan bahkan mungkin menampar anda, bukan?”

”…Ya.., ya.., saya mengerti!” Jawab Parmin pendek lalu cepat membuang pandangannya ke arah yang berbeda dengan arah pandang si Ibu. Wajahnya yang putih berseri berubah memerah, pucat dan pasi dalam sekejab.

Dia menarik sehelai lenso berwarna biru langit dari sakunya lalu menyeka beberapa butir keringat yang mendadak muncul di kening dan hidungnya. Yang ada di benaknya saat itu hanyalah Roti!

Ya.., California Cake dan semacamnya itu, dan bagaimana caranya agar dia dapat keluar dari tempat itu secepatnya bersama rotinya dan melupakan ibu itu, untuk selamanya.

Namun dengan tatapan yang manis ke arah Parmin, ” Yang tadi hanya guyon, lelucon. Jangan terlau kamu pikirkan!” lanjut si ibu berupaya menenangkan keresahan Parmin

Parmin mengangguk dengan gerakan ragu ke arah si ibu, tanda bahwa dia mengerti.

”Kamu tahu…, kadang-kadang seseorang sepertinya harus sedikit bersikap bodoh, banyak hal bisa terjadi dari situasi demikian itu. Kebodohan.., ya.., serangkaian kebodohan-kebodohan di waktu yang tepat…, dan kamu tahu, saya tidak akan melewatkannya!

”Ya..!”

”Kamu yakin tidak ingin mencobanya?”

Parmin tersenyum sumringah.

”Kamu mengerti?”

Parmin terdiam  terpaku, pikiran pen-deknya melayang, menerawang jauh!

Entah tentang apa.

Gebyar.., gebyuur, promosi mengejutkan. Rejeki minum kopi miliaran rupiah jika anda beruntung.

Sederhana, beli kopinya, temukan sticker hologram berhadiah dan dapatkan hadiah langsung uang tunai total puluhan juta rupiah, atau satu bungkus untuk produk sejenis.

Demikian bunyi promosi berhadiah pada bungkus salah satu produk kopi instant ukuran sachet. Saya adalah salah seorang konsumen setia produk kopi tersebut, jauh-jauh hari bahkan sebelum semarak promosinya dimulai setahun yang lalu.

Terkait dengan hal tersebut, sampai dengan hari ini setidaknya saya telah menda-patkan 5x hadiah untuk produk sejenis dan 3x untuk uang tunai masing-masing sebesar Rp. 1000,-. Promosi itu sendiri masih akan berlangsung hingga 1.5 tahun ke depan. Menimbang hadiah yang telah saya peroleh, setidaknya promosi tersebut tidak menipu.

Anda menginginkan hadiah yang lebih besar dari yang telah saya peroleh? Masih banyak hal bisa terjadi di tahun yang tersisa!

Sekarang saya akan coba mengajak anda sekalian untuk belajar berhitung dan berandai-andai. Dengan berpedoman pada rasio dan prosentase keberuntungan yang telah saya peroleh dengan frekwensi minum kopi saya minimum 3 sachet perhari selama setahun berjalan, maka jika saya mengharapkan peluang mendapatkan hadiah bernilai total puluhan juta rupiah, di periode waktu yang tersisa, masih berapa cangkir kopi lagikah yang harus saya minum?

13 adalah angka dadu, angka mistis. Peluang apapun bisa terjadi di angka ini. Jika anda cukup yakin dengan keberuntungan anda, jangan sungkan-sungkan, lemparkan segera dadu anda. Selanjutnya, jika Dewi Kwan Im mengibaskan selendang sutra birunya ke tangan anda, untuk sekedar memperoleh hadiah miliaran rupiah, anda bahkan tidak perlu minum kopi 3x sehari selama bertahun-tahun. Anda hanya perlu membeli satu sachet selama masa periode promosi masih berjalan. Setelah periode tersebut berlalu, percayalah kepada saya, anda akan sering-sering menemukan kemasan kopi yang berhologram.

”Tapi keberuntungan siapapun tidak lagi berarti!”

Penasaran? Jangan buang banyak waktu. Bergegaslah ke toko yang terdekat dari tempat dimana anda berada saat ini. Beli produk kopinya. Jika anda menemukan hologramnya, cepat…, tukarkan keberuntungan anda. Anda akan pulang ke rumah dengan keberuntungan besar, kantong kosong yang telah terisi penuh.

Bila tidak, tokh anda masih bisa menik-mati kopinya! Dengan rokok dan penganan yang pas, niscaya, pusat perhatian anda tidak akan lagi tersangkut di persoalan ”hadiah miliaran rupiah” tersebut.

Akhir kata, tidak pandang berbulu atau tidak, warnanya merah kuning atau hijau, miskin atau kaya, pria, wanita ataukah priawan, siapapun, setiap orang punya keberuntungannya sendiri. Ini hanyalah persoalan besar dan kecilnya. Persoalan persoalan kualitas dan peluang. Semua itu hanyalah persoalan waktu sekarang, besok atau lusa. Mungkin, anda hanya belum cukup berkapasitas untuk membeli keberuntungan, di hari ini.

Tidak ada yang pernah tahu dengan ada apa dengan hari esok. Dengan perkataan lain, tik.., tik.., tik…, surat cinta di ketik rapih, cantik ngak cantik, sangat penting bagi setiap orang untuk memiliki kekasih! paling tidak pernah memiliki!

Gembar-gembor iming-iming berhadiah timbul dan tenggelam, datang dan pergi, adalah pernak-pernik yang menghiasi hidup kita, tapi siapa yang benar-benar pernah mendapatnya?

…Where i’am gonna take it? What i’am gonna take it? Whom i’am gonna take it any more..?

Hadia pertama saya berasal dari sebuah gebyar undian berhadia ketika saya masih duduk di bangku Sekolah dasar. Sebuah termos air yang menawan dari undian berhadiah Chiki snack!

Bukan bohongan. Sungguh!

Apa yang anda lakukan saat ini? Tak salah lagi anda tengah membaca kompilasi humor ini. Terimakasih.., anda telah membelinya!

Coba anda tengok sekali lagi sekeliling anda, baju warna apa yang mereka, orang-orang disekeliling anda kenakan. Apa pikiran dan penilaian anda terhadap warna-warna tersebut? Tidak perlu melihat dan menilai orangnya, itu sama sekali tidak penting bagi anda, apakah anda suka atau tidak dengan mereka, mereka tergolong orang-orang penting ataukah bukan siapa-siapa, yang penting adalah warna baju yang dia kenakan. Ini bisa jadi berarti sangat banyak.

Warna merah berarti; Anda jangan macam-macam! Anda bisa membayangkan wujud serigala?  Dia bisa buas di mana saja, di hutan belantara ataukah di alam liar berukuran beberapa meter persegi, dikamar anda, di tepian ranjang anda. Di toko roti atau di kebun binatang.

Kuning berarti; Lihat-lihat dulu. Apakah grafik emosinya memungkinkankan bagi anda untuk mendekat. Yang pasti, dia adalah pribadi yang sangat terbuka untuk orang-orang yang tepat! Dia berkarakter kuda, anda bisa menungganginya kapan saja. Hanya saja anda perlu belajar sedikit bagaimana mengendalikan kekangnya.

Hijau berarti; Jangan buang-buang waktu.

”Cepaaat…, bawa saya pergi dari sini!” Tipe ini berkarakter keledai, anda bisa menyuruhnya melakukan apa saja.

Bagaimana jika dia memakai ketiga warna itu sekaligus?

Hal itu  berarti bahwa; Ini tidak berarti apa-apa. No woman, no cry!

Maksudnya?

”Tidak berarti apa-apa. Itu saja!”

”Ya…seperti itulah!”

Lou terdiam, tepukau, terpana menatap penasaran dompet pink  UC’o Benetton di tangannya. Dia melirik sekilas ke salah satu gedung yang ada dalam kav WTC Sudirman di seberang jalan, tempat dimana dia menemukannya. Tak lama kemudian tangannya mulai menggerayangi dompet itu. Satu persatu isinya berhamburan keluar.

Ada setumpuk uang rupiah, sederatan kartu kredit dan debit card Citibank, Amro, BCA, Amex dan beberapa bank lokal, sebuah passport Indonesia, beberapa kartu nama, dan kartu nama pemiliknya sendiri.

Seperti kata pepatah, keberuntungan dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja, tak terkecuali bagi Lou.

Dompet tebal itu dia temukan dalam lift yang menghantarnya turun dari lantai 25, sehabis menghantarkan dua kotak pizza, dari Pizza Hut.

Siapapun pemiliknya, isi dompetnya sudah cukup menjelaskan siapa diri pemiliknya, kemakmurannya dan bonafiditasnya.

Lou merapihkan kembali isi dompet itu masing-masing ke tempatnya semula, lalu menepoknya ke bibirnya yang kering;

“Cuuuppp!” setelah itu dia berdiri setengah tegak dari anak tangga no 2 pada jembatan penyeberangan tempat dia terdu-duk, memasukkan dompet itu kedalam kantongnya lalu dari kantong jeans Levi’s straussnya yang lain dia mengeluarkan sebuah Motorolla, pionir, dari seri lama. Tak lama kemudian ibu jarinya telah mulai menari, menuliskan beberapa kata, pesannya;

“Selamat…! Hari ini, kamu mendapatkan lagi seorang peggemar rahasia yang baru. Itulah sebabnya, tidaklah terlalu penting bagi kita saat ini untuk saling mengenal lebih dekat.

Menurutku itu terlalu cepat. Ini adalah momentum yang sangat baik untuk kita berdua. Saya berharap tidak berbuat gegabah, hingga akhirnya nanti terjerumus kedalam serangkaian kesalahan-kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ini adalah pesan saya yang pertama, dan saya berharap saya telah memulainya dengan cukup baik. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, jika semua ini dapat berlanjut dengan baik dan suatu waktu nanti akhirnya kita bisa saling mengenal satu sama lain, percayalah dialah orang yang pernah begitu mengagumi dan mencintai kamu.., demikianpun sampai sekarang! Lou. Percayalah, nama ini.., kamu akan sangat merindukannya!”

Tak selang beberapa lama, pesan balasan telah muncul di HPnya. Tertulis di sana;

“Saya merasa sangat tersanjung dengan perhatian kamu. Terima kasih telah berusaha sejauh itu. Saya rasa kamu telah berkeliling cukup jauh seharian ini tentunya.

Lou.., kamu capek bukan? Saya rasa, kita berdua sama-sama memerlukan sedikit istirahat siang. Bobo’-bobo’ siang. Kamu mengerti maksudku?”

“Ya!”

“Saat ini saya sedang berada di Le Meridien, lantai 7, kamar No. 334 tepat di depanmu. Kita tidak punya cukup banyak waktu. 3 menit perjalanan cukup khan? Oh ya, jangan sampai lupa lupa, dompetnya, itu punya saya. Cepat. Saya tunggu!”

“Baiklah. Tapi..? Akh sialaaan!”

John, dengan erat mencengkeram kedua telapak tangan Dear, berusaha menenangkannya. Bibirnya yang tipis semakin tak kuasa menggumbar lebih banyak rayuan lagi, akan tetapi semakin banyak rayuannya terlontar, semakin erat tanggannya mencengkeram dan sesekali mengelus-elus garis-garis nasib di telapak tangan Dear, semakin deras pula air mata Dear mengalir.

“Dear, sayang, berhentilah menangis. Hapuslah air mata kamu. Kesedihan belum tentu akan dapat menyelesaikan persoalan di a…”

“Baiklah John!” potong Dear sambil terisak-isak. Suaranya semakin serak dan basah. Lanjutnya kali ini dengan nada membentak;

“Tapi, pergi dulu dari sini. Cepaaaaat!”

(Nyalakan stereo set anda, putar lagu “Queen of my heart” dari “Take that”, dan mulailah membaca. Bila anda adalah seorang pria seperti saya, bayangkan karakter perempuan Maybelline Maskara, niscaya, anda akan menemukan jiwa cerita ini. Apabila anda adalah seorang perempuan, saya percaya anda punya cukup banyak teman laki-laki dan pria-pria idaman imajiner, untuk memulai banyak hal!)

Malam minggu yang panjang di salah satu pojok Blue Bombay yang setengah temaram oleh redup lampu pijar, duduk sepasang kekasih di antara sekian banyak pasangan-pasangan lain yang tengah menikmati makan malam.

Ketika nasib baik mulai berbicara, percayalah anda akan lebih banyak mendengar syair-syair kehidupan  mewarnai hari-hari anda. Anda mungkin akan menemukan, bertemu dengan serangkaian keajaiban atau keberuntungan-keberuntungan yang tidak pernah anda hayalkan dan pikirkan sebelumnya. Anda bukan tidak mungkin akan bertemu dengan seseorang yang akan memberikan cinta dengan segala pengalamannya yang menakjubkan, sebagaimana dirinya.

Dalam situasi seperti ini, jangan pernah berpikir dan bertimbang terlalu banyak.

Take the change!

Cicipi menu cinta yang tersaji diatas meja kehidupan anda dengan penuh selera dan pada akhirnya anda akan menyadari bahwa kedalaman dan kedahsyatan pengalamannya itu ternyata jauh lebih berharga daripada apa yang anda harapkan, pikirkan dan perhitungan secara matang, matematis dan astrologis tentang cinta, sebelumnya.

Bagaimanapun, cinta dimanapun, milik siapapun, memerlukan biaya-biaya dan pembiayaan-pembiayaan. Besar kecilnya, tergantung ditempat mana anda mengajak pasangan anda bersenang-senang, atau mungkin makan malam saat ini. Tapi tentu, anda berhak mereduksi prinsip ekonomi yang ketat itu, melonggarkannya sedikit, demi cinta, bagaimanampun itu semua uang anda. Saya tidak tahu apakah Citibank atau Standart Charterd akan menerima argumentasi ini terhadap tunggakan kartu kredit anda. Saya pikir, ini adalah persoalan anda sendiri.

Yang dapat saya katakan hanyalah bahwa apakah anda punya debit card Citibank, kredit card Amro? Kadang selembar kartu diskon bahkan lebih baik daripada setumpuk uang cash dalam dompet tapi menemukan diri anda tengah menyeruput semangkok Vietnemse Noodless dengan benak yang sibuk menghitung-hitung jumlah lembaran uang yang ada dalam dompet beserta lipatan-lipatan yang telah anda sembunyikan secara khusus untuk “acara-acara yang khusus.”

“Hei.., bukankah setiap orang berhak memilikinya?”

“Entahlah!”

Di Citibank.., anda tinggal gosok. Anda tidak perlu menyentuh uang yang telah berpindah ke 1001 tangan. Anda juga tidak perlu berpikir terlalu ekonomis dan dramatis tentang dua hal yang sama pentingnya pada saat yang bersamaan. Tokh anda bahkan tidak pernah memikirkan saldo atau tagihan terakhir anda bulan lalu. Persetan!

Berapa saldo terakhir debit dan credit card anda?

Itulah kekayaan real anda!

Cevy, menemukan Kuni, kurir magang di Fedex saat dia sedang menghantarkan paket untuk bosnya di lantai teratas Sona Topas. Dan malam ini, dia turun sangat jauh, berjalan hampir satu jam dengan mengendarai  Nissan Muranonya, ke Cikini. Setahu saya resto itu letaknya ada di sana.

Mereka masih ada di sana malam ini!

Menu pertama ludes.

Sajian menu kedua di piring Kuni hampir habis, tinggal beberapa sendok dan gigitan. Sambil mengaduk-aduk Yougart Lazy, di gelasnya, perempuan metro yang mapan, bergaya, mandiri dan wangi semerbak  itu bertanya;

“Bagaimana?” dia telah mengorbankan cukup banyak hal untuk satu malam ini. Dia ingin tahu lebih pribadi, bagaimana responnya. Hasilnya bahkan belum terpikirkan.

“Bravo.., bravo..! Seharusnya saya dapat beruntung jauh lebih baik tahun ini. Kamu lihat sendiri, aku bahkan hampir tidak dapat mengendalikan lidah saya. Saya belum pernah makan dan pusing seenak ini dalam satu tahun terakhir. Semua ini benar-benar berarti. Cevy…, kamu tahu, saat ini saya sangat-sangat bahagia!” jawab Kuni sambil mengarahkan jari telunjuknya yang masih mengapit sendok ke hidungnya yang sedikit memerah oleh beberapa sloki Martel.

Cevy, terdiam tak menampakkan reaksi yang dapat menggambarkan perasaannya dengan jelas, selain tarikan tipis di kedua ujung bibirnya yang melukiskan seremah senyum yang lebar di dasar jiwanya yang penuh dengan emosi yang siap meledak. Sorot matanya binar, berkaca dan binal sebinal hasratnya yang mulai menemukan tempatnya untuk berlabuh, entah kapan.

Dia kemudian menarik setarik nafash panjang  pelan dan diam untuk menutupi debaran jantung dan nadinya. Dia melihat gerakan-gerakan tangan, mulut, bibir dan lidah yang lapar di depannya. Benar-benar lapar untuk sepiring menu kambing ala Bombay.

Dia, Kuni tak salah lagi, dia jujur dan tulus, setidaknya untuk apa yang dia katakan mengenai perutnya. Dia adalah pribadi yang lapar, selalu lapar dan dia hanyalah seorang pria yang masih berada jauh di bawah garis menengah kelas-kelas sosial yang hanya mungkin dapat merasakan malam-malam seperti ini jika dia dapat bertemu dengan lebih banyak lagi perempuan-perempuan seperti Cevy.

Dia, Cevy, harapannya malam ini dapat dia lalui dengan nyaman dan lugu, sebagaimana apa adanya. Dia mungkin mulai berharap banyak dengan cinta saat ini, tapi akhirnya, jika ternyata dia hanya mendapatkan cukup, berapa yang telah dia keluarkan untuk selebihnya, dapatlah kita anggap sebagai wujud tanggung jawab sosialnya secara pribadi dalam bentuk yang tak lazim.

Tokh, lagipula, dia dapat mengkompensasikannya dengan kreativ sebagai angka-angka misterius yang wajar dalam laporan bulanan keuangan perusahaan. Dengan demikian, aspek tanggung jawab sosial korporat tempatnya bekerja  menjadi terpenuhi.

Dalam dunianya yang lain, di tempat lain pada malam-malam yang lain, kebahagian malam ini adalah kebahagiannya yang lain. Ini adalah sebuah pengalaman yang unik dari sesuatu yang tak biasa dia jumpai dan alami.

Dan sama seperti Kuni, perjaka rupawan (sebenarnya aku ragu), bergaya lama, laki-laki yang baru di kencaninya sejam yang lalu.

“Ups.., Good old Fashioned lover boy.”

The poor Vs the have, kisah-kisah percintaan yang sentimentil dan melakolik ala Bombay, air mata haru dalam film-film Bollywood yang dramatis, siapa yang berani bertaruh?”

Yang pasti bahwa, dia Cevy telah mulai memberi, mulai dengan sedikit, sedikit demi sedikit dan pada akhirnya, semuanya! Malam ini dia akan mulai mempertaruhkan semua isi dompetnya.

Itulah kata hatinya.

“Ini Mutton Rara Masala, saya sangat menyukainya. Menurutmu, kelihatannya bagaimana?” ujar Cevy menunjuk pada menu ketiga di piring ketiga, menu pilihannya untuk Kuni.

“Kamu jangan menggodaku lagi. Seperti keberuntunganku siang tadi, aku tidak akan melewatkan barang sesendokpun berlalu. Aku akan menjilat habis piring ini sampai tak tersedia remah-remah sedikitpun, bahkan sekedar untuk anjing sekalipun. O ya, cevy, kau lihat di sekitar sini ada anjing tidak?” jawab Kuni ringan.

Lanjutnya;

“Itu adalah makanan lezat yang lain, pada kesempatan yang lain. Ini rahasia kecil di antara kita, ok?!”

“..?…”

Cevy memincingkan kedua tepi dalam kelopak matanya hingga membentuk beberapa baris kerutan di keningnya.

Kuni melongok ke balik kolong meja. Setelah itu dia memberi isyarat ke arah Cevy dengan menggunakan kedua bahunya.

“Ha.., ha.., ha..!” Kuni dan Cevy.

detik berlalu berganti menit, didalam benaknya, Cevy mulai yakin, Kuni yang jenaka itu, niscaya, dia akan mampu menjadi seorang pencinta sejati untuk dirinya. Dari caranya menjilati saus di tepian permukaan piring tadi, Cevy percaya, Kuni adalah seorang gentlement, maskulin yang mampu melihat dan melakukan sex dari sudut pandang vagina, dengan sangat baik.

Dalam kasus ini, pengalaman merupakan guru yang terbaik. Setelah pikiran itu, Cevy kembali tersenyum, simpul, sambil membayangkan dirinya berada di dapurnya yang muktahir, yang modern, di The Peak, apartemennya yang eksotik, meramu masakan terbaik yang dapat dibuatnya untuk perut Kuni. Saya pernah punya mimpi yang sangat hebat dengan salah satu kamar di sana!

“Taurus..? Ya dia pria Taurus, dia Taurus.., tak salah lagi!” desis Cevy setengah sadar, pikirnya dalam hati.

Tapi Kuni mendengarnya dengan cukup baik, tak heran mendadak raut wajahnya berubah drastis, lebam dan merah padam.

“Sesuatu yang salah telah terjadi!?” pikir Cevy.

Dugaannya, Kuni jelas telah mendengar celotehnya, celoteh yang sama sekali tidak dia sadari dan tidak dia harapkan untuk didengar oleh Kuni. Perubahan mendadak itu terjadi karena Kuni salah menilai apa yang didengarnya.

Tiba-tiba bibir Kuni yang terkatup cukup lama, kembali mulai terlihat bergerak. Setengah menguap dia mengatakan,

“Sarah…” dengan ragu-ragu sambil mengetok-ngetok pelipis kanannya dengan telunjuk.

Sambung Cevy dengan cepat;

“Astrologi asmara..,”

“Holcombe!” lanjutnya tak membuang banyak waktu.

“Perempuanku.., Aishiteru! Cevy.., I love you! Realy-realy love you!” balas Kuni tak kalah spontannya lalu mencubiti kedua cembungan pipi Cevy, tipis, dengan gemasnya.

Cevy tertunduk, tersipu, malu, terharu, dan bahagia. Ya.., percayalah, dia sangat bahagia, di sana, malam itu!

“It’s real? Nyatakah semua ini? Ataukah aku hanya tengah bermimpi?”

“Tidak ini nyata. So real! Sangat nyata!” Kuni mencubit tipis lengannya.

“Kau merasakanya khan?”

“Ha.., ha.., ha..!” Kuni dan Cevy

Malam ini adalah miliknya. Moment ini adalah ceritanya. Dia tidak perlu menggosok kijang untuk mendapatkan dunia. Dunianya yang sejati telah ada di depannya. Dan yang pasti dia telah cukup banyak menggosok Kuni. Tanganya semakin gatal ingin menggosok lebih banyak bagian lagi.

Dalam keadaan seperti itu, tak ada yang dapat dia lakukan selain menangis dan tertawa, tertawa dan menangis, seperti perempuan Maybelline menatap dunianya yang cemerlang dengan penuh hasarat, cinta…., gairah!

Perempuan yang punya jiwa, roh dan bersemangat, sangat optimis dan percaya diri.  Dia melihat selembar coretan kehidupan yang penuh dengan penderitaan pada suatu sisi lain di kehidupan  yang terhampar di depannya, entah milik siapa.

Dia lalu meringis sambil menggigit lembut bibir  bagian dalamnya sembunyi-sembunyi, dan itu semua membuat kecantikannya menjadi sempurna, karena dia dapat melihat dan merasakan semuanya.

Penderitaan?

Akh kawan.., bukankah semua orang memilikinya!?

Perfecto, I love this Spot!

Mascara Volume Express Maybilline NY?

Saya tidak memakai kosmetik. Apakah anda sama sekali tidak tersentuh dengan kepolosan perempuan Maybilline?

Denyut jantung saya bahkan berdebar tak karuan saat pertama kali melihat iklannya di koran. Saya punya satu klippingnya, untuk saya sendiri. Kalau anda berkeinginan untuk berusaha mengenalnya, dia adalah perempuan di sampul depan buku ini, dan mudah untuk anda tebak, saya menggunakan tanpa ijin!

Volume..!?

Di TIKI JNE hal ini berarti bahwa paket-paket kiriman anda ditimbang dengan ukuran-ukuran yang berbeda. Harga tidak ada yang berubah, hanya saja, di jasa cargo manapun anda mengirim paket anda, anda harus membayar lebih mahal dan lebih banyak! Nilai terhadap volume paket kiriman anda dikali2kan. Anda mengerti banyak atau tidak akan persoalan hitung-hitungan tersebut, ini sama-sekali tidak menjadi urusan kami. Yang menjadi perhatian kami adalah jaminan bahwa paket kiriman anda akan tiba tepat waktu di tempat tujuan dengan tepat waktu dan utuh.

Jika anda berjalan-jalan ke Sarinah Plaza dan masuk dari pintu samping yang berhadapan dengan sehamparan pelataran parkir yang luas, begitu anda melewati pintu otomatik, anda akan langsung berhadapan dengan salah satu conter Maybilline, di sebelah kiri. Beberapa orang pramuniga perempuan akan melayani anda dengan sigap khas Maybilline.

Seperti apa itu?

Saya akan menjelaskan sedikit, dan untuk selebihnya tidak ada salahnya jika anda menyempatkan beberapa menit saja dari sekitar 14 jam produktif anda untuk melihat-lihat ke sana, untuk melihat yang lebih banyak dan mendalam dari pada yang dapat saya gambarkan di sini.

Namun jiwanya, semangatnya, merasuk sangat jauh di kedalaman sukma gadis-gadis dewasa yang akan anda temui tengah menawarkan aneka ragam kosmetik di conter-conter Maybelline yang dapat anda temukan di mana-manapun, di seluruh dunia.

Lihat pancaran wajah mereka kekuatan jiwanya memancar kuat dari sana. Sekuat image produknya di alis para wanita, para perempuan-perempuan yang mengerti arti pentingnya bersolek, memperindah dan membuat penampilannya nampak cantik, anggun dan memikat.

Bye the way.., dengan kata lain, siapapun pasangan bercinta anda saat ini, di ranjang manapun anda bergelut, berpeluh dan berkeluh kesah pada saat ini, tak seorangpun akan bertanya;

”Apakah anda ini adalah seorang yang cerdas, yang jenius ataukah seorang yang paling bodoh yang tersisa di muka bumi yang  pernah ditemuinya, yang tidak memiliki apapun dalam benaknya, yang otaknya kosong, yang tidak berisi apapun!”

Seni bercinta adalah hukum kekekalan yang sama sekali lain, yang berbeda sama sekali dalam konsepsi, dalam terminologis dan dalam penerapannya. Tidak ada seorangpun yang dapat membuat jurus-jurus bercinta, tips dan trik yang paling jitu, yang paling muktahir, yang lebih baik daripada menjalaninya. Setidaknya, setiap orang harus mengetahui dan mengerti hal ini.

”Maksudku, setidaknya cukup banyak orang yang setidaknya berpendapat sama dengan saya, dalam hal ini!”

Ini dari saya untuk anda, semuanya, salah satu rahasia saya yang terindah!

Dan jika anda pernah mengalami pengalaman seperti yang pernah saya alami, niscaya anda juga akan menoleh kembali ke belakang sesaat setelah berlalu dari hadapannya.

Ini benar dan penting.

Jangan harap kita akan bertemu dengan perempuan Maybilline seperti yang ada dalam iklannya, baik pada pamflet ataupun pada iklan massif dan terbuka di koran. Mereka, gadis-gadis Maybilline mungkin tidak akan secantik perempuan Maybilline (Maaf, kedua terminasi feminis ini sebenarnya tidak terlalu berarti apa-apa, semua ini hanyalah persoalan permainan dan penempatan kata dalam kalimat, soho, dapat anda temui di salah satu sudut pada salah satu halaman dari kamus Nihonggo, bahasa Nippon).

Namun inilah kenyataannya,

”Disinilah kami bekerja, menyambung hidup, di counter Maybilline yang menawan. Tapi di sini, anda tidak perlu terlalu cantik menawan dan anggun semempesona mungkin untuk mendapatkan peran, sesuatu yang biasa saja dan tidak muluk-muluk dalam hidup ini.., untuk mendapatkan sedikit bagian dari kue kehidupan.”

Didunia ini, setiap orang ada perannya masing-masing di kedupannya yang singkat, di dunia manapun dia berada di dunia nyata, ataupun di dunia sandiwara.

Saya adalah pribadi yang merdeka, yang hidup di dunia nyata. Tapi jika orang-orang yang ada disekeliling saya hidup dalam dunia sandiwara, dengan perannya masing-masing, itu adalah hak mereka. Mereka juga memiliki kebebasan untuk  mengambil peran dalam hidup mereka. Namun jagan pernah berharap saya mau menjadi bagian dari mereka.., tidak! Kita beda garis.., beda warna.., beda cetakan kawan!

“Bukankah setiap orang perlu makan tuan!”

“Ha.., ha.., ha.., benar sekali!”

Di sini, anda, siapapun kamu, bisa ikut serta mengambil bagian dan memainkan peran anda.

Kami percaya, orang-orang dengan kepribadian terbaik tidak memerlukan terlalu banyak keberuntungan untuk melakukan dan membuktikan banyak hal dari tangan, mulut kaki dan pikirannya, dan semua itu berlaku mutlak di sini!

Disini, anda bisa mendapatkan peran menjadi salah satu dari jutaan perempuan dari armada produksi dan niaga Maybilline di seluruh dunia. Untuk yang pertama kalinya saya katakan, di Maybilline kami hanya menjual Maybilline, menjual maskara.

”Maskara?”

”Ya.! Kosmetik dan salah satu maskara terbaik di dunia dapat anda temui di sana!”

Laki-laki, ya kalian tahu dan bisa membedakannya bukan?

Laki-laki dalam armada kami seperti halnya image kami, gadis-gadisnya, adalah para individu pesolek dengan performa lahiriah yang menawan dengan sikap dan mentalitas yang menggugah.

Penampilan memang sangat penting.

Kesan pertama yang timbul saat kali yang pertama kadang-kadang bahkan sangat menuntukan penilaian dan sikap anda seterusnya. Apakah hubungan dengannya layak dan pantas untuk dibina ataukah cukup saja sampai di sini, dan lebih banyak dari sekedar mengenalnya, sungguh…, tak ada lagi yang pantas untuk di pertahankan. Anda memikirkan dan mencurahkan stamina anda untuk orang-orang dengan kepribadian minus?

Jika ya.., percayalah anda punya penyakit kronis pada diri anda sendiri, jauh lebih kronis dari kepribadian orang yang anda pikirkan itu!

Kemasan yang menarik akan menarik perhatian konsumen, setelah itu kemudian menimbang dan membuat keputusan.., membeli atau tidak.

Di sinilah iklan berperan penting dalam memasarkan produk, membangun dan mempertahankan kesan positif pada image produk. Banyak iklan yang menarik hati dan membangkitkan semangat, tapi tidak banyak iklan yang cukup berarti, mendebarkan, menimbulkan kesan positif yang mendalam serta menggugah, membangkitkan serta mencetuskan inspirasi dan keinginan orang untuk membeli. bagi orang-orang seperti Danny, ini mungkin berarti banyak.

Yang menarik, semua aspek tersebut dapat kita temukan dalam penawaran, perkenalan pertama Maybilline pada kulitnya, yaitu pada iklanya, memperkenalkan suatu produk pada tahap permulaan, prelimier, yaitu pada kulitnya, sampulnya atau kemasannya sebelum sampai pada intinya, hakekatnya, yaitu produk itu sendiri dengan segala kemanfaatannya.

Selebihnya;

Apakah anda tertarik, tertantang dan tergugah untuk mencoba produk mereka?

Semua tergantung anda sendiri.

Mungkin tidak ada salahnya, siapa tahu anda bisa menemukan sudut pandang yang sama dengan perempuan Maybilline dalam menatap dunia. Setidaknya anda dapat memetik manfaat estetis pada kosmetiknya untuk anda di dunia anda sendiri!

Apa yang anda lihat pada diri kami, gadis-gadis di conter Maybilline di seluruh dunia? Bukankah sesuatu yang lugu bersahaja dan biasa-biasa saja? Begitu khan?.

We…, are just an ordinary girls, yang mampu menbedakan mana tikus dan yang mana yang mermut, sekalipun keduanya hidup di kota!

Saya pikir ini cukup menjelaskan dan mengartikan banyak hal daripada yang pernah dapat anda pahami!

Oleh karena itu, di depan etalase, mungkin kami tidak akan bercerita lebih banyak dan meluas mengenai hal-hal yang pribadi mengenai kami; siapa kami, sudah punya pacar atau belum, sudah menikah, pernah ataukah belum sama sekali dan bagaimana kami mengemas diri kami, dan maaf jika kami tidak dapat bercerita lebih banyak tentang cita-cita, harapan-harapan dan mimpi kami…, di dunia ini, itu semua sama sekali tidaklah penting.

Yang penting adalah produk yang terpajang pada etalase-etalase di conter kami, di seluruh dunia tentunya.

Kami adalah gadis-gadis biasa dengan kedipan dan air muka yang lugu yang menjual hal-hal yang luar biasa kepada perempuan-perempuan manapun di seluruh dunia. Di sini, kami tidak sekedar menjual produk kosmetik dalam kemasan ataupun menjual image kemasan semata, tapi juga sikap mental, attitude, sebagaimana tercermin dalam produk-produk Maybillinine yang berkepribadian feminim yang elegan. Bagaimana kami memandang dan mengapresiasi produk-produk Maybilline, kepentingan para wanita di seluruh belahan dunia dan para konsumen kami dapat anda lihat pada bagaimana perempuan Maybelline melihat dunia, yaitu dengan sikap mental yang positif.

Sikap mental andalah yang akan menentukan apakah anda akan sukses dalam hidup, menjadi biasa-biasa saja atau menjadi tidak sama sekali. Perlu anda perhatikan disini bahwa sukses dalam hidup bukan berarti bahwa kami berhasil menjual ludes semua stock barang bulan ini, lebih banyak dari konter-konter sejenis di kiri kanan, depan belakang kami, ataupun menjual melebihi target.

Sukses dalam hidup tidak juga berarti bahwa anda berhasil merontokkan semua pesaing-pesaing anda hingga benar-benar lumpuh, tak berdaya dan mengemis sedikit belas kasihan di ujung jari-jari kaki anda.

Hidup dan keberhasilan kita bakan kadang-kadang tidak berarti apa-apa tanpa pesaing, terlebih kemenangan yang anda peroleh, petik dari kening pesaing yang telah merangkak memelas sedikit belas kasihan, di ujung jari-jari kaki anda.

Sukses dalam hidup secara sederhana berarti sukses menjalani hidup anda, sukses menjalankan usaha anda, sukses menjual produk barang dan jasa yang anda miliki dengan sikap mental yang positif, bahwa apakah anda beritikad baik dalam menjalani semua hal tersebut. Seorang teman pernah menawarkan beberapa bacaan karya Mario Puzzo, tahu apa yang saya pikirkan? Omerta; Hukum tutup mulut!

”Bangsat.., ssst.., tutup mulutmu!”

Mengapa?

”Tidak ada apa-apa, aku hanya sekedar berbisik!”

Mengapa?

”Kau tidak perlu melakukannya untuk saya. Saya dapat melakukannya sendiri jika mau!”

Jika anda merasa masih memiliki masalah dengan persoalan attitude ini, mungkin anda harus sering-sering lewat di depan Aston Condotel, di Sudirman dan berkaca dengan serius pada papan parkir Sun parking di pintu gerbang masuk. Tertulis di sana;

Attitude for succes; sikap mental kesuksesan!”

Bawa kami ada tidak untuk menakluk-kan dunia, untuk membuat semua hal bertekuk lutut dengan gentar, gemetar dan tak berdaya di bawah telapak kaki kami, tapi ada untuk melakukan dan menawarkan apa yang terbaik untuk dunia, untuk perempuan-perempuan, di dunia!

”Biarlah orang lain saja yang melakukannya!”

Di sini, di Maybilline New York Mas-kara, kami menawarkan salah satu kosmetik dan nilai kecantikan lahirih dan yang paling manusiawi, yang terbaik untuk anda para perempuan dan dunia ini.

Anda tinggal di sana juga khan..?”

”Ya.., benar sekali!”

Sekali lagi, di Maybilline kami hanya menjual Maybilline. Dan…, memang kami hanyalah orang orang biasa, yang menjual hal-hal yang luar biasa. Kapan waktu silah-kan mampir di counter kami dan percantik bulu mata anda dengan sapuan Mascara No. 1 di dunia, dengan Volume Express.

Ya…, di iklannya berpesan demikian.

”Sweet…, sweet..!”

”Anda tertarik menggoda kami? Hei.., hei Bung.., kita semua masih manusia, insan khalik yang bebas dan merdeka, yang hidup di dunia yang sama. Jika anda cukup menarik, bukan tidak mungkin kita akan saling mengoda. Cukup adil khan?”

Kalau begitu,

”Bung.., saya juga ingin alis mata perepuan sayapun disapuh dengan Maskara terbaik. Saya ingin dia menampakkan kecantikannya yang terbaik kepada dunia dimana dia berada. Apapun itu, saya pikir ini cukup..!”

Di suatu kesempatan, anda mungkin akan membayar separuh harga dari sepiring cinta. Tapi di kesempatan yang lain anda bahkan harus membayar lebih banyak dari harga yang tertera di daftar menu dan uang yang tersedia di kantong anda.

Apa yang anda pikirkan tentang Cevy?

Tidak usah repot-repot, masih ingat khan cerita Lou?

Dia juga punya sederetan kartu kredit dan debit card, dia adalah perempuan kota yang makmur dan mandiri.

Dia, punya dompet yang dapat berisi begitu banyak hal.

Dan Kuni.., juga ada di sana!

Disalah satu payung depan gerai Starbucks, Point one Setiabudi, sepasang kekasih nampak sedang larut dalam perbincangan panjang yang dari waktu ke waktu kian bertambah serius, dingin dan nyaris tanpa gairah. Mereka telah melalui kebersamaan selama sekian tahun.

Sebagai sepasang sejoli yang telah melalui begitu banyak hal bersama-sama, nyaris tak ada lagi derai tawa yang manja dan bahagia sama seperti saat mereka baru memulainya di tempat yang sama. Hubungan yang telah terjalin kini berada di simpang jalan. Hanya ada dua kemungkinan dan satu pilihan, bubar ataukah tetap mempertahankan hubungan dengan disertai segudang keengganan satu sama lain. Kekecewaan yang mendalam hanyalah persoalan waktu yang tertunda.

Kenyataannya, keduanya berharap periode yang hambar dan membosankan ini sedapat mungkin cepat berakhir, dengan baik.

Masalahnya, kapan dan siapa yang harus mengambil inisiatif memulainya, itulah yang menjadi persoalan mereka.

Alx, menarik sehela nafash panjang dan menunjukkannya dengan jelas kepada Nikki, lalu mulai berbicara;

“Setahun setengah, Alx, tidak terasa juga yah?”

“Terlalu lamban berlalu, rasanya. Aku bahkan jenuh dan bosan memikirkannya.” Jawab Nikki, menghaluskan maksudnya.

“Apa lagi yang engkau pikirkan? Cinta? Aku cukup beruntung telah menghabiskan waktuku sebanyak itu dengan kamu!”

“Kita telah melaluinya dengan sangat baik. Setidaknya itu menurutku. Hanya saja kita telah sama-sama merasa jenuh. Akan hal yang satu ini, aku ragu apakah kita masih dapat memperbaikinya, membuat segala sesuatunya kembali berjalan dengan lebih baik!”

“Siapapun pernah melalui masa-masa itu!”

“Yep! Seperti itulah”

“Mungkin aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Inilah yang aku pikirkan, kita akan tetap saling mencintai, merindukan walaupun kita tidak akan pernah lagi bisa bertemu setelah ini!”

“Entahlah. Saya hanya bisa berharap hal-hal yang baru ke depan, setidaknya jauh lebih baik sehingga membuat kita cukup mampu untuk melupakan beberapa bagian, beberapa kepingan yang tidak menyenangkan dari hubungan kita selama ini! Alx, sebenarnya aku ragu, apakah aku telah berhasil mengutarakannya dengan baik. Menurutmu?”

“Seharusnya aku berselingkuh terlebih dahulu sebelum kita membicarakannya di sini. Kita akan saling berterik, mencaci, memaki dan bahkan mungkin berkelahi di sini!”

“Ha.., ha.., ha… Kau jelas mengerti maksudku. Dengan cara ini, mungkin saya akan merasa sedikit lebih rileks, lebih lepas mengutarakannya. Inilah Persoalanku sebelumnya.”
“Sayang..,” kata Nikki memotong uraian Alx lalu dengan gerakan yang anggun dia berdiri dari kursinya, meretas selembar senyum di bibirnya yang merekah dan menawan, sama seperti yang terlihat oleh Alx saat baru pertama kalinya mereka bertemu.

Dalam keadaan terdiam, dia terpaku sejenak, menjiwai prianya untuk yang terakhir kalinya dan tanpa disadarinya beberapa penggalan kenangan indah terakhir berkelebat di pikirannya, tapi dia adalah perempuan yang telah membuat keputusan. Perlahan, dia menyambar dompetnya yang tergeletak di atas meja di samping segelas kopi dan penganan yang masih tersisa lalu menyeret langkahnya kecil mendekati Alx;

“I love you..!” katanya berbisik kemudian mencium pipi kiri Alx lalu berakhir di kanan.

“Alai.., Thank you!” bisik Alx pada dirinya sendiri sambil menatap ayunan langkah Alai menyusuri halaman parkir, semakin jauh meninggalkannya.

Tapi sebelum dia benar-benar menghilang untuk selamanya, dari kejauan, Alx berteriak;

“Nikki..?”

Cepar dia menoleh.

“Kau yakin tidak ingin berkelahi terlebih dahulu denganku?”

“Ha..ha.., Lain waktu saja. I Love you!”

Cofee Amerikana, scone dan muffin yang lezat masih setengahnya.

Sam, adalah seorang eksekutif menengah sebuah korporasi multinasional. Pekerja keras yang memiliki integritas, dedikasi dan loyalitas yang baik terhadap pekerjaannya. Dan dia merasa sangat hidup karena hal tersebut, karena pekerjaannya.

Hei Tuan.., itulah dunia yang sebenarnya, bekerja banyak, urusan plesir aman.

“Bukan begitu Bapak?”

Moral bekerjanya bagus. Bekerja rata-rata 10-15 jam sehari. Berangkat kerja dengan perut yang terisi oleh sandwich yang di buatnya sendiri dan pulang saat anak-anaknya telah tertidur pulas. Isterinya, akh itu khan persoalan gender di Negara dunia ketiga. Ingin merasa bebas dan merdeka? Jangan pernah memikirkan persoalan tersebut, tidak soal apakah anda laki-laki terlebih perempuan. Teruslah bergerak, keep on mobile!

“Itu adalah persoalan kami beberapa ratus tahun yang lalu, Om!” kata orang Barat.

Tapi apakah di sana orang berjalan dengan kaki di kepala?

Selanjutnya orang Timur tak kehabisan jawaban.

Katanya, “Kami juga, asal tidak ketahuan!”

Ada persoalan besar disini, saya tidak akan membahasnya terlebih memikirkannya. Saya tidak berada di sini!

Mari kita lanjutkan.

Dia, adalah juga seorang peminum budiman, yang pulang ke rumah sebelum alkohol membuatnya teler dan tak sadar diri. Dia sendiri baru sampai di pintu kamarnya saat dia sampai pada dimensi itu.

“Dia baru mabuk setelah berada di rumah?”

“Dia benar-benar sinting!”

“Oh body!”

“Kenapa?”

“Rasanya aku tak kuasa membayangkannya!”

“Tak kuasa?”

“Maksudku tak bisa. Ini benar-benar sinting!”

Kapan waktu dia terlihat di  pub-pub Deli, kadang-kadang di Brandina’s, tapi anda mungkin akan sering melihatnya keluar masuk BB’s untuk sekedar menenguk beberapa Pitcer Budweiser atau Heinekken.

Pace, apakah kaka’[3] berada di sana malam ini?

Alkisah, suatu malam dia pulang jauh lebih cepat dari biasanya, entah mengapa. Yang pasti dia terlihat begitu lelah, letih dan lesuh sepanjang hari itu. Di BB’s, dia sama sekali tidak akan pernah bisa bertemu dengan jamu kuat lelaki atau jamu tolak angin Nyonya Meneer yang konon kabar hidupnya lebih lama dari siapapun saat ini. Yang dia butuhkan adalah Porter, kasur empuk dari lempengan busa tebal. O ya, ini beralasan.

Dia terdengar pernah beberapa kali mendapatkan tiket gratis terbang ke Amerika dari tempatnya bekerja. Dan bayangan gadis-gadis yang pernah menemaninya mengisi dan melalui hari-hari selama berada di sana selalu terngiang-ngiang di ingatannya setiap kali dia merebahkan tubuhnya di atas springbad Porternya. Yang pasti, hampir setiap malam dia pulang ke rumah dalam keadaan seperti itu, setidaknya mendekati.

Tak diragukan lagi, dia sangat merindukan tempat tidurnya, bantalnya. Super Pilow dan Porternya telah menanti dirinya. Dan dia dalam perjalanan yang terburu-buru.

“Kemana?”

“Kesana!”

Sesampainya di sana, dia terkejut setengah mati.

Saat membuka pintu kamarnya yang remang dari balik tatapannya yang sayu, dia menemukan isterinya yang kecantiknya tidak terbayangkan, yang tidak terbantahkan oleh siapapun yang mengenalnya, tengah asyik bergumul dengan seorang laki-laki asing dengan aneka atraksi-atraksi erotis yang memukau di atas Porternya, di atas springbadnya, di atas ranjang tidurnya yang nyaman.

Isterinya terpana, tersontak tak kalah kagetnya melihat kedatangan Sam yang demikian tiba-tiba, di luar jadwal rutinnya. Permainan Kama sutra yang tinggal beberapa kali goyangan pinggul dan desahan nafash akan mencapai klimaksnya itu pun seketika bubar. Pernah membayangkan kejadian serupa ini terjadi pada diri anda?

Kepalanya seketika mendadak pusing tak karuan.

Bagaimana jika hal tersebut terjadi pada diri anda?

Siapapun yang pernah mengalaminya, rasanya benar-benar menyebalkan. Seperti hidup panjang di neraka jahanam. Saya pernah mengalaminya!

“Siapa lagi?”

Melihat istrinya dan pasangan kencannya tak bergerak sedikitpun dengan kepala pusing dan ‘nyut-nyutan;

“Marie..?” ujar Sam dengan nada sedikit histeris dan dramatis.

“Bukan.., bukan, ini Juwi!” Balas pria di ranjangnya mewakili isterinya sambil menarik selimutnya melebar untuk menutupi tubuh mereka berdua dengan sempurna.

“Oh maaf, sepertinya saya salah kamar!” lanjut Sam cepat secepat dia membalik-kan badan dan menghilang di balik daun pintu.

Tak berselang seberapa lama, Pajero terbaru keluaran pabrikan Mitsubishi, langganan juara di Paris Dakkar kembali terlihat meninggalkan halaman rumah.

Dan tidak lebih dari sejam kemudian, dari salah satu kamar di Ritz Chalrton Mega Kuningan, sambil meneguk segelas Chivas, di ponselnya dia bertanya;

“Marie?

“Kang mas.., Ya, saya sendiri!” jawab Juwi dengan suara lemas dan letih di ujung telepon yang lain, mendesah menggoda! Tubuhnya yang lemas terlentang bermandikan keringat di atas ranjang, di samping prianya yang memeluknya erat, sambil mendengkur.

Oh boy..!?

Di film Lettes from Iwo Jima, Sam, adalah prajurit dari resimen A, salah satu prajurit belia yang gugur dalam salah satu pertempuran yang paling heroik dalam sejarah Amerika dan Jepang.

Tak salah lagi, mereka benar-benar hidup dalam sejarah!

“Good morning Dady!?” seru Tyesi mengagetkan ayahnya sambil menepuki pundaknya. Pap yang tengah mencelupkan beberapa lempeng roti kedalam semangkok sereal Quaker Oat Meals, susu dan coklat panas cepat Dady atau Pap membalasnya dengan senyum selamat pagi yang segar, sesegar Korea, embun pagi! Sebuah  pengalaman pagi hari yang terhitung langkah antara mereka berdua, antara bapak dan anak itu.

Tyesi menyambar langsung beberapa lembar roti dari plastiknya dan duduk di depan Pap.

“Apakah Ruby’s tutup lebih cepat semalam?” Tanya Tyesi sambil mencelupkan satu lembar roti. Ruby’s adalah sebuah bar & pub menengah untuk pekerja-pekerja kelas menengah dengan harga-harga yang juga menengah tentunya, tempat Pap menghabiskan beberapa jam waktunya sehari untuk minum-minum sebelum sampai ke rumah dalam keadaan terseok-seok.

“Juga untuk bergaul!” tambah pap.

“Tidak, kebetulan saja Pap lupa. Ruby’s sudah terlewat jauh saat Pap sadar. Terima-kasih telah mengingatkan Pap untuk nanti malam!”

“Dady..!”

What you thingking about this humor?

Beat, pemabuk paruh baya yang mene-mukan irama hidupnya pada segelas arak, terlihat melaju langsam diatas hamparan aspal hotmix depan Pondok Indah Mal, arah menuju ke Lebak Bulus selepas perempatan. Dia belum separuh perjalanan tapi jarum speedometernya mulai terlihat bergerak terbalik, pelan-pelan.  Sesekali bannya terlihat oleng ke kanan lalu berganti sempoyongan ke kiri.

Dalam keheningannya di balik kemudi, tiba-tiba terdengar derit sirine patroli Polisi membuyarkan lamunannya.

Lajunya terhenti.

“Selamat malam Sir!” sapa Polisi tepat di depan hidungnya.

“Aku baik-baik saja, Good night!” balas Beat yang telah menghabiskan hampir separuh umurnya di Indonesia itu dengan beberapa kali anggukan disertai cegukan-cegukan kecil yang entah dia pikirkan dan sadari atau tidak.

“Malam yang menyenangkan, Sir?” Polisi kembali bertanya tak putus asa.

“Seperti itulah!”

“Saya berharap anda belum terlalu mabuk. Tolong SIM internasional dan STNKnya?”

“Saya sepertinya minum cukup banyak malam ini. Tapi bapak bisa lihat sendiri, saya belum terlalu pantas untuk disebut mabuk, bukan?”

Beats mengambil dokumennya dan menyerahkannya.

Lanjutnya;

“Sir.., kalau saya tahu akan berakhir seperti ini, tentu saya tidak akan minum lebih banyak dari malam-malam yang biasa. Sebenarnya saya telah memperingatkan Aria, bapak tentu tahu, dia adalah salah satu bartentender terbaik di Seal’s agar mengatur takaran saya malam ini. Indra keenam saya sepertinya merasakan peristiwa ini akan terjadi.

Tapi Pak, apa yang dapat saya lakukan, Aria sepertinya enggan menanggapi permintaan saya.

Dari pegunungan Golden Missisipi Aqua seperti mengalir tiada habis-habisnya ke dalam gelas, botol dan galon-galon air mineral di rumah anda.  Dan malam ini, di Seal’s, seperti biasanya, semua itu ada di depan mata, mengalir deras kedalam gelas-gelas yang bahkan belum sempat kosong. Tidak tersedia tempat di Seal’s untuk bersembunyi dari bau alkohol. Pendapat bapak?”

Polisi itu tetap terdiam, seperti terkesima, dia bahkan belum memeriksa dokumen yang ada di tangannya. Selama bertahun-tahun dia bertugas, dia telah bertemu dan berurusan dengan begitu banyak peminum dan pemabuk. Dari peminum-peminum bar seperti didepannya sampai peminum warung jamu pinggir jalan. Dari peminum dengan kecenderungan brutal sampai kepada peminum yang paling kalem, paling lembut yang akan langsung menyerahkan tangan bahkan sebelum sempat ditanya.

Tapi pemabuk didepannya ini adalah varian yang berbeda, pikir polisi itu praktis. Yang dia pahami, tidak ada peminum yang tidak mabuk!

Apapun mereknya!

Mungkin dia hanyalah seorang pakar humas yang telah terbiasa bicara banyak dan kebetulan sedang mabuk.

“What can I do!?” balas Polisi itu mengungkapkan entah itu pengertiannya, kepasrahannya atau ketidakberdayaannya ataukah campuran ketiganya sambil menganggkat tinggi-tinggi bahu kirinya. Lengan kanannya masih bersandar di atas daun pintu Blazer build up Beats yang berwarna biru telor asin.

“Sir..?” tanya Beats mengharapakan arahan yang lebih jelas.

“Saya berharap anda dapat mengendarai mobil ini dengan selamat sampai di rumah. Dan ingat.., Sir, kita tidak pernah pernah bertemu!

“Hm.., smart, malam ini tidak pernah ada bukan?!”

“Silahkan jalan!” perintah polisi sambil mundur beberapa langkah ke belakang membiarkan Blazer itu merengsek menjauh.

“Sialan..!” umpat polisi itu dalam hati dari kejahuan.

Dalam pemahaman orang Indonesia, fuck you dapat berarti harfiah, fuck you semata. Sebuah ungkapan marah, kasar, cemooh dan merendahkan.

Akan tetapi, dengan menggunakan sudut pandang yang sama sekali berbeda, dengan maksud untuk mengutarakan maksud yang berbeda, serta dengan menggunakan penggalan, artikulasi dan teknik pengucapan yang berbeda, Fuck you dapat berarti, Fuck yuk!?”

Kira-kira, ungkapan tersebut bersinonim dengan sebuah ajakan untuk bersenggama.

Kasus ini kurang lebih hampir sama beratnya dengan mendengarkan Agnes Monica menyanyikan lagu; …cinta ini, kadang-kadang tak ada logika, Usir semua resah dalam dada, Cintamu hanya untuk sesaat..!, dan kemudian mendengar Agnes Monica Situmorang mendendangkan lagu yang sama di kamar mandi, jauh di pedalam Sumatera. Perbedaannya jelas terdengar!

Apakah anda pernah mendengar orang-orang di sekitar anda berbicara tentang gosip dan beragam omong kosong tentang anda dalam bahasa Sunda dengan aksen Tapanuli?  Dengan bahasa Tagalog dalam logat Padang yang membingungkan? Atau bahasa Sangir dalam logat Nias yang mendayu-dayu?

Percayalah, sebuah operasi terselubung yang mengadopsi pola-pola intelejen tengah berlangsung di sekitar anda, di lingkungan anda. Boleh jadi itu semua ditujukan buat anda, atau bisa juga untuk orang-orang tertentu di sekitar anda.

“Ukh.., operasi cuci otak yah? Over polite Sanababitch, kampungan..! Dasar  nyamuk-nyamuk penghisap cairan otak!”

Sialan!

Sekarang saatnya untuk memilih, ungkapan mana yang paling anda butuhkan saat ini? Perhatikan situasi, kondisi dan toleransinya.

Jangan sampai terbalik-balik!

Tulisan ini adalah serpihan-serpihan nostalgia dari kelakuan saya, attitude saya ketika masih berada di bangku kuliah.

Entahlah, apakah ini merupakan kebiasaan yang buruk saat itu atau tidak.  Apakah tulisan ini pantas untuk saya tuliskan di sini, sayapun tidak tahu. Yang pasti, saat itu saya masihlah seorang pemuda belia yang lugu, tampan dan perkasa serta menyenangkan, yang ekspresif dan impresif, saya adalah seorang pemuda di masa lalu yang bebas dan merdeka, setidaknya seperti itulah kesan yang tertanam  di kenangan setiap di setiap orang yang mengenal saya, ataupun di benak setiap perempuan yang pernah menjalin cinta kasih dengan saya.

Ada begitu banyak cinta, ada begitu panjang dan beragam kenangan di baliknya.

Sampai dengan hari ini, dalam sejarah Indonesia dikenal ada beberapa Presiden. Salah seorang diantaranya yang apabila setiap kali bertemu dengan saya, dimanapun, saya selalu mengacungkan kalau tidak jari tengah saya ke arahnya, pasti ibu jari saya, dalam keadaan terbalik.

Ketika itu, perbuatan demikian itu dapat saja tergolong subversib. Ini merupakan persoalan hukum dan politik yang besar. Tapi untung saja yang bersangkutan sendiri ataupun pengawal-pengawal Presiden yang bersangkutan tidak protes. Tidak melaporkan saya kepada Polisi setempat. Tidak menyuruh pengawal-pengawalnya menangkap saya.

“Untung saja!”

Ketika pertama kali melakukannya, dada saya terasa sesak dan berdegup kencang, karena takut.

“Biarkan saja. Dia amatir, masih seorang mahasiswa, perjalanannya masih panjang!”

Yang kedua kali, sekalipun masih diliputi oleh perasaan takut, tapi dada saya tidak lagi berdebar-debar.

“Jangan dilihat, nanti dia besar kepala!”

Pasukan pengawal Presiden pura-pura tidak melihat saya. Sepertinya!

Untuk yang ketiga kalinya dan seterusnya, kepada Presiden, pasukan pengawal berkata;

“Ini baru ceritanya demokrasi. Ini akan menjadi cerita yang hebat!”

Lanjutnya; “Kalian mengambil gambarnya?” tanya Presiden.

“Ya.., semuanya!”

“Thank you. It’s my story, next!” kata Presiden menutup pembicaraan sambil mengacungkan tinjunya ke udara.

Wushhh…….!

Hingga saat ini, saya hanya bisa berharap semoga yang bersangkutan setidaknya memilih sudut pandang yang benar dan menguntungkan….., kita berdua!

Suatu hari seorang Pastor bertemu dengan seorang teolog muda yang resah dengan ilmu pengetahuan yang ditekuninya dan beragam kebenaran lain di luar sana yang telah dibaca dan dikajinya. Namun dia menolak untuk disebut sinkretis dan KTPnya setidaknya menjelaskan bahwa dia tidak atheis.

Yang pasti dia nonpartisan, pribadi yang independent, non sektarian, hanya saja, persoalannya, dia terlalu keranjingan dengan dogma kebenaran, hingga akhirnya dia tidak tahu lagi mana yang harus dia pegang.

Tunggu dulu.., jangan terlalu serius, bukankah dari tadi semua yang anda baca hanyalah joke?

“Siapakah orang terakhir yang akan masuk sorga?” tanya Teolog.

“Dialah orang yang mendapatkan keberuntungan terakhir!”

“Apa itu?”

“Panggilan yang terakhir!”

“Lalu siapakah orang itu?” tanya Teolog semakin penasaran.

“Dia adalah seorang Teolog yang berilmu, yang tidak terlalu ingin banyak tahu, tapi mengamalkan dengan benar apa yang diketahuinya, sekalipun sedikit!”

“Oh Jesus..!” celetuk orang itu spontan.

Diatas meja di samping sebuah vas kembang transparan menyerupai gelas anggur yang berleher tinggi, yang terbuat dari lempengan kristal Krosno Glass yang tipis, di dalamnya bersandar setangkai kembang Lily kuning pada bibirnya, tergeletak sebuah HP Alcatel teknologi terbaru, ramping berwarna merah, semarun Krosno yang menawan dengan keypad yang terbuat dari lapisan lempengan platina tipis setipis kertas, tiba-tiba bergetar dan berdering.

Di layar LCD tertulis; “You have got a mail….” dalam bentuk simbolik sebuah amplop besar.

Tak lama kemudian.

Ping, wanita dengan pesona lahir yang tak terbantahkan itu mendekat sambil membetulkan ikatan piama yang membungkus tubuhnya yang bertekstur sempurna, lalu mengikatkan sehelai bandana ke rambutnya yang hitam bercat cokelat agak pirang dan masih menitikkan tetesan-tetesan air bercampur sampho dan conditioner yang semerbak. Setelah itu, dia menyambar dengan gerakan yang lembut gemulai HP tersebut, memencet beberapa tombol dan tak lama setelah itu di layar HP tertulis pesan;

“I love you, sungguh!”

Dia menatap lama pesan itu tanpa berguman sepata katapun. Reaksinya datar, tak menyiratkan apapun, menarik nafash panjang kemudian dia berjalan gontai menyusuri lantai kamarnya yang terbuat dari lapisan panel-panel Mahoni, kearah pintu balkon apartemennya di Four Seasons. Dia membuka pintu dan mendekati pagar balkon.

Di depannya hanya terlihat hamparan gedung-gedung pencakar langit serupa, hotel dan perkantoran yang masih terang benderang. Saat itu pukul 10 malam.

Untuk yang kedua kalinya dia menarik nafash panjang, panjang sekali lalu menghelanya perlahan-lahan, setelah itu dia menatap sekilas pada E70 dalam genggamannya lalu tersenyum lebar dan ketus.

Tak lama kemudian, HP itu telah melayang-layang di udara.

“Kita telah kehilangan banyak. Tidak lagi. It’s over!” katanya.

Cerita ini merupakan sebuah cerita yang memang saya tulis untuk tidak untuk diselesaikan, untuk menerangkan dari sudut pandang dan pengertian saya akan apa yang dikatakan oleh Ricard dan Ralph bahwa, “ Keunggulan dan kekalahan, keberhasilan yang tidak terbatas serta kemenangan yang sempurna itu jarang ada. Hampir semua aspek kehidupan mengandung sebagian keberhasilan di sini dan sebagian lainnya yang merupakan kegagalan di sana!

Semua orang setidaknya pernah mengalami suatu periode dalam hidupnya dimana di beberapa aspek tertentu dalam kehidupan yang direncanakan dan dijalananinya terbentur pada, atau mengandung kedua unsur tersebut.

“Kalau begini jadinya?”

“I will fight ‘till the and! Aku akan berlari secepat dan sekuat yang dapat aku lakukan seperti Jay “Will smith” Gardner dalam Film Pursuit of happiness!”

“Tidak.., tidak, aku akan membelokkan sedikit ending filemnya seturut selera dan kepentinganku. Aku miskin dan setidaknya ini dapat menjadi argumentasi pembenar yang dapat menaifkan keputusanku terhadap mesin waktu yang mampu membawaku menerobos terowongan waktu, lubang pekat ke masa lampau, ke masa depan atau gabungan keduanya.

Aku mengharapkan menemukannya kembali. Itulah yang aku harapkan. Dan saat ini dia ada di depan mataku, aku berpeluang besar mendapatkannya kembali. Aku hanya perlu berlari mengejarnya, dan itulah yang aku lakukan.

Tapi akh.., kau anda tahu khan.., seharusnya itu sudah hilang. Ya.., sesuatu yang seharusnya sudah kuanggap hilang!”

“Jay, saya rasa sayapun pernah melewati saat-saat yang bersamaan. Pekerjaannya itu, pengalamannya, pergumulannya, tidaklah banyak berbeda. Kita hanya berbeda di beberapa menit terakhir!” Tapi kau tahu, aku masih punya cukup banyak waktu khan?”

“Erich.., sebaiknya engkau membuat ceritamu lebih bagus dari yang kau lihat!”

“Grafiknya akan terus menanjak, Will!”

“Itu pertanda yang bagus!”

“Ya. Aku hanya berusaha membuatnya lebih baik. Setidaknya seperti itu. Bukan berpikir tentang sesuatu yang sempurna, Jay!”

“Ini akan menjadi gelombang grafik yang dinamis!”

“Aku harap demikian!”

“Sebaiknya kau mulai mengambil langkah lebih maju…, berinvestasilah dengan bijaksana!”

“Dengan demikian…”

“Niscaya engkau akan menikhmati tiap poitnya dengan perasaan terbaik yang pernah engkau rasakan!”

“Itulah yang akan aku lakukan!”

“Aku percaya engkau akan menikmatinya!”

“Seperti itulah!”

Kapan anda selesai membaca The Christmas Thief? Apakah masih ada yang memikirkan nasib Noonan?

Mungkin ini adalah salah satu cerita pencurian terbesar abad ini yang tersandung pada konsepsi tentang keseimbangan dalam hidup, dimana kemenangan, kekalahan, kehilangan dan keberhasilan berada.

Bahwa hampir tak ada hal yang benar-benar sempurna atau akan berakhir dalam kebahagiaan yang sempurna. Sedikit banyaknya, akan selalu ada keganjilan dan kekurangan yang menghantui.

Kasus Noonan tak ubahnya seperti sebuah luka yang telah mulai mengering. Gatalnya bukan main. Dan pada saat perasaan yang sangat sugestif tersebut muncul, sadar atau tidak, perlahan-lahan jari-jemari anda akan mulai menggaruk-garuk permukaan di sekeliling luka tersebut. Apa yang anda rasakan?

Rasa sakit dan enak yang luar biasa mengganggu, muncul secara bersamaan!

Noonan, penipu ulung, seorang pencuri kawakan yang lugu beserta ke3 rekannya, sekarang telah berada kembali di balik sel-sel penjara yang menakutkan, dingin, yang telah meremukkan dan membekukan segala keberuntungannya.

Tidak ada yang dapat kita lakukan.

Saya hanyalah seorang pembaca, ini hanya sebuah cerita dari sebuah fiksi.

Dan sebenarnya, saya sama sekali tidak ingin menggugat akhir cerita tersebut, bahwa mengapa cerita tersebut tidak berakhir dengan cara yang lain? Setidaknya berakhir manis seperti permen gulali dalam film-film Bollywood.

Dibarisan yang tersisa ini, saya hanya ingin mengutarakan perasaan saya, rasa gatal yang mengusik saya, saya hanya sekedar ingin bertanya, apakah masih ada satu bab yang tersisa untuk Noonan?

Cerita Noonan adalah suatu cerita dimana anda akan merasakan suatu erangan emosional yang tidak karuan dalam diri anda saat anda telah selesai dengan bab terakhir. Anda akan merasakan bagaimana sensasi rasa sakit dan enak yang terjadi secara bersamaan. Coba pikirkan dan bayangkan kembali puncak orgasme terakhir anda setelah kemarau yang yang panjang dalam hidup anda.

“Kapan itu?”

Sedangkan Noonan.., siapa yang benar-benar memikirkan akhir ceritanya? Tentang nasibnya? Mungkin dia hanya tersesat dalam sebuah kisah pencurian besar di tahun Natal yang salah. Masih banyak waktu untuk cerita-cerita yang baru, baginya. Ingat.., kita sedang di ambang tahun Natal yang baru!

“Entahlah..!” pikir Noonan.

Setidaknya dia telah berusaha!

“Saya sangat tersentuh!”

“Terimakasih banyak. Saya sangat menghargainya!”

Pada sebuah bangku panjang, cukup untuk bertiga, di sebuah taman yang disinari oleh beberapa lampu taman yang redup dan purnama yang setengah temaram, saat itu kira-kira menjelang pukul 9 malam.

Malam minggu yang panjang.

“Sri.., sayangku,” ungkap Joe sambil membelai-belai lembut rambut Sri yang hitam lebam, sebahu, lembut dan harum. Sementara itu petak pikirannya yang lain masih tersangkut di bahu dan rambut perempuan yang lain, sangat jauh dari sana, sama seperti tangan kananya yang telah mulai menggerayang kemana-mana, dari belaian lembut di kepala hingga ke balik denimnya, membuat Sri berkidik dalam sensasi seksual yang luar biasa.

Lanjutnya, “ Kau sadar khan betapa aku sangat mencintaimu?”

“Ya, seperti engkau mencintai dir….”

“Ketty.., ya, Ketty!” sambung Joe memotong pertanyaan Sri spontan, tanpa disadarinya.

Sri jelas sangat terkejut mendengarnya.

“Ketty, siapa Ketty?” Tanya Sri tak buang waktu.

“Maksudmu, diriku sendiri khan?” sela Joe cepat berusaha melindungi dirinya.

“Tidak.., maksudku Ketty, siapa dia?” buru Sri sambil menggeser kotak Hotdog, sekaleng Carlsbear dan Pocari sedikit menyamping ke tepian.

Joe tak langsung menjawab, bibirnya terkatub rapat berusaha menemukan jawaban yang terbaik.

“Oh.., itu adalah nama kucing peliharaanku! Satu, Hanya satu.., saya pikir itu cukup khan?”

“Masih ada berapa “ketty” lagi yang kamu pelihara saat ini, Joe?” Ungkap Sri mengungkapkan ketidakpercayaan dan kekecewaanya. Joe terdiam, seribu basah. Dia sangat yakin, kali ini Sri tidak hanya benar-benar marah, kesal dan kecewa, dia juga sudah terlanjur; Basah!.

“Joe..,” ujar Sri dengan lebut sambil berusaha membetulkan kembali gesper, kancing dan resleting celana denim Grafittinya, lalu lanjutnya;

“Pergi kau dari sini sekarang. Cepaaat!” jerit Sri marah dan histeris. Tangannya memukul-mukul permukaan kursi dan kedua kakinya menyentak-nyentak  tanah.

Joe yang tangkas bergerak cepat sebagaimana kemauan Sri. Akan tetapi baru saja beberapa langkah kakinya terayun, suara Sri yang lantang kembali terdengar, menghentikan langkahnya. Katanya dengan irama mengejek;

“Dasar buaya Jorok. Cuci dulu tanganmu di sana, bodoh…!?” kata Sri menasehati Joe untuk yang terakhir kalinya sambil menunjuk pada kran PAM yang terletak persis di belakang pos Polisi di taman itu, sekitar 100an meter dari sana.

Joe, playboy seperti kata Sri yang bertipikal kikuk dan generik itu berganti arah dengan cepat sambil menggaruk-garuk kepalanya, layaknya orang bingung, seperti orang yang sedang keramas.

Sementara itu, dari kejahuan, beberapa orang satpam residence Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta mengikuti dan mengamati semua kejadian itu dengan cermat dan seksama, sambil berusaha mereka-reka situasinya!

Pada sebuah trem yang padat penumpang, di Chichago, duduk seorang pelancong dari Indonesia. Dia nampak sangat menikmati pemandangan di sekitarnya.

“Saya merasa seperti kehilangan kancing Kanvas Straus saya?” ungkap penumpang local di sampingnya, kepadanya dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih.

“Kancing Levis[4] anda sir? Balas turis Indonesia keheranan sambil melirik sekilas ke Levi’s orang tersebut. Tak ada yang hilang.

“Ya, kancing lepis saya, Anda melihatnya?”

Setelah pertanyaan tersebut, baru turis Indonesia itu sadar akan bau mulutnya. Sudah tiga hari dia belum menggosok gigi. Dia melempar pandangannya keluar jendela, setelah itu tak terdengar lagi siulannya yang merdu hingga dia sampai di pusat kota.

Suatu sore yang cerah di hari minggu, seorang pemuda buta dihampiri oleh seorang pelancong yang terlihat nampak terburu-buru.

“Tuan, apakah anda juga baru saja mendengar bunyi lonceng Gereja?”

”Itu lonceng dari gereja Paul.”

“Saya ingin kesana, letaknya dimana ya?” kembali tanya si pelancong dengan disertai keraguan.

“Tidak jauh dari sini tuan. Disana!” Jawab pemuda itu cepat sambil menunjuk ke sebuah gedung di seberang jalan tempat dimana tempat hiburan malam paling megah, semarak dan gemerlap di kota itu berada.

“Caps, kau tahu aku hanyalah seorang perempuan biasa, yang sedang jatuh cinta. Mudah-mudahan kamu berpikir bahwa aku hanya punya cinta. Tapi tidak mengapa, itu cukup bagi saya.

“Permulaan yang bagus. Itu lebih dari yang kita butuhkan untuk memulai segala sesuatu yang dahsyat ke depan!”

“Untuk itu, dapat saya pastikan, sekarang kamu telah mendapatkan semua yang berharga dalam hati saya, dalam hidup saya.”

Amy, perempuan kosmopolis, mapan dan independent tipe pekerja keras yang mampu bekerja melampaui kodrat dan cadangan stamina untuk mengais beberapa lembar rejeki dari balik tumpukan Rupiah dengan manis semanis membelanjakannya. Kami telah bekerja keras, membanting tulang dan karenanya kami layak untuk berbelanja.

Untuk hal-hal tersebut;

“Caps..??”

“Amy, Apartemenmu ini sangat nyaman.” Jawab Caps datar yang tengah bersandar pada sofa Montiso generasi ke 7, berwarna selo seladon sambil memutar-mutar anak kunci kamar yang terkait dalam satu ring dengan kunci lemari pakaian dimana laci perhiasan Amy berada dan kunci BMW seri tebaru.

Lanjutnya setelah jedah hening yang berlangsung tidak begitu lama; “Aku yakin tidak akan melewatkan satu halpun di sini. Aku sangat mencintaimu, Amy!?”

Mendengar pernyataan itu, Amy kemudian memandangi, membayangkan satu persatu miliknya yang ada dalam ruangan itu tak terkecuali kunci-kunci yang sedang berputar-putar di jari telunjuk Caps, lalu tersenyum dengan manisnya.

Alisnya terangkat hingga membentuk beberapa kerutan tipis di dahi sambil mena-rik nafash ringan, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.

Terdengar desis siul dari bibirnya yang terlapis oleh sapuan Revlon No. 5. Dia bangga sekali pada dirinya sendiri, pada semua yang telah dicapainya dengan pekerjaannya. Dia tengah berusaha menghayati hidupnya sendiri!

Kesenangan dan kepedihan datang dan pergi, tapi siapa yang benar-benar menghayatinya?

Umur anda berapa saat ini? Sudah berapa banyak hal yang telah anda lalui dalam hidup ini? Aku bahkan berharap tidak sampai ke angka 60. Tapi kalaupun tokh lebih, aku hanya dapat berharap semuanya dapat berakhir dengan baik.

Apakah Amy akan merelakan semuanya demi cinta? Mungkin saja Caps dapat duduk berlama-lama di atas Montiso 7 yang nyaman itu, tapi apakah itu berarti bahwa dia akan mendapatkan lebih banyak, atau membawa pergi lebih banyak daripada yang selayaknya dia dapatkan? Kalau anda mengerti hakekatnya, it’s humor! Apakah anda masih memikirkannya?

It’s your problem!

“Golput bukan pilihan!”

Demikian bunyi sebuah selebaran yang terhampar di atas trotoar menuju ke pelataran parkir Plaza Senayan, beberapa waktu menjelang pemilihan Gubernur DKI.

Pada suatu periode, sebuah rentang waktu di masa lalu, di sini, di Indonesia dikenal beragam simbol-simbol dan atribut-atribut politik. Salah satu diantaranya adalah simbolisasi, atribut berdasarkan warna. Setidaknya dikenal ada beberapa warna yang familiar; Merah, kuning, hijau serta varian abu-abu dari ketiganya.

Satu varian yang tersisa adalah sebuah sikap politik, pilihan politik untuk tidak menjadi bagian, tidak berposisi ataupun beroposisi, tidak pro ataupun kontra dengan salah satu dari kepingan-kepingan patron politik yang dipetakan berdasarkan warna seperti di atas.

Dalam Negara dengan sistem dan lingkungan politik yang kalau boleh saya katakan despot dan sentralistik, di sini, saya adalah warga dunia yang bebas, dan saya memilih untuk golput, non partisan. Hakekatnya memang sudah seharusnya demikian. Anda akan mengerti nanti.

Dalam konteks politik Indonesia terakhir, sekalipun keberadaan mereka tidak terlembaga secara formal, dalam bentuk atribut-atribut yang terlihat oleh kasat mata, disadari atau tidak, mereka eksis!

Dan dari sudut pandang manapunanda melihatnya, menjadi golput, menjadi independent dan non pasrtisan adalah juga pilihan politik tersendiri.

Ini adalah sebuah cerita.

Suatu petang di sebuah kedai makan yang ramai, pada salah satu meja panjang yang cukup untuk selusin piring, duduk seorang laki-laki yang nampak tua, letih dan lesuh dari umurnya yang sebenarnya, yang berumur separu baya lebih.

Disebelahnya, duduk segerombolan anak muda, kader, dari beraneka warna kelompok partisan atau pendukung. Kedengarannya mereka tengah terlibat dalam diskusi politik yang alot.

Di tengah keasyikan itu, tiba-tiba salah seorang dari mereka melontarkan wacana golput.

Dia mulai dari bapak tua di sampingnya, yang tengah khusuk menikmati makanannya dengan gerakan tangan yang sedikit gemetaran. Sebelumnya, dia nyaris tak mengikuti dan menaruh perhatian sedikitpun dengan jalannya diskusi tersebut. Gegap gempitanya bahkan tak tersentuh lagi di kulit arinya. Sorak-sorainyapun, dia tidak ingin ikut serta menikmatinya. Menjadi bagian daripadanya. Dia tidak berkapasitas untuk itu!

“Ya.., biarlah itu menjadi peran orang lain saja. Tidak saya!”

“Tepat sekali demikian. Didunia yang luas dan beragam ini saya juga memiliki pilihan tersendiri. Dan itu berarti bukan politik. Sama sekali.., saya tidak ingin, saya tidak tertarik menyentuh wilayah tersebut!”

“Kamu tidak hanya punya alasan dan argumenasi, tentu kamu punya pengalaman?”

“Tepat sekali. Tapi untuk hal tersebut di lain waktu saja kita membahasnya!”

“Mengapa?”

“Bau! Because it’s smell. Karena baunya!”

“Dan itu karena anda paham betul dengan situasi, arenanya, para pelakunya dan masa depannya!”

“Tidak persis demikian. Hanya saja eksistensi saya, kapasitas serta kecerdasan saya sama sekali tidak diperuntukkan untuk semua hal tetek bengek demikian itu. Tidak untuk berpoliik.”

“Tapi kamu bisa menjadi kaya raya, banyak uang, punya pengaruh yang luas, hidup mewah, glamour dan terkenal dengan menjadi seorang politisi.”

“Benar. Tapi ketahuilah, dengan pilihan peran saya yang sekarang ini, saya bisa menjadi kaya, terkenal, berpengaruh dan hidup glamour berjuta kali lipat dari semua itu, dari seperti yang kamu bayangkan.”

“Jadi..?”

“Dimasa muda saya, saya pernah hidup menyerempet masuk dalam wilayah politik. Di derajatnya, saya memiliki wilayah kekuasaan politik sendiri, serta beberapa peran dan momentum yang memiliki muatan serta nilai historis di lembaran sejarah bangsa ini.

Tapi bagi saya itu semua hanyalah kulit arinya politik, dalam konsepsi dan penerapan yang sesungguhnya. Dan sampai kapanpun, pengalaman-pengalaman tersebut bagi saya tidak lebih dari sebuah kenangan, nostalgia di balik panggung politik, di wilayah akademik, di rimba otonomi kampus.”

“Oh begitu!?”

“Dengan kata lain, saya hanya sekedar mengisi hari-hari saya dengan beragam aktivitas, dan politik dalam wilayah otonomi kampus saat itu, saat pergerakam mahasiswa 1997 mulai bermetamorfosis menemukan bentuknya, politik adalah salah satu aktivitas kampus yang saya ikuti. Dia menjadi kegemaran hampir setiap mahasiswa. Seperti sekeping brownis di depan semut. Kapan lagi..!

“Tapi saya tidak. Saya punya jalan sendiri, yang saya bangun sendiri dan saya akhiri sendiri. Oposisi terhadap mainstream atau arus politik dan pergerakan mahasiswa kala itu! Saya sangat berbeda dari siapapun saat itu, dalam pilihan politik, ideologi dan aplikasinya!”

“Bagaimana dengan sekarang?”

“Jika itu termasuk juga ukuran, tak ada yang berubah! Saya tetap adalah sesuatu yang berbeda dari orang lain!”

“Selanjutnya?”

“Kepingan kecil yang tidak lebih berarti dari satuan kredit semester yang harus dikumpulkan oleh setiap mahasiswa, tidak perduli dia itu mengklaim dirinya aktifis pergerakan mahasiswa atau tidak, maksudku mahasiswa biasa.

Didunia ini, ada begitu banyak dan beragam pilihan peran untuk menjalani hidup, untuk mengisi hari-hari anda. Membuat eksistensi anda sedikit nampak ke permukaan, sedikit berarti buat hidup anda sendiri, keluarga anda, lingkungan anda, komunitas anda.

Dan, khusus untuk pilihan peran di dunia politik, saya hanya bisa berkata singkat; Jangan pernah menyentuhnya, membenamkan diri anda berserta semua sumber daya anda ke sana baik untuk bermain serius, sekedar untung-untungan, ataukah sekedar mencari hiburan jika anda memang tidak dilahirkan dan di tempa khusus untuk tujuan tersebut, dalam bidang politik tersebut.

Jika anda mengingkari takdir ini, hanya persoalan waktu saja dimana pada akhirnya anda akan melihat diri anda telah kurus kering, sumber daya dan kehidupan anda habis terhisap untuk hal-hal yang tidak akan pernah membuat anda menjadi terkenal, kaya dan berpengaruh.., dalam pengertian yang sebenarnya. Yang juga tidak akan membuat anda menjadi apapun, dalam hidup ini.

Banyak orang yang akkhirnya sengsara karena politik. Tentu anda pun telah melihat betapa banyak orang yang sukses karena politik.

Namun jika yang nampak adalah hal yang sebaliknya, kebearadaan anda memang dilahirkan dan dimungkinkan untuk terjun dalam dunia politik, jangan sungkan-sungkan menjalaninya.

Tapi ingatlah selalu. Seorang aktifis di wilayah dan tingkatan politik manapun dia berada, bukanlah seorang politisi. Ini adalah dua terminologi, atribut, kewibawaan, lingkungan peran, fungsi dan kewenangan yang saling bertolak belakang, satu dengan yang lain.

Anda sama sekali tidak perlu menjadi seorang aktifis terlebih dahulu untuk menjadi seorang politisi, terlebih menjadi seorang politisi yang handal, yang hebat yang berwibawa dengan lingkungan pengaruh yang absolute. Selalu ada proses yang panjang dan sistematik untuk menjadi seorang politisi yang sesungguhnya. Ini prinsip yang sangat mendasar. Dan hal inilah yang menurut saya sama sekali tidak dimiliki oleh para aktifis-aktifis yang ada saat ini, yang pernah anda baca namanya dikoran atau anda lihat wajah sumringahnya yang bengis di layar datar pesawat TV anda.

“Bangsat.., terus terang saja saya tidak suka sama kau, dalam banyak hal dari hidup ini, tapi bagaimanapun kau memang pernah ada disana!”

“Waktu itu kau ada dimana? Kau melihatku dari mana? Kau dengar dari siapa?”

Mereka adalah pribadi-pribadi yang sama sekali tidak memiliki mentalitas dan kapasitas yang cukup memadai yang terbangun secara baik dari akarnya untuk membantu mereka menjadikan  mereka menjadi seorang politisi.

“Mungkin mereka memang terlahir untuk sekedar menjadi aktifis!”

“Ha.., ha.., ha… Kira-kira seperti itulah kawan!”

“Saya banyak melihat yang demikian itu bertebaran di mana-mana! Paling hanya bisa menghasut, dalam eufemisme advokasi atau pendampingan. Harga naik dihaluskan secara dangkal, dieufemismekan menjadi disesuaikan!”

“Seperti itulah!”

“Dan percaya atau tidak, tak satu urusanpun bisa mereka kerjakan dengan benar, selain menjadi aktifis itu! Bagaimana?”

“Saya juga!”

“Saya juga!”

“Kamu?”

“Ya.., saya juga!”

“Dan kamu?”

“Saya juga..!”

Saat ini, dia sama sekali tidak berada pada posisi yang pas untuk menunda kesenangan. Di atas sepiring nasi berlauk beberapa potong tahu dan tempe goreng, beberapa lembar daun kol, kemangi, timun dan segelepok sambal terasi, yang dilakukannya adalah membayangkan dirinya pada sebuah tempat, tak seberapa jauh, mendatang di sebuah komplek pelacuran untuk kaum kuli pas-pasan, sekitar satu setengah kilo ke Selatan Jakarta.

Untuk kesenangannya yang lain seperti itu, dia tak akan lelah menyeret langkahnya sekalipun untuk 4 kilo, 6 kilo, bahkan lebih, seberapa jauhpun. Sekarang dia telah berumur sekitar 57 tahun, kurang lebih, dan dalam konteks politik Indonesia dimana telah terjadi banyak hal, baginya, politik tak berarti apa-apa.

“Golput.., sikap bapak?” ungkap pemuda tadi sekedar untuk berbasa-basi, sepertinya.

Keramah-tamahan, di manapun, kepada siapapun, adalah penting adanya, sekalipun hanya sebagai pemanis, atribut artifisial.

“Kalian lihat nasi ini?” seru bapak dengan itu dengan nada tegas tiba-tiba menghentak keheningan.

Lanjutnya, “Nasi ini tinggal seperempat, saya sangat menikmatinya. Dan hingga pada butir-butirnya yang terakhir, itu adalah denyut nadi kehidupan bagi saya. Terus terang saja, saja percaya penuh dengan mitos nasi sisa, tapi saya lapar, apa pedulinya mitos? Tidak ada urusan! Saya mendapatkan semua ini hanya karena belas kasihan!”

Beberapa pemuda mulai menunjukkan antusiasme dan keseriusan mereka.

Lanjutnya;

“Ngomong-ngomong panjang lebar soal golput, soal politik, apa yang terlintas di pikiran kalian saat ini tidaklah lebih baik dan lebih cerdas dari pikiran saya ketika saya masih bermur belasan tahun. Dan kalian tahu tidak, Iis telah menunggu saya dalam 2 jam ke depan. Kenal?”

“Tidak pak!” sahut beberapa pemuda serempak.

“Dia cantik dan primadona di usia mudanya. Percaya atau tidak, dengan pikiran-pikiran yang serumit itu, kalian tidak akan berakhir jauh lebih baik dari saya saat ini, pada 10-20 tahun ke depan. Ada yang mau menitip salam untuk Is?”

Tak ada jawaban.

“Bagaimana dengan bapak?”

“Bukankah kita semua terlahir masing-masing sebagai pribadi, individu yang saling berbeda satu dengan yang lainnya. Demikian pula dengan peran dan jalan hidup anda, dalam dunia ini!”

“Dan masa depan kita!”

“Absolutly!”

“Maksudmu?”

“Tidak ada lagi komentar, argumentasi yang lebih tinggi dari itu. Bahkan Tuhanpun rasanya tidak memilikinya!”

“Ha.., ha.., ha..!”

Rasanya inilah saatnya kita menjadi Bangsat[5].., yang lebih punya taste, yang lebih memiliki selera, yang lebih bercitarasa kecap.

“Pernah mendengar cita rasa kecap?”

“Setahu saya tak ada kecap yang nomor dua!”

“Ya.., yang saya tahu, kecap apapun merek anda, kecap saya yang tetap nomor satu!”

“Ha.., ha.., ha..!”

American Grill, siang tepat jam makan siang, pada sebuah meja, duduk seorang pria manis, bersih dan terawat dengan sangat baik. Sehelai dasi menggantung dikerah Armaninya, wangi Daffidoff merebak kemana-mana, menjelaskan kelasnya, bercampur dengan aneka aroma dari pengunjung lain. Semuanya wangi semerbak!

Jake, adalah seorang pria kelas atas yang sedang jatuh cinta berat. Dia meraih ponsel Philips di atas meja, menekan beberapa angka connect.

lalu “Klik!” hubungan terputus sebelum dia sempat mengucapkan;

“Hallo..?”

Dia coba sekali lagi, lalu berkali-kali, hasilnya tetap sama, Hp yang dituju sedang tidak aktif. Kegelisahan dan kekecewaannya nampak kian menjadi-jadi. Dengan perasaan separuh dongkol, bisiknya berseloroh pada diri sendiri.

“Maafkan dia Tuhan, karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat!”

Bayang-bayang Rose yang kini sedang bercengkerama mesra dengan seorang laki-laki lain terbesit menghantui dan menggerogoti pikiran sehatnya untuk tidak cemburu.

Tapi belum lagi dia selesai dengan pikiran-pikirannya, khayalan-khayalanya dan bisikan-bisikan ke dirinya sendiri, seorang perempuan yang sangat anggun dan rupawan telah berdiri di belakangnya.

“Jake..?” bisik perempuan itu dari belakang dengan ceriahnya, dengan senyumnya yang menawan tepat di telinga Jake.

Jake memutar kepalanya dengan cepat,

“Rose..?”

“Maaf, saya terlambat!”

Jake menatap tajam bibir, hidung, kedua matanya yang segar dan bening, keningnya dan alis lentik dan tebalnya yang disepuh dengan mascara Volum’ express Maybelline NY, dia terpana, terpukau, terkesima dan sangat tergoda dengan pesonanya. Kecantikannya dan daya pikatnya luar biasa, lalu menarik sebuah nafash yang panjang, wajahnya sedikit memerah sebagaimana denyut jantungnya yang berdegup sedikit berdebar dan kembali dia berbisik pada dirinya sendiri;

“Sialan, dia menyalibkanku lagi..!”

Ada sebuah anekdot yang dimulai dengan pertanyaan; Baju warna apa yang dia pakai?

Merah? Artinya dia berplat Negara. Mungkin dia punya cukup banyak relasi serta berhubungan luas dan intim dengan sejumlah pejabat Negara. Siapa yang perduli, ini khan cuma humor.

Jika dia berbaju kuning, berplat kuning, berarti dia adalah pribadi yang rileks dan fleksibel. Dia berlabel; untuk kepentingan umum! Anda pun boleh mencobanya, any time!

Apabila dia berplat hitam, sekarang saya percaya, dia benar-benar milik pribadi anda, privaat ownership.

Dia hanya milik pacaranya!

Jika anda bertemu dengan seseorang yang berlabel privaat, itu berarti bahwa; Dia masih baru. Dia bahkan nyaris belum melakukan apa-apa, tapi bukan berarti dia tidak menginginkannya.

Berani coba?

Bill Crosbi dan Phill Collins di Hero bernyanyi:

…He just a new.., He just a new..!

Ini adalah kisah nyata, entah itu lucu atau tidak. Mungkin lebih baik anda membacanya saja terlebih dahulu.

Suatu hari, kepada seorang ponakan saya berceloteh, “Saya adalah orang yang bebas dan merdeka!”

Asumsikanlah saya bernama, “Ku!” Kami sering memanggilnya obanashi ottooto dan pada kesempatan yang lain dengan sebutan hanabanashi ottooto. Dia lucu, jenaka, cerdas dan tidak usah ragu, dia sangat bahagia. Dia adalah generasi keempat di keluarga kami. Dengan hangat kami memanggilnya;

“Melokun..! sebagaimana bordiran nama di punggung, di salah satu kaosnya yang saya bordir di lantai basement blok M, di bawah lajur terminal angkutan kota.

Hari-hari setelah lewat hari itu, hampir setiap hari entah pada saat dia lagi senang, sedih atau marah, dia sering menirukan kembali ucaan saya itu, mungkin untuk maksud mengejek, katanya;

“Kakak Ku adalah orang yang bebas dan merdeka!”

Saat itu dia berumur jalan lima tahun, saat yang tak lama sebelum saya meninggalkan rumah menuju Jakarta untuk mengurus beberapa hal di Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta. Saya tidak akan pernah berhenti berpikir, suatu waktu saya akan berkeliling dunia.

Mimpi bagi orang-orang seperti saya memang kadang-kadang terdengar aneh bahkan sekalipun hanya untuk sekedar mengajukan pertanyaan; mengapa sampai saat ini saya belum juga menemukan kembali Passport Amerika atas nama saya?

“Mungkin nasib saja yang kebetulan belum kembali membaik, sampai hari ini.., saya masih tersangkut di sini!

“Jadi kamu pernah memilikinya, di suatu waktu, disuatu masa di masa lalumu?”

“Benar sekali. Tapi hilang entah dimana, setelah saya kantongi beberapa saat. Sampai kapanpun saya senantiasa berharap bisa memilikinya kembali.., atau paling tidak pasport yang baru atas nama saya sebagai pengganti. O ya.., saya menemukannya!”

“Apakah itu asli?”

“Saya tidak tahu. Seperti kataku.., saya menemukannya!”

Masih tentang Kun, saat itu ketika dia telah duduk di bangku TK, tempat dimana dia belajar cukup banyak tentang membaca, menulis dan berdoa! Soal plesetan, dia adalah otodidak, dan dia punya banyak sekali ceriata jenaka.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” katanya kepada anda pada saat kali yang pertama anda bertemu dengannya.

Suatu hari, dia pulang sekolahnya dalam keadaan terburu-buru. Masih dengan pakaian lengkapnya dengan keras dia berteriak ke arah kami, “ Atas nama papa X, anak Melokyun dan kakak Y..!”

Maafkan aku Tuhan. Aku letih dan sakit, tapi bagaimanapun kami harus tetap tersenyum dan tertawa.

Percaya atau tidak, generasi keempat kami niscaya akan tumbuh lebih makmur, sehat dan bahagia.., di manapun mereka berada!

Ada pepatah lama mengatakan; buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bagi sebagian orang, pepatah ini bukan tidak mungkin mengandung sejumlah kebenaran dan diyakini daya pikatnya.

Tapi bagi Brown dan isterinya Iput, beserta keturunan-keturunannya yang semuanya tinggal serumah dengan kami, papatah tersebut tidak berarti apa-apa.

Brown, jantan tua yang gagah dan tegar, berwarna coklat tua. Kursi rotan di beranda depan rumah adalah singasana bagi dia untuk beristirahat, tidur dan melepas lelah.

Iput adalah betina yang padat berisi, tangguh, welas asih dan sedikit lebih cerdas dari brown, telah melahirkan puluhan anak dari rahimnya. Warna bulunya coklat mudah, halus dan lembut, selembut dan seanggun gerakannya. Sedikit warna putih polkadot, seukuran donat berlapis coklat, serikaya, berlumur keju dan selai kacang serta kismis di etalase-etalase Dunkin Donuts.

Akhir kata, singkat cerita, bukan sulap bukan sihir, bukan sim bukan sala bukan bim, believe it or not, anak-anaknya yang telah berjumlah puluhan, semuanya berwarna putih doff, berseri, sehalus kapas diumur beberapa bulan. Hanya satu dua yang bercorak polkadot Dalmatian 1001, selebihnya tak ada yang coklat.

Dengan kata lain, jangankan di dunia binatang.., banyak hal-hal yang tak biasa (apakah itu luar biasa ataukah biasa-biasa saja, apakah itu berarti ataukah tidak sama sekali itu yang menjadi personalan biasa)  dan tak terduga dapat terjadi dalam hidup ini. Hidup siapa saja.

“Betapa uniknya hidup ini!”

“Benar sekali!”

Ipuuut.., kibaskan ekormu, berlari, menggonggonglah dan menyalaklah dengan gerak tari meliuk yang riang dan gembira, dengan nyaring. Ikuti kata hatimu dan buatlah duniamu, dunia kami terpesona..!

Dia tidak pernah menggigit orang, sekalipun tidak!

“Anjing saya juga tidak!”

“Bagaimana dengan punyamu?”

“Entahlah… Aku tidak memiliki cukup waktu memikirkannya.”

“Berarti kau saja!”

“Hallo..!?” suara serat, ngantuk terdengar di gendang telinga Fits dengan jelas. Dia menarik dalam-dalam Lucky Strike, menahannya sejenak di tenggorokan lalu menghembuskannya perlahan-lahan ke udara luas di depanya bersama semua cadangan udara yang tersisa dalam paru-parunya.

“Mam.., ini Fits, tolong, jangan dimatikan dulu, saya ingin mengatakan sesuatu!” pinta Fits dengan nada memohon.

“Ya.., ya.., saya mengerti, silahkan Fits, ada apa?” ujar perempuan itu sambil menguap. Setelah itu dia menegakkan tubuhnya lalu duduk di tepian spring bed Simmonsnya.

Lanjut Fits tak membuang-buang waktu dan pulsa, “Begini, saat ini saya berada mungkin tidak terlalu jauh dari rumah. Yang pasti, di sini keadaan begitu ramai dan bising. Terlalu banyak lampu-lampu yang menyilaukan mata dan lalu-lalang orang-orang tidak ada habis-habisnya.

Kalau tidak salah, di depanku, di seberang jalan adalah The Jakarta theatre.

Jadi dengan kata lain, jelas bahwa saat ini saya tengah berdiri tepat di depan restoran Mc Donald, di Sarinah. Mudah-mudahan kamu dapat menangkap ucapanku dengan baik. Tapi kalau ternyata aku salah menebak tempat ini, maklumi saja, bukankah kita berdua sama-sama telah mulai beranjak tua!”

Miss Fits hanya mengangguk-angguk lunglai sambil mencoba menahan rasa kantuknya yang kembali mulai menggerayangi.

“Maaf, saat ini aku bahkan merasakan kekuatan diriku tidaklah lebih baik dari ayahmu yang telah berumur 80 tahun.”

“Hmm…”

“Jujur saja, aku telah terlalu lemah dan letih. Aku tak kuasa lagi untuk berjalan, bahkan sekedar menyeret langkahku menyeberangi jalan di depanku. Semua orang nampak terlihat mabuk, berjalan sempoyongan dan serampangan.

Sebentar ke kiri, tak lama kemudian miring ke kanan, seperti perahu kecil yang terapung-apung di tengah lautan luas!”

“O ya Miss..?”

“Ya?”

“Kau tahu khan kau tahu khan seperti apa kehidupan seseorang dalam situasi demikian itu?”

“Saya bisa membayangkan semua situasi-situasimu Fits dengan benar. Tak terkecuali saat ini!”

“Seperti itulah. Terima kasih!”

“Jadi..?”

“Hidup ini tak ubahnya ombak-ombak laut yang tengah diterpa oleh badai yang dahsyat. Dan kita adalah perahu kecil yang ada di tengah-tengahnya!”

“Tidak.., itu kau Fits, tidak aku.., bukan kita!”

“Baiklah aku menyerah. Lagipula saya sedang tidak ingin berdebat denganmu saat ini.!”

“Saya tahu kau tidak akan melakukannya!”

“Benar. O ya.., Miss..?”

“Ya..?”

“Kamu masih ingat tidak sarapanku, Burger King Singles, Whopper serta Rootbear dari A&W, makan siang yang kau antarkan siang tadi, sekarang semuanya telah berhamburan keluar dari mulutku. Sayang, percayalah, ini baru benar-benar mabuk laut yang hebat. Benar-benar hebat sayang! Kapten Haddockpun saya rasa tidak akan mabuk seberat ini! Percaya?”

Tidak ada jawaban, hanya desah nafash terdengar di gendang telinga Fish.

“Sayang, kau tahu aku tidak pernah berbohong bahwa betapa besar aku mencintaimu. Aku berharap kau bisa berada di sampingku malam ini. Namun kalau engkau enggan berlayar denganku, setidaknya kau bisa datang secepatnya dan membawaku keluar dari kapal sialan ini! Aku sungguh-sungguh merindukanmu Miss. Aku merindukan ranjang Simmons kita yang masih baru, bagaimanapun aku harus pulang.., kamu mau khan menjemputku?

“Fits, kamu mabuk lagi khan?

“Berapa botol malam ini?” sambungnya setelah jedah yang tak terjawab. Juga tidak ada jawaban. Hanya terdengar cegukan-cegukan kecil dan dengus nafash yang berat dan bergemuruh seperti dengusan angin malam menghempaskan ombak ke pantai.

“Are you there, Fits…?”

“Ya, aku masih ada di sini. Kau tahu, aku tidak bisa kemana-mana lagi!”

“Fits, dengar.., jangan kemana-mana, tetap berada di kapalmu. Tunggu sampai aku datang, Ok?”

“Baik.., baik Mam, aku menunggumu!” Jawab Fits.

“Dasar pemabuk sialan…!” ketus missFits sambil bergegas keluar dari kamarnya di lantai 30 Epicentrum, Kuningan.

“Saya mau ke Marriott, tooi desuka? Jauhkah?” tanya seorang turis asing yang baru saja tiba di Indonesia kepada seorang pejalan kaki yang kebetulan berpapasan dengannya.

“Tidak setahu saya cukup 10 meter berjalan kaki!” jawab orang itu dengan polosnya.

So desuka? Begitukah?”

Mengangguk, “ Ya tuan!”

“Yang mana gedungnya?”

“Sebenarnya sih masih jauh. Tuan masih harus menempuh perjalanan setidaknya 1 jam dengan taxi, itupun kalau tidak macet!”

“Lalu yang 10 meter itu untuk apa?” si turis bertanya heran.

“Itu adalah jarak dari jalan raya Satrio ke gedung Marriott dengan berjalan kaki. Sebenarnya taxi bisa saja menghantarkan tuan sampai ke depan pintu hotel, hanya saja, argonya tidak lagi sama. Bagaimana tuan?”

Si turis asing terdiam sejenak, lalu cepat mengayunkan kembali langkahnya melewati orang tersebut tanpa berkata sepata katapun.

Di belakang orang itu;

“Dasar gila..!”  ketus turis itu lirih, nyaris tanpa suara.

Kura, pemabuk tua yang mulai beranjak uzur, terlihat berjalan gontai dan sempoyongan dengan santainya mendekati lampu merah perempatan Agus Salim, Menteng, yang baru saja berubah warna ke merah. Satu persatu mobil melaju langsam membentuk barisan pendek di depannya.

Saat itu kira-kira pukul 22.00 wib. Dia tinggal satu jalan, yakni belokan langsung ke arah Sutan Syahrir.

Kura, pemabuk santai yang bergerak lamban yang dengan langkah kaki terseret tak ubahnya penyu menyeret tubuhnya dia atas pasir pantai menatap sekilas kendaraan di depannya lalu melempar pandangannya lurus keatas, ke arah lampu lalu lintas yang tersamar oleh daun-daun dan ranting-ranting pohon yang berada tepat di depan di atas kepalanya, sebentar, kemudian dia menoleh kembali ke arah kendaraan di barisan pertama 3 langkah di depannya lalu sejenak melempar seretas seyum kepada perempuan di kursi depan kiri, lalu berbisik lirih;

“Cantik.., jalan!”

Perempuan yang dari tadi memperhatikan dengan seksama gerak-gerik kura dengan cepat memberikan responnya.

Dia memutar bola matanya menghadap ke traffic light yang sama searah dengan tatapan Kura yang tajam, lalu melempar pandangannya cepat ke arah Kura yang kusut, dalam hatinya dia berkata;

“Mas, malam ini tidak seperti biasanya. Coba saja lihat sekali lagi!”

Kura yang seperti terhipnotis, secepat kilat dengan gerakan yang canggung mengikuti bisikan perempuan itu, hanya saja kali ini dengan lebih jeli dan seksama. Tak lama berselang, di atas tepian trotoar itu, kura mendadak tersenyum simpul dan malu, lalu melempar langkahnya lembut ke atas lapisan aspal di depannya, menyeberangi belokan itu, melanjutkan langkahnya.

“Kau benar! Dan kau cantik sekali…, sungguh!”

Si perempuan hanya tersenyam-senyum melihat gerak gerik Kura, hingga akhirnya bayang-bayangnya hilang di balik tanaman hijau di sepanjang tepian antara jalan dan trotoar Sutan Syahrir.

Malam masih panjang untuk perempuan itu dan pasangannya, lelakinya yang setia di sisinya, menyetir.

Saatnya pulang kerumah, bagi Kura!

…Cakrawala, Apa kabarmu kawan, Cukup sudah mengembara, Kini saatnya kita pulang ke rumah!… ( God Bless )

“I am on the right track. Tuan.., saya sudah berada di jalur yang pas. Relax!” Bisik Kura mendesis karena hawa dingin.

Setiap orang punya penggemarnya sendiri.

Demikian pula dengan saya.

Di ujung jalan Imam Bonjol, arah yang menghadap ke bundaran HI dan Sogo Plaza Indonesia, di sana berlabuh Hotel Indonesia yang pada malam hari lebih menyerupai kapal penumpang yang sedang berlabuh. Disekelilingya bermekaran seribu satu gedung-gedung pencakar langit yang baru.

Kehidupan datang dan pergi seiring munculnya generasi-generasi baru. Tak seorangpun dapat mencegah siklus kehidupan!

Ditengah hiruk-pikuk semua itu, nampak seorang Polisi muda dan gagah yang mulai terlihat letih dan pusing berhadapan dengan kemacetan panjang yang tak terlihat ujung pangkalnya tiba-tiba dengan gerakan yang gesit dan tangkas dia menoleh ke arah suara yang berbicara kepadanya.

Seorang ibu dari sebuah sedan Toyota, Camry Royal Saloon tersenyum dengan genit dan manisnya ke arahnya.

Hasratnya yang telah berada di puncak kepala dengan cepat menjalar dari ujung rambut ke ujung jari jemarinya yang lentik. Tangan kanannya menggenggam dengan sangat erat stang kemudi mobil, sedangkan jari jemari di kirinya mengelas elus dengan gerakan-gerakan yang lembut dan erotis penuh hasrat kepala tuas perseneling.

Lanjutnya, “Pak, ukuran barang itu sudah maksimal ataukah masih bisa di besarkan lagi?” tanya si ibu menggoda mencari celah untuk melepas kepenatannya.

Tanpa berpikir dua kali dan membuang waktu lebih banyak lagi, cepat Polisi menjawab.

“Tergantung, Ibu harganya cocok atau tidak!” katanya sambil mengetak-ngetokkan pentungan pengatur lalu lintas yang berwarna merah ke atas telapak tangan kirinya.

Didalam sebuah metromini yang sedang melaju di atas jalan Gatot Subroto, mendekati perempatan Mampang, di Jakarta;

“Pak, jauh dekat tarifnya sama saja, 3000 perak!” keluh kenek dengan ketus dan jengkel.

“Kalau tidak jauh tapi juga tidak dekat, ongkosnya berapa?” jawab si bapak mencari celah.

“Nah, yang itu baru murah bapak, jalan kaki saja!”

“..?…”

Diatas jembatan penyeberangan yang menghubungkan trotoar depan Komdak dengan Crown Plaza dan Centro;

“Thank you very much Mister. Very good. Have a nice day!” ungkap si pengemis kepada seorang bule yang baru saja melemparkannya selembar uang 20 ribuan.

“Cape deh.., itu belum seberapa!” tanggap si bule dalam aksen Indonesia yang terputus-putus.

“Sering-sering saja lewat sini Mister!”

“Joko, perkenalkan, ini mama saya!”

“Max..? Apa kabar, lama tidak bertemu!”

“Baik-baik saja ibu. Saya sama sekali tidak menduga Sopi adalah anak tante, sungguh!” balas Jok entah Max.

“Lupakan. It’s a small world, but you have a biggest one, benarkan begitu?” balas si mama geregetan.

Sopi hanya terdiam, tak berani membayangkan ataupun menduga-duga apa yang telah terjadi sebelumnya.

Yang pasti, banyak hal telah terjadi! Atau paling tidak beberapa hal.

Pernah mengalami dan membayangkan macet yang terparah di sepanjang Thamrin, HI dan Sudirman?

Suatu waktu dari sekian hari-hari itu;

“Daripada pusing-pusing mikirin macet, kenapa tidak coba berjualan air, rokok ataukah kacang goreng saja, khan lumayan buat tambah-tambahan Pak!” kata seorang pengguna jalan mencoba berkelakar kepada seorang polisi yang terlihat pasrah melihat kemacetan panjang di depannya.

Untungnya tertib.

“Mau sih mau Dek..,” jawab polisi pendek, lalu lanjutnya bertanya.

“Tapi takut, kalau ketangkep Kantip[6] bagaimana?”

Dari kejahuan terdengar beberapa teriakan, koran-koran, kacang-kacang, tahu-tahu, rokok-rokok, aqua.., aqua, yang haus.., yang haus!

(Yang di atas hanyalah humor semata. Sedangkan yang berikut ini adalah kisah nyata. Semalam, saat saya sedang nongkrong di pinggiran Bundaran HI tak jauh dari Pos polisi yang ada di sana, ‘tak disangka-sangka sebuah mobil patroli Kantib/Trantib lewat di depan saya, berputar-putar mengitari bundaran kolam air mancur tersebut. Diatas punggung mobil, pada salah satu kursi panjang yang menghadap ke arah saya, duduk seorang bapak tua, petugas Trantib, sambil mempermainkan sebuah pentungan pengatur rambu lalu lintas berwarna merah menyalah berkedap-kedip di tangannya mengikuti irama keroncong melayu dari sebuah walkman yang tersembunyi di balik jacketnya.

Saya tidak punya komentar lebih banyak, saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak sendirian, panjaaang sekali..! Saya percaya, anda juga akan mengalami pengalaman yang serupa jika berhadapan dengan situasi serupa dengan yang saya alami, setelah membaca buku ini tentunya.)

Dalam perjalanan dari sana, sambil tersenyam-senyum sendirian, terbesit dugaan di benak saya bahwa situasi tersebut sebenarnya bukanlah situasi yang terjadi dengan sendirinya.

“Sepertinya, seseorang telah mengaturnya untukmu malam ini!”

“Bisa saja demikian!”

“Seseorang ingin melihat kau tertawa lepas malam ini!”

“Benar. Kau tahu.., sudah berbulan-bulan ini saya tidak mengalaminya. Tekanan rasanya terlalu berat untuk harus aku ladeni semua.!”

“Dan yang terpenting adalah…”

“Dia telah membaca buku ini! Dan dia jelas adalah seorang yang cerdas. Dia dapat merangkai kepingan-kepingannya dengan benar, dan menerangkannya kepada saya. Dia seolah ingin berkata; Apa yang kau buat benar-benar lucu Erich. Teruskan!”

“Dia telah berhasil membuatmu tertawa!”

“Ya…, menertawai diri sendiri dengan hasil karya sendiri. Terus terang, aku tidak menduga hal ini sebelumnya. Semoga…,!”

“Dunia pasti ikut tertawa!”

“Saya berharap demikian!”

“Satu lagi..,”

“Apa itu?”

“Ini adalah komposisi yang menarik. Seperti sebuah adonan yang terdiri dari ramuan bahan-bahan terbaik. Ada rahasianya tidak?”

“Seperti semangkok bakso dari kedai mie keluarga Kungfu Panda, ramuan, komposisi, adonan humor ini, tidak punya rahasia apapun. Ini bukan franchise. Ia hanya mengalir secara alamai dari serangkaian pengalaman dan pergumulan yang panjang bahkan bertahun dan berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Seperti kareografi dalam film-film kartun Kungfu Panda, secara simbolik dia mewakili berbagai aikon dalam dunia acting.

“Exelent. Hebat”

“Sayang..,”

“Kenapa. Ada apa?”

“Kandungan lokalnya cukup dominan. Saya berharap edisi berikunya akan lebih universal. Orang di belahan dunia manapun dapat tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Saya sangat berharap banyak pada rencana perjalanan go internasional saya.

“Kau memikirkannya?”

“Tentu! Saya terus mengintip dan mengupayakan berbagai peluang. semua itu akan sampai pada waktunya!”

“Kita adalah o….”

“Tidak usah diteruskan. Lain waktu saja . OK?”

“Ok!”

Terdengar bunyi dering yang panjang, cekatan perempuan yang duduk di dudukan ke empat dari jendela bus sebelah kiri bergegas meraih ponsel Siemens dari balik Giordano, jeans denim belelnya yang ketat membungkus pahanya yang menyerupai paha belalang; ramping dan padat berisi.

Lalu, “Tolong!” pintanya kepada seorang teman, perempuan lain di samping kirinya.

Pesan yang tertulis di sana dalam bahasa Inggris kira-kira berbunyi demikian;

“Donna, tersayang, sekarang aku sadar, kamu tidak hanya sekedar cantik dan seksi, tapi sekaligus bodoh. Embassy cukup bagus, EF setahuku lagi diskon. Mungkin inilah saatnya untuk menambah sedikit pengeluaranmu untuk mendapatkan sedikit kecerdasan, untuk kepentinganmu. Aku akan SMS 3 bulan lagi, mudah-mudahan saat itu kamu sudah bisa membaca sendiri pesan-pesanku.

Salam buat yang membacakannya untukmu.

Love!”

Di meja bar yang panjang 9/11 Farenhehit resto & bar Jakarta yang ramai, nyaman, dan eksclusiv, nampak seorang perempuan muda yang mendekati paruh baya terlihat sedang asyik melamun sambil memutar-mutar segelas Remy Martin di tangannya. Dia terlihat sangat anggun, seksi, dan eksotik di balik selembar Batik Keris biru dan potongan kebaya Melayu putih yang dibordir dengan warna yang sama yang membalut tubuhnya.

Bila dia menoleh sidikit ke kanan dari belakang dia agak mirip Madonna. ketika dia menoleh ke kiri, separuh wajahnya yang tertutup oleh kibasan rambutnya yang pirang keemasan yang menjurai ke bahunya yang seksi kurang sedikit sama lebar dan atletisnya dengan bahu milik Maria Sharapova, pada saat itu anda akan merasa seperti satu ruangan dengan Angelina Jolie!

Sementara itu, seorang pria Indonesia yang gagah, berkelas dan flamboyan mulai terlihat gelisah. Denyut nadinya berpacu sering debaran jantungnya yang kian tak menentu. Dengan setumpuk keberanian yang berhasil dia kumpulkan sedikit demi sedikit, perlahan-lahan dia mengayunkan langkahnya berjalan mendekati perempuan itu.

“Nice look Fashion!” katanya dalam bahasa Inggris dengan senyum lebar dan manis, sambil menggutak-atik lipatan dasinya.

Si perempuan bule tersenyum membalas keragu-raguannya.

“Thank you!” katanya pendek lalu mencicipi sedikit remy dari gelasnya.

“Miss.., she..?” Lanjut Ricki ragu dengan pilihan katanya dalam bahasa Inggris. Gerakan tangannya nampak semakin kuat dan cepat mengelus-elus dasinya.

“Yes.., I am Misi.[7] Anda pernah mendengarnya?” jawab si bule dengan suaranya yang bening dan merdu seperti derai tawa malaikat-malaikat.

“Please!?” lanjutnya menawarkan kursi di sampingnya kepada Ricki, kali ini dengan suara yang sedikit mendesah dan menggoda.

“Puji Tuhan…!” balas Ricki cepat lalu menemplokkan pantatnya gesit ke atas kursi tepat di samping si bule.

Oh Tuhan, dia sebagai mana aku, kami juga adalah manusia biasa, laki-laki, yang sederhana dan bersahaja.

Rasanya.., kamipun berhak untuk tergoda.

Itu Fitrah, nikhmat, salah satu karuniaMu yang terindah!

“Case closed!”

“Tha’s all?”

“Yeah..!”

“Yeah?”

“Yeah! What do you think?”

“Nothing!”

Peristiwa ini terjadi di sebuah rumah kost 12 kamar dengan setengah lusin lebih penghuni. Suatu hari salah seorang tetangga mengadakan Tahlilan.[8] Turut dalam undangan seisi penghuni rumah kost tersebut, tepat bersamaan waktunya saat kantong Dul, salah seorang penghuni kontrakan tak berisi apapun. Situasinya telah berlangsung hampir seminggu. Jangankan jajan, hutangnya telah menumpuk tersebar di mana-mana. Tak ada hal yang jauh lebih bijak saat itu untuk dia lakukan kecuali mendekam dalam kamarnya, sepanjang hari berganti hari.

Acara dimulai pukul 20.00 Wib. Semua penghuni kontrakan hadir serta di sana kecuali Dul, dengan berbagai dalih, alasan dan argumentasi yang berhasil dikembangkannya dengan baik.

“Jangan lupa…ambil yang lebih untuk saya!” ujar Dul kepada setiap orang yang berangkat.

Menjelang pukul 10 malam, Tahlilan selesai, acara bubar.

Tak lama kemudian satu persatu penghuni kontrakan muncul.

Ron, muncul paling awal dan mendapati Dul telah duduk bersandar di tiang pintu kamarnya, setengah berjongkok, siap menyambar apapun yang lewat di depannya. Ron tersenyum simpul, sambil melepaskan kopiah yang menempel di kepalanya. Ditangannya dia menenteng dua kotak makanan ringan

“Dul, ini satu buat kamu, cukup khan?”

Dul meraih kotak penganan itu dengan sigap dan senyum yang lebar lalu menaruhnya di balik pintu kamar.

Selang tak seberapa lama, Joni muncul, menebar wajah yang berseri-seri, riang dan jenaka. Dia juga menenteng dua kotak, satu untuk dirinya sendiri dan tak salah lagi, yang satu untuk Dul!

“Cuma bisa dapat segini, Dul ini buat kamu!” ungkap Joni kalem dan terdengar tulus.

Orang ketiga muncul, Paijo, dengan raut wajah yang datar, biasa-biasa saja. Dari caranya mencengkeram kedua kotak di tangannya, terselip rasa enggan di keningnya untuk berbagi dengan Dul. Dia telah melihat isinya, dan dia sangat berharap bisa makan lebih dari satu kotak. Tapi apa daya, seperti yang lain, dia telah terlanjur berjanji. Dul tak bergerak sedikitpun dari pintunya. Dengan senyum sumringah, dia melempar kotak kue pemberian Paijo ke balik pintu dimana dua kotak kue tersusun rapih di sana.

Demikian seterusnya hingga orang terakhir di kontrakan itu muncul.

“Sudah dapat Dul?”

“Sudah!” jawab Dul ringan.

“Ini.., kurang satu lagi. Tanggung!” balas Morgan lalu berlalu dengan cepat menuju kamarnya.

Setelah itu, Dul menutup pintu kamarnya.

Tak terdengar suara siapapun. Hanya bunyi tape dan radio yang saling bersahut-sahutan, memekakkan telinga. Masing-masing orang ada di kamar masing-masing, menikmat isi kotak yang baru saja mereka bawa pulang.

Dul, menatap lama tumpukan kotak kue di depannya dengan wajah berseri kegirangan. Dia menarik satu kotak, membukanya, dia lirik sebentar isinya lalu kembali menutup kotaknya dan mengembalikannya ke balik tumpukan. Jika tadi dia bingung karena lapar, sekarang kembali dia kebingungan, harus mulai dari kotak yang mana? Terlalu banyak dan terlalu sayang untuk dihabiskan sekarang, pikirnya! Dia termenung, merenung panjang sekali hingga akhirnya dia tersenyam-senyum dan tertawa sendiririan, tanpa suara.

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya diketok membuyarkan semua lamunannya;

“Tok.., tok.., tok!” yang lembut terdengar.

“Dul, buka dong kamarnya?”

Dul yang masih kebingungan bagaimana menghabiskan setumpukan kue di depannya terkejut setengah mati. Bingung apa yang harus dia lakukan. Kotak-kotak kue itu telah berserakan di atas kasurnya, tepat di depan mulut pintu. Tak ada waktu untuk memindahkannya kembali ke balik pintu. Tak tersedia kain yang cukup lebar untuk menutupinya. Tak ada yang dapat dia lakukan selain daripada melayani panggilan itu.

Dia merangkak pelan ke arah pintu kamarnya, menggeser gerendel dan membukanya, tapi hanya sedikit, sejengkal, kira-kira cukup untuk memastikan siapa orang yang memanggilnya.

“Ada apa Gon?” tanya Dul dari balik celah kecil itu kepada orang yang berdiri di depannya.

“Sudah dimakan belum kuenya?” tanya Cecep yang berdiri agak jauh dari Gon. Dul menggerakkan pintunya sedikit melebar untuk memastikan dia dapat melihat jelas keberadaan Cecep.

“Belum!” jawab Dul pendek.

“Ngak enak apa Dul?”

“Tidak tahu, gue juga belum rasain!”

Pintu kamar Dul akhirnya terbuka semakin lebar, tanpa disadarinya.

“Kalau begitu, tunggu apa lagi, ayo kita rasain rame-rame!” usul Bule’ dari arah belakang.

Akhirnya pintu kamar Dul ngablak, terbuka lebar. Satu persatu penghuni kontrakan yang sejak tadi berdesak-desakan di depan pintu masuk ke kamar Dul. Dan tak lama kemudian, kue-kue itu telah berserakan di atas lapisan kertas koran diatas kasur Dul, di hadapan kerumunan belasan orang.

Ini baru asyiknya rame-rame!

Tapi Dul, adalah tetap Dul yang lapar. Dia melahap jauh lebih banyak kue dari siapapun malam itu!

Cukup adil.., saya pikir demikian!

…Kamu , aku, adalah syurga, yang ada, dalam hidupkuuu.., dalam kenyataanku. Kamu, aku, adalah, penghuni syurga, ucapkan salam pada hidup dan mati… (The Rock!)

Dalam masyarakat tradisional Indonesia, dikenal cukup banyak kiat-kiat atau metode tradisional baik untuk kepentingan pegobatan alternativ ataupun untuk keperluan lain.

Salah satunya adalah kiat untuk memperbesar ukuran alat vital laki-laki (Baca: Penis), secara tradisional dan manual! Tak ada silicon ataupun suntikan hormon. Yang anda butuhkan untuk keperluan terapi tersebut semuanya ada di alam bebas, di alam sekitar, tinggal ambil, tinggal petik.

Sebenarnya saya belum terlalu lama mengetahui kiat ini, bahkan belum sempat mencobanya. Belum teruji secara empiris dari subjektif diri saya, tapi percaya tidak percaya, ada sementara masyarakat yang mempercayai keakuratannya.

Soal terbukti atau tidak, sekali lagi saya katakan, saya sendiri tokh bahkan belum mencobanya.

Suatu waktu saya pernah membaca di sebuah suplemen majalah Tempo, bahkan guru besar Mao sekalipun tidak terlalu percaya dengan metode pengobatan dan terapi tradisional Tiongkok. Tapi anda jangan terpengaruh, terprovokasi dan terlebih terkontaminasi oleh tulisan-tulisan ini, ini hanya sebuah contoh, serangkaian lelucon. Apa yang berlaku bagi Mao, bukan tidak berarti tidak layak untuk anda coba. Seperti kata pepatah, lain ladang lain belalang, lain orang lain cerita!

Tapi ingat, ada memang sementara hal, urusan dan orang-orang dalam hidup ini yang memang tidak penting dengan segala macam tetak-bengek urusan, kepentingan dan ceritanya.

Alkisah, ada seorang pemuda dewasa yang resah. Hari-harinya dihantui oleh ukuran penisnya yang kecil. Entah ukuran mana yang menjadi tolak ukurnya; Asia, Eropa, Amerika atau Arab?!

Masalahnya, ukuran penis yang dia miliki, faktanya, jauh lebih kecil dan mengkerut dari ukuran yang dimiliki oleh teman-temannya. Sama sekali tidak seimbang dengan postur dan tekstur tubuhnya yang gagah, tegap, bongsor, atletis dan macho.

Untuk mengobati keresahannya tersebut, dia telah telah mencoba berbagai metode terapi, dari jamu-jamu tradisional, jampi-jampi, sampai pijat self service yang rutin dilakukannya setiap pagi ditemani oleh beragam macam lady dari berbagai harga, aroma dan keharuman.

Setidaknya dia telah mencoba Lady Camay, Lady Palmolive, Lady Lux yang bercita rasa artis-artis Indonesia papan atas, Lady Cussons yang beraroma Baby, Lady Asepso yang beraroma belerang hinggga Lady B29 yang berwangi pelembut pakaian.

Dengan kata lain, nyaris tak satu pun  Lady-lady yang ada  di rak-rak Hypermarket seperti Giant dan Carrefour atau swalayan seperti Alfa dan Hero yang belum di nikhmatinya.

Ironisnya, tak ada perkembangan yang berarti. Keresahan semakin menggerogoti hari-harinya. Hingga ada suatu hari seseorang menawarinya kiat muktahir, terbaru tersebut. Demi penis yang mewaklili salah satu aspek terpenting dari masa depannya, pantang baginya untuk tidak mencoba.

Yang dia/anda perlukan sederhana saja;

Sebatang pohon terong yang memiliki bakal buah yang masih kecil, yang masih terbungkus kelopak buah. Ketokkan penis anda ke bakal buah yang telah anda pilih sebanyak tiga kali diikuti dengan membaca sebait sajak kuno yang katanya mengandung khasiat.

Selebihnya biarkan bakal buah tersebut tumbuh dan membesar, kemudian petik buahnya pada ukuran yang sama dengan ukuran penis terideal yang anda harapkan dan kehendaki. Setelah itu makan mentah-mentah buah tersebut. Bagaimana hasilnya? Akan terlihat beberapa hari setelah itu.

Saran saya; Jika anda akan menggunakannya untuk manusia, pililah ukuran yang wajar-wajar saja., yang ideal untuk itu, untuk hal tersebut. kualitas hubungan seksual sepenuhnya tidaklah ditentukan oleh seberapa besar ukuran yang anda miliki.., sekalipun itu penting!

Demikianlah, James akhirnya memilih untuk mencoba dengan harapan keinginannya terkabul. Semua lakon dijalani dengan tekun dan sempurna. Dia rajin menyirami buah masa depan buat penisnya pagi dan petang, bahkan menambahkan berbagai suplemen (Nutrisi tambahan khusus untuk pertumbuhan buah) pada air siraman. Sekarang menjadi jelas, dia begitu mendambakan sesuatu yang sangat-sangat besar. Sangat erotis, sangat seksi dan sangat menonjol, dan oleh karenanya dia lalu menjadi sangat serius!

Sampai pada suatu hari, mendadak dia mendapat tugas keluar daerah dari kantor tempatnya bekerja. Tempat dimana dia memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan terongnya.

Awalnya dia enggan memenuhi panggil-an tudas kantor tersebut. Pikirannya sepenuhnya tertuju pada terong. Dia ingin menghabiskan waktunya untuk mengurusnya, merawatnya. Dia sangat terobsesi.., karena seperti yang saya katakan, dia benar-benar mendambakan sesuatu yang besar! sesuatu yang dia harapkan dapat membuat pasangan wanitanya mengerang, menjerit dan meronta-ronta karena efek sensasi sensei yang timbul dari setiap gesekannya.., saat dia di puncak orgasme!

Tak ada yang dapat dia perbuat untuk bisa mengelak. Dia memang harus berangkat. Tapi yang coba dia upayakan sebelum berangkat adalah menyiram dan memberi suplemen pada tanaman terongnya untuk seminggu lamanya kepergiannya.

Selang seminggu, pesawat yang membawanya kembali dari tugas mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Tugas selesai, diapun pulang ke rumah, dengan segudang perasaan gundah dan was-was.

“Hudup-mati.., hidup-mati..,” bisiknya tak karuan dalam hati tiada henti.

Apa yang dia temui begitu membuka pintu kamar?

Pohon terong telah menjadi kering dan kerontang. Semua daun yang dia tinggalkan dalam keadaan hijau segar berseri kini kering dan berguguran. Sebagian bahkan telah menjelma menjadi humus. Tinggal buah yang masih menempel di ranting, itupun telah mengkerut, membusuk.

Dia terdiam, kecewa dan sangat marah.

Tak lama kemudian, terdengar dia menjerit dengan nada yang melengking, dalam hati

Semuanya telah rusak. Tak ada yang tersisa.

Dan di balik puing-puing dan reruntuhan kekecewaan hatinya, kembali dia tersontak dengan kagetnya.

Bagaimana nasib penisnya?

Apakah si kecilnya akan bernasib sama dengan pohon terong di depannya, kering dan membusuk?

Tanpa pikir panjang lagi, cepat dia mencopot Levi’snya dan memandangi penisnya.

“Utuh!” ungkapnya kemudian mendesis dengan perasaan terharu.

Tapi persoalan belum selesai. Dia kembali kasak-kusuk, mengobrak-abrik lemari pakaian, mencari kepingan VCD Blue Film terbaik dan paling seronok, erotis dan terpanas yang ada dalam daftar koleksi pribadinya. Dia berhasil menemukannya dalam waktu yang singkat, lalu menyetelnya dengan cepat.

Belum sempat adegan panas pertama dimulai, penisnya lambat laun mulai terlihat nampak berbeda. Gerakan-gerakan kecil yang menandakan gejala ereksi mulai terlihat. Dan tak lama kemudian penisnya pun mengembang dan mengeras dengan sempurna. Dia menarik nafash panjang, lalu menghelanya pelan-pelan ke arah penisnya sambil berguman dengan lepas;

“Alhamdulillah, masih hidup!” katanya sambil mengelus-elus dada.

Ukuran?

Tak ada yang berubah!

Dalam sebuah resto;

“Heart, you know, kau tahu, meskipun di matamu aku hanyalah seorang supir taksi biasa, tapi percayalah bahwa mungkin hanya aku satu-satunya supir taksi yang dengan tulus benar-benar mencintai dan memujamu. Karirmu sekarang kian menanjak, keuanganmu juga semakin mapan, kau terlihat semakin independent, tapi kalau kamu berorientasi pada kedalaman dan ketulusan cinta, pada debarannya dan keindahannya, aku pikir, kamu telah mencintai orang yang benar. Aku bahkan akan memberikannya lebih besar dari pada yang kau harapkan…”

Fish, perayu handal, sedikit urakan namun serang-sering berganti teman kencan itu mengutarakan isi hatinya yang sesungguh-nya. Kali ini sepertinya dia benar-benar tersandung di jantung hati Heart.

“Fish.., selanjutnya aku akan memanggilmu.., sayang, aku merasa tersanjung tidak hanya dengan segala pujianmu, aku juga telah merasa yakin bahwa tidak ada sedikitpun alasan bagi saya untuk meragu-ragukan ketulusan cintamu. Aku bahagia bisa menemukan laki-laki yang bisa memiliki pikiran dan komitmen yang sedalam itu. Aku rasa, itu semua cukup bagi kita untuk menciptakan hubungan yang semakin baik, kian mesra dan dewasa kedepan. Jangan lupa, Fish.., aku sangat romantis dimanapun, dalam hal apapun, sekecil apapun. Kamu harus mengerti hal itu.

Fish mengangguk-angguk kecil, tanda bahwa dia mengerti maksudnya.

“Aku begitu mendambakan kasih sayang kamu, kemeseraan dan keintiman. Kamu mesti meluangkan sedikit pengertian dan waktu kamu untuk hal tersebut. Aku tidak salah khan?”

“I am.., sayang!?” jawab Fish sembari menunjukkan hurup V di jarinya.

“Kamu mau tahu apa yang paling aku butuhkan saat ini?”

“Katakan!”

“Nyalakan “mesinmu” dan tekan “gasmu” sekuat-kuatnya!” balas Heart lalu menunjuk pada Hotel Sahid Jakarta, di depannya, di seberang jalan resto itu.

Lanjutnya, “Kamu mengerti maksudku khan?”

Tanpa berpikir lebih jauh lagi, perayu ulung yang telah siap dengan segudang jawaban atas segala macam pertanyaan dan sanggahan dengan cepat memberikan tanggapan, katanya;

“Kalau kamu mau ke sana dengan taksiku, mungkin kita akan berputar sedikit agak jauh, nantinya. Tapi kemanapun kau mau pergi, percayalah, taksiku akan selalu setia menemanimu, menunggumu dan bahkan menghantarkanmu pulang, sampai ke depan pintu kamarmupun kalau perlu! That’s love honey, that is love. Kamu mengerti itu?”

Setelah jawaban yang spontan dan polos itu, Heart langsung menghentikan lamunan manisnya. Dia menatap dalam-dalam pria yang baru menjalin kencan dengannya selama beberapa minggu, dari matanya, hingga seragam kerja yang dikenakannya dengan tatapan takjub dan iba.

Ada hening yang panjang di antara mereka sebelum akhirnya dia sampai pada kesimpulan yang membuatnya berdiri dari kursi yang didudukinya lalu menarik dengan cepat tasnya yang berisi sejumlah besar uang dan beberapa peralatan dan keperluan khusus wanita dari atas meja, dan katanya;

“Fish, yang kusayang…, saat ini kau sebenarnya tidak membutuhkan seorang kekasih. Mungkin kamu benar-benar tertarik dan mencintai saya, tapi ternyata semua itu rasanya belum cukup. Yang aku ketahui, kamu sama sekali tidak membutuhkan aku. Yang kamu butuhkan adalah penumpang untuk taksimu itu!

Ya…, itulah yang kamu butuhkan saat ini. Mungkin benar, mungkin aku yang salah, argomu seharusnya tetap berputar!

Bye.., bye my love!?”

Heart bergegas meninggalkan tempat itu dengan Fish yang masih terdiam, tertegun dan terpaku di tempatnya sambil memandangi langkah Heart semakin jauh meninggalkannya lalu menghilang di balik pintu kaca resto itu.

Tak lama berselang kemudian;

“Taksiiii..!?” Teriak Heart dengan nada kesal dan kecewa yang terdengar dengan jelas hingga ke telinga Fish.

Suatu malam, dalam perjalanan pulang ke rumah, ke tempat kost saya di Kwitang, dengan berjalan kaki dalam keadaan mabuk, saat berada tepat di depan Hotel Sahid Jakarta, tiba-tiba keluar dari sana segerombolan orang asing.

Di barisan terdepan nampak salah seorang yang mirip sekali dengan George Walker Bush, hanya saja dia kelihatannya nampak sedikit lebih gemuk dan pendek. Saat itu, Bush masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Mereka menatap tajam ke arahku, seolah memperhatikan setiap langkah dan pergerakanku.

Dan.., saat saya telah berada persis sejajar dengan mereka, sejajar dengan pintu keluar masuk ke hotel tersebut, saya menghentikan langkah…, lalu melambai-lambaikan tangan ke arah mereka, sambil berteriak;

“Taksi.., taksi Sir! Taksi…!”

Setelah itu, saya melanjutkan  langkah rutin saya tiap malam. Perjalanan masih 2 hingga 3 kilometer lagi malam itu.

Iput, Doff, Scooby, Brown…, keluar!” bentak laki-laki itu dengan lenting bas yang menggema ke seluruh sudut-sudut ruangan dan kamar dalam rumah yang tidak selesai namun berakustik sangat baik itu. Menurut kepercayaan mereka, penghuni rumah itu, selain karena maksud dan kepentingannya tidak ada, keadaan rumah itu memang sengaja dibuat tidak selesai. Karena dia didirikan di atas puing-puing, merampungkannya sama artinya dengan mempersiapkan sebuah pesta kematian.

Untuk semua itu ada caranya, ada aturan mainnya tersendiri.

“Sekali lagi.., keluar!” ulangnya lagi dongkol.

“O ya, yang namanya Manis, juga keluar!” sambungnya ketus.

Peristiwa tersebut berlangsung di sebuah tepian dusun yang letaknya tak seberapa jauh dari serantai hamparan gunung cadas yang kekar menghadap ke pusat kota.

Mereka adalah anjing-anjing yang mengisi dan menghiasi rumah kami. Banyak sekali cerita yang jenaka dan unik antara kami, rumah dan mereka. Sebenarnya, Iput masih memiliki sejumlah besar anak, tidak menulis nama mereka bukan berarti bermaksud melupakan mereka, persoalannya mereka tidak ada dalam ruangan saat peristiwa itu.

Tak usah ragu, kami sangat mencintai mereka sebesar kemarahan dan rasa kesal kami jika mereka mulai merepotkan dan bertingkah yang aneh-aneh. Mereka makan bahkan lebih banyak dari kami. Aku sangat merindukan masa-masa itu. Bagaimana dengan Masha, Maria Sharapova…? Saya berharap belum terlalu tua untuk mengidolakannya.

Jika anda tertarik dengan aksen pada persamaan-persamaan, saya rasa saya cukup memiliki beberapa persamaan di antara kami untuk sekedar memenuhi syarat agar hubungan dan rasa saling pengertian di antara kami dapat dibina lebih lanjut. Dan bahkan mungkin sedikit lebih serius!

“Tapi, sebenarnya jika anda mengetahui sedikit hal tentang saya, saya tidak pernah memikirkan hal-hal tersebut saat mencoba memulai sesuatu. Untuk menjalin hubungan dan ikatan!”

Apakah anda pernah mengidolakan seseorang?

Jika ya, bagaimana tipe anda merasakan, memandang dan mengapresiasi diri anda sendiri? Apakah anda tergolong seorang pemuja yang sentimental, emosional, yang fanatik? Apakah anda tergolong orang yang mampu memuja, mencintai, mengidolakan sekaligus menghormati idola anda baik pada saat dia mulai memetik dan mengumpulkan satu demi satu prestasi terbaik dari serangkaian ivent-ivent prestisius, hingga akhirnya dia berhasil sampai ke puncak terbaik yang dapat diraihnya dan untuk bertahan di sana sebagai yang terbaik selama beberapa waktu?

Apakah anda juga tergolong seorang fans yang mampu bertahan di kursi duduk anda pada saat idola anda mulai kehilangan langkah dan sentuhan terbaiknya dan perlahan-lahan mulai terlihat merangkak tertatih-tatih menuruni puncak prestasi?

Apakah anda tipikal pemuja yang tetap mampu menjaga semangat mengidolai idola pujaan anda pada saat anda mulai menyaksikan kenyataan yang sungguh-sungguh berseberangan dengan harapan besar anda; Idola anda terlihat tengah menyusuri tepian lapangan menuju kamar ganti pemaian dengan sorot mata berkaca-kaca, beberapa derai air mata, dengan kepala tertunduk, hati yang kecut dan remuk redam karena kekalahan demi kekalahan?

Tidak ada yang yang akan pernah bertahan abadi di dunia ini, di kehidupan ini. Ada saatnya bagi seorang peraih prestasi untuk merintis segala sesuatunya. Akan tiba saatnya bagi dia untuk sampai di puncak sebagai seorang pemenang, dan akan tiba waktunya anda akan melihatnya meninggalkan arena permainan dan menjadi bagian, menjadi salah satu dari sekian ratus, ribu, atau bahkan berjuta penonton yang berjejal di tribun dan di podium, menyaksikan jalannya pertandingan dan permaianan yang lain.

Jangan pernah berkata;

“Saya masih seharusnya tetap berada di sana selamanya!”

“Hei kawan, wake up! Coba pikirkan, berapa juta bayi yang lahir tiap detik di sekitar anda?”

Inilah hidup!

Tidak ada yang akan senantiasa berada di puncak kejayaan. Ketika masih duduk di bangku kuliah, saya termasuk satu dari segelintir pribadi yang yang dihormati dan disegani. Berbagai aktifitas akademik dan non akademik digelar dari prakarsai dan pemikiran saya bahkan dengan dukungan keuangan saya pribadi. Hasilnya adalah pergaulan yang luas, lingkungan pengaruh yang signifikan dan kemudahan serta kelonggaran-kelonggaran di bidang akademik yang ajaib!

Tapi, begitu lulus dan bergelar Sarjana Hukum, di tingkat kehidupan yang berbeda, saya sama sekali tidak berarti apa-apa. Semua berjalan terbalik dari masa lalu, dari nostalgi di masa kuliah. Saya tidak berarti apapun di mata siapapun. Saya harus mulai dari nol, membangun semuanya!

Segala sesuatu ada penjelasannya sendiri-sendiri.

Seperti inilah situasi yang saya katakan  bahwa, “Tidak semua cerita harus berjalan dengan mulus, berjalan dengan dramatis dan berakhir dengan bahagia. Seperti film-film drama Hollywood di layar perak, sekalipun beberapa di antaranya berakhir tidak bahagia, tidak menyenangkan di mata beberapa penonton, tapi akhir ceritanya sama sekali tidak mempengaruhi akhir dan kualitas ceritanya.

Yang pasti, beberapa drama dari kehidupan ini memang harus ada yang berakhir demikian. Demikian pula sebaliknya.

Anda suka atau tidak suka, pertunjukan harus tetap berjalan! Show must go on! Bahkan jika, ending yang diharapkan berakhir sebaliknya, percayalah, tontonan akan menjadi tidak lucu lagi.

Tidak menyenangkan. Mengecewakan.

Apakah hidup saya sudah berakhir?

Saya hanya percaya bahwa saat perjalanan hidup berjalan tidak sebagaimana mestinya, sebagaimana ideal yang kita inginkan, tidak menyenangkan sebagaimana yang kita harapkan, dan impikan, tak ada yang lebih berarti selain; Jalani saja! Karena hidup itu jauh lebih berharga dari apapun! Tokh, masih ada waktu untuk memperbaiki dan meraih segala sesuatunya yang tertinggal, yang hilang di suatu waktu, di tempat yang lain. Apakah saya kecewa dengan semua tetek bengek yang saya alami saat ini?

“Akh.., setidaknya saya sudah merasakan bagaimana rasanya, suka dukanya berada di puncak prestasi, pada derajatnya!”

Bagaimana dengan anda?

Saya percaya bahwa sebagian dari anda bahkan belum melakukan apa-apa, sedikitpun dalam hidup ini! Dalam hidup anda!

Jika anda tetap bertahan pada situasi ini, hanya ada satu pilihan antara anda dan penonton; Anda yang meninggalkan lapangan permainan dengan kerelaan dan pengertian yang seluas-luasnya, ataukah penonton yang akan bergeser dari kursinya dan meninggalkan pertunjukan anda dengan penuh kekecewaan sambil mengumpat;

“Sialan.., 50$ untuk semua kekonyolan ini?

Suatu hari disebuah kamar pelacuran, sehabis bercinta dengan seorang perempuan yang lumayan cantik, dia nampak lebih gemuk dan entahlah, yang pasti dia sepertinya jauh lebih tua beberapa tahun dari saya, dari yang terlihat dibawah terpaan cahaya lampu jalan dari kejahuan. Dengan sedikit make up, apapun, siapapun niscaya akan nampak lebih cantik menawan dari yang sebenarnya, nampak jauh lebih mudah dari yang anda dapat bayangkan. Inilah yang dimaksud dengan efek dramatis cahaya!

Kataku padanya;

“Bisa tidak kita mengulanginya lagi, sekali lagi?” tanyaku sambil merogoh saku, diam-diam menghitung jumlah uang yang masih tersisa.

Perempuan itu terdiam sejenak. Dia menatapku dalam. Waktu itu belum terlalu malam.

Jadi, jika tokh dia masih bersedia melakukannya sekali lagi sebagaimana permintaanku, setelah itu dia masih memiliki cukup banyak waktu tersisa untuk melayani beberapa orang berikutnya, yang berdiri dalam antrian itu. Itu tak lama setelah saya mengenakan pakaian saya kembali, dan tiba-tiba saja hasrat saya untuk kembali melakukan, untuk kembali bercinta kembali meledak.

Saya sendiri tidak ambil pusing dia sudah melayani beberapa orang sebelum dia melakukannya dengan saya? Lekukan-lekukan tipis di lehernya, di tenggorokannya bergerak naik turun  dengan lembut. Dia menelan ludah, lalu katanya;

“Malam ini cukup.., sayang! Cepat keluar dari sini dan.., lanjutkan hidupmu!” katanya sambil menaikkan resleting jensnya

Jika tidak, jika anda adalah salah satu dari sekian penonton, pemuja yang tidak bertipikal apapun, tidak jadi masalah. Tidak ada persoalan.

“Just enjoy the game!”

Nikhmati saja permainannya!

“Just enjoy it!”

“The game?”

“Ya, itu benar sekali!”

Sebagaimana percintaan-percintaan itu?

“Ya, yang telah berlalu!”

Ini sama sekali tidak terkait dengan persoalan-persoalan pilihan. Ini adalah sisi kehidupan manusia yang paling murni, pengalaman-pengalaman yang harus aku jalani. Mencari kalimat-kalimat terbaik yang dapat berbicara dengan sangat murni, baik dan lugas tentang kehidupan manusia di alam nyata, di balik gubuk-gubuk reot dan tikar-tikar koran sekali pakai lalu dibuang. Percayalah, di sana juga ada cinta yang dalam, cerita-cerita pergumulan hidup yang dramatis dan banyak percintaan!

“Ingatlah bahwa, saya juga kerap melewati hari-hari, minggu, bulan dan bahkan tahun tanpa cinta, tanpa seorangpun perempuan, tanpa percintaan!”

“Itu juga adalah bagian dari cerita bukan?”

“Exactly!”

“No more problem all right?”

“Yep! Seperti katamu!”

“Kau pantas mendapatkan semuanya!”

“Seperti itulah!

Yang terakhir, di bidang olah raga, saya sangat mengidolakan Allan Shearer, striker sejati dan kapten tim nasional Inggris, Union Jack yang tangguh. Lance Armstrong, ujung tombak tim balap sepeda Amerika Serikat yang meninggalkan arena, lintasan balapan yang panjang dan berlika-liku di puncak karirnya sebagai pembalap sepeda terbaik dunia saat itu. Dan.., Maria Sharapova, petennis Rusia yang bermukim di Florida USA, pemilik 3 atribut bergengsi yang menjadi idaman dan impian setiap orang; Petennis No. 1 dunia, mesin pembuat uang dan ikon masa depan![9]

Saya bermimpi dan berharap dapat mewariskan beberapa lembar foto yang bertanda tangan mereka, autentik, untuk anak-anak saya, untuk cucu-cucu saya dan untuk istri-istri saya.

“Istri-istri ? Apa maksudmu…?”

“Ya.., poligami. Saya adalah individu, seorang pribadi yang terbuka dengan nilai-nilai tersebut. Dan bukan tidak mungkin di suatu waktu kelak saya akan menjalani gaya hidup tersebut, berpoligami, memiliki istri-istri yang melahirkan anak-anak saya. Lagipula, saya percaya, saya mampu mencintai dan menyayangi lebih dari satu istri.

“Saya sudah mengalaminya!”

O ya, apakah ada yang ingin berpoliandri? Di sini atau di sana?

“Jalani saja!”

“Paling tidak, kalianlah, para wanita, para perempuan yang menentukan akan mengandung, melahirkan dan membesarkan anak siapa. Anak dari suami anda terkasih, anak tetangga ataukah anak dari orang lain yang tercinta!”

Harapan saya, semoga hal ini dapat membuat kalian, para wanita di belahan dunia manapun, para isteri-istri saya kelak, dapat sedikit berbesar hati, sedikit bernafash legah. Ketahuilah bahwa ini adalah kelebihan gender yang merupakan sumber kekuasaan yang mutlak dan tak terbantahkan.

“Kamipun berpikir demikian.., bapak!”

Saya tidak akan memberikan saran ataupun kritikan, terlebih menghakimi ataupun menista anda. Saya sama sekali tidak berniat mengatakannya sekalipun ada yang perlu saya katakan, perlu saya tambahkan di sini. Untuk semua hal-hal tersebut, saya punya standart moral tersendiri. Tidak ada nasehat yang lebih jitu, yang lebih baik, yang lebih manjur lebih daripada menjalaninya. Karena hanya mereka yang menjalaninya yang merasakan pergumulannya, suka dukanya, pahit manisnya.

Yang penting untuk kita ketahui dan renungkan bersama-sama adalah bahwa perselingkuhan-perselingkuhan bagaimanapun bentuknya, hubungan-hubungan seksual di luar hubungan, ikatan perkawinan dengan siapapun anda melakukannya, di manapun anda melakukannya, secara diam-diam atau terbuka dari penglihatan dan pendengaran pasangan anda, adalah sebuah bentuk, varian yang paling munafik dari poliandri ataupun poligami.

“Kemunafikan yang paling murni menurutku!”

“Ya.., itulah bentuknya yang paling murni dan paling munafik!”

Terserah anda mau menjalani gaya hidup yang mana!

O Deata……,[10] aku bilang keluar!”

Setelah hardikan itu, akhirnya satu persatu mulai meninggalkan kolong meja bundar itu dengan langkah-langkah enggan yang teratur sambil sesekali menoleh ke belakang, pada remah-remah makanan yang masih belum sempat mereka habiskan, di lantai.

Positifnya, jika suasana hati mereka lagi baik, kami bahkan tidak perlu meminta atau membentak mereka untuk membantu kami menyapu lantai.

Tinggal buka pintu saja, semua bersih dalam sekejap!

Seorang pelawak mengisi kolom jawaban TTS dengan humor-humor, sinisme dan bahkan celaan yang bernada humor atau satir. Seorang pengusaha tak terlalu berbeda jauh dengan para birokrat, yaitu dengan angka-angka dan daftar proyek. Sedangkan seorang politisi tidaklah lebih meyakinkan dari pacar anda, yaitu dengan rayuan dan janji-janji!

“Seperti..?”

…………………………………..! fill the blank with a name!

Jika anda mempunyai satu nama yang memiliki karakter yang demikian itu, bait kosong ini memang disediakan untuk mereka, untuk menuliskan nama mereka, atau bahkan nama anda sendiri!

“Boleh juga!”

Disebuah ruangan tertutup yang cukup luas dengan tingkat pengawasan, pengamanan dan resiko maksimum dengan sederetan poster warna-warni yang tergantung pada keempat sisi dindingnya, tampak lusinan orang beragam umur dan latar belakang kelas sosial terlihat tengah asyik bermain-main, dengan diri mereka sendiri.

Salah seorang di antaranya bernama, Santa.

Sebuah koran lama terbentang di depannya. Perhatiannya tertuju pada TTS yang ada di sana. Satu hal yang paling menyenangkan dari orang-orang gila adalah bahwa mereka tidak pernah perduli apakah mereka miskin atau kaya.

Mereka bahkan tidak tahu!

Dari kerutan tebal di dahinya, nampak sekali bahwa dia sangat terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di sana. Tapi kotak-kotak jawabannya sendiri masih kosong melompong, selama hampir dua jam dia sibuk dengan dengan TTS itu. Mungkinkah pertanyaan-pertanyaannya terlalu berat bagi Santa?

Mungkinkah pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu di jawab karena dia memang tidak perlu di jawab? Atau boleh jadi semua pertanyaan sebenarnya telah terjawab, hanya saja masih terkatung-katung di kepala Santa.

Bagi orang seperti Santa, kesimpulan macam apapun bisa dibuat. Semakin tebal anda melihat kerutan di dahinya, semakin jelas nampak keseriusannya, namun ketahuilah bahwa bukan berarti semakin keras Santa berpikir.

“Kau sudah menemukan jawabannya, Santa? tanya Panjul yang sekonyong-konyong telah berada di sampingnya.

“Belum!”

“Hingga sekian waktu ini? Aku ragu, kamu mungkin salah mengerti pertanyaannya!”

“Tidak, keraguanmu tidak beralasan. Seharusnya aku cukup pandai hanya untuk pertanyaan-pertanyaan pendek seperti ini. Kau tahu betul kapasitas dan kecerdasanku khan?” Jawab Santa berkilah.

“Lalu?”

“Dugaanku, pertanyaan-pertanyaan ini pada dasarnya bukanlah pertanyaan, tapi pernyataan. Kau seharusnya tidak perlu berpikir mencari jawaban bukan? Bagaimana menurutmu, Panjul?”

“Sepakat!”

“Aku rasa, mereka sengaja membuat kacau TTS ini, membuat kacau pikiran kita. Mereka seharusnya tahu, masih cukup banyak orang waras di dunia ini!”

“Yang pasti aku tidak mau ikut-ikutan sinting. Sebaiknya kita tinggal pergi saja TTS ini!”

“Usul yang cerdas, masuk akal. Ayo.., Panjul, kita pergi dari sini!”

Belakangan diketahui bahwa peristiwa itu berlangsung di sebuah panti rehabilitasi cacat mental, Rumah sakit jiwa, di sini, di Jakarta.

Dalam sebuah arena lomba lari 10 Km yang diikuti oleh para pelari-pelari tercepat dari kelompok siput pantai, siput darat dan kura-kura, yang secara kebetulan disiarkan secara langsung melalui tabung kaca flat TV anda, menurut anda, siapakah dari ketiga kelompok itu yang akan keluar sebagai pemenang?

Saran saya, sebaiknya anda matikan saja dulu pesawat TV anda dan nyalakan kembali besok hari pada jam yang sama. Kalau anda beruntung, anda akan melihat salah satu dari mereka setidaknya sudah setengah mendekati garis finish. Kalau ternyata belum, hal ini berarti, anda masih harus menunggu satu hari lagi untuk mengetahui siapakah pemenangnya. Mereka baru setengah perjalanan. Kalau tidak, boleh jadi mereka telah bergerak ke arah yang salah.

Apakah anda masih penasaran dengan pemenangnya, ini berarti kerusakan bukan di pesawat TV anda, tapi pada diri anda sendiri!

Dalam suatu penerbangan reguler Jakarta-Tokyo yang baru saja lepas landas, awak kabin maskapai JAL itu menerangkan tujuan dan waktu tempuh penerbangan serta beberapa tata tertib standart dalam pesawat selama penerbangan berlangsung. Tiba-tiba salah seorang penumpang laki-laki berteriak-teriak memanggil seorang Pramugari yang berdiri tidak jauh dari tempatnya;

“Benar ini penerbangan Jakarta-Tokyo?” tanya bapak itu mencari tahu.

“Benar, bapak tidak salah dengar. Ada yang bisa saya Bantu?”

“Ya.., saya seharusnya terbang ke Shanghai!” Pramugari yang terheran-heran dengan penjelasan itu kemudian meminta dokumen penerbangan si penumpang dan memeriksanya dengan seksama. Dia benar, dia telah salah naik pesawat.

“Maaf atas kesalahan prosedur ini. Kami berjanji akan mengurus keperluan transit anda nanti setelah pesawat ini mendarat di Tokyo. Kru kami akan membantu anda mempersiapkan semua keperluan transit anda sebelum anda melanjutkan perjalalan anda ke Shanghai, Dari Narita International airport!

Selamat menikmati perjalanan anda!”

“O…, tidak usah repot-repot, Nona!” sambung bapak itu cepat.

Lanjutnya kemudian, “Saat ini saya letih sekali. Saya mau tidur saja. Yang penting, jangan sampai nona lupa membangunkan saya setelah pesawat ini mendarat kembali di Jakarta. Ok?”

“..?…”

Don’t Worry be happy!

Hu, hu, hu, hu, hu, hu, hu, hu, hu, hu.., hu., .hu.., hu., hu….

Ini adalah kasus seorang pemuda dusun yang tekun, seorang pekerja keras yang berangkat ke ladang pada saat masih pagi buta dan pulang menjelang senja. Malam selepas Isa hingga jam 12 malam adalah saat bagi dia untuk melepas lelah, santai di depan TV, menonton beraneka macam hiburan.

Suatu hari, dia melihat iklan SMS artis di TV. Dengan meregister nomor ponsel anda di jalur tersebut, jika anda beruntung anda akan mendapatkan SMS langsung dari artis yang bersangkutan.

Jika keberuntungan anda ternyata lebih baik lagi, anda bahkan akan mendapatkan telpon langsung, pribadi, dari artisnya.

Punya teman artis, bintang, super star, banyak duit..? Apapun bisa terjadi dalam hidup anda. Yang pasti anda harus mampu mengimbangi rutinitasnya, pergaulan sosialnya, program-programnya tidak terkecuali petualangan-petualangannya, dan ini berarti bahwa anda harus memiliki stamina yang luar biasa. Anda mungkin akan mengikutinya terbang lebih jauh dari yang mampu anda jalani, lebih tinggi dari penerbangan bapak tadi. Ini pengalaman yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan.

Asssalammualaikum, Dhani Achmad?”

Walaikum salam!

“Apa kabar. Kaifahalaaqu?

“Baik-baik saja. Bichoir alhamdulillah!”

“Siapa ya?”

“Saya Erich. Namun itu tidak penting. Sayapun baik-baik saja. Wa ana bichoir.

“Ada apa?”

“Aku hanya orang lewat. Sekedar mampir saja, sejnak. O ya, Dhani Achmad…”

“Ya.., saya sendiri..!”

“Kau tidak membutuhkan seorang bintang untuk menggapai dunia. Kau sama sekali tidak memerlukan kehadiran seorang bintang untuk menghiasi hidupmu, untuk mewarnai hidupmu, untuk kau menikmati hidup. Sayapun demikian. Kau hampir memiliki banyak hal yang aku kagumi. Kau salah satu yang terbaik. Dan ingat, saya juga adalah seorang penggemar fanatic QUEEN. Tapi…”

“Tapi apa? Kenapa?”

“Aku punya gaya dan selera sendiri. Kau juga khan?”

“Ha..ha..ha.., tentu saja Erich!”

“O ya.., bagaimana kelanjutan cerita tentang bintang itu?

“Ha.., ha.., ha…! Itu masa lalu! Saya, cukup SMS saja!”

Demikian kira-kira maksud dari iklan tersebut, sangat menarik, menantang, sebuah petualangan cinta yang menegangkan di dunia maya, di dunia bintang-bintang, dan Kacur, pria dusun lugu dan bahkan sangat sopan itu telah tergoda. Dia punya HP seukuran Remote control model lama, butut, tapi tidak mengapa, setidaknya bisa digunakan untuk SMSan. Dan percaya atau tidak, sekarang akan dia gunakan untuk menggaet bintang, artis cantik yang membuat dia tidak pernah tidur dengan nyenyak.

“Dia bagaikan nyamuk yang menyebalkan dalam tidurnya!”

Waktu berlalu dengan cepat, SMS pertama akhirnya terkirim. Konfirmasi balasan menyebutkan bahwa nomornya telah terdaftar di jalur artis yang bersangkutan. Untungnya Kacur bukan tipe orang dusun yang menggebu-gebu, beberapa hari kemudian barulah dia mulai mengirimkan pesan baru. Tulisnya;

“Ini adalah SMS perdana saya, kepada kamu artis yang sangat aku idolakan. Aku bahkan memimpikanmu siang dan malam, entah saat berbantal kapuk pada selembar tikar di atas ranjang kayu ataukah saat tengah beristirahat di ladang, berbantalkan rumput, grass for his pollow![11]

Di kebun aku punya sebuah pondok kecil untuk tempat beristirahat. O ya, aku juga menanam beragam buah-buahan dan sayuran.

Cantik.., apakah kamu sukan makan buah-buhan dan sayuran? Dengan senang hati aku akan mengirimkannya untuk kamu. Mau papaya, mangga, pisang, timun, bayam atau kangkung? Kamu, hai artis idolaku, tinggal bilang, tinggal pesan. Balas SMSku yach! Love always.., Kacur!”

Selang beberapa lama kemudian, program penjawab otomatis di jalur hotline itu mengirimkan pesan yang sama kepada semua fans di manapun dia berada;

“Mashasih.., hari ini lagi super sibuk. Pagi ada kuliah dan les piano. Siangnya latihan dance untuk persiapan konser bulan depan. Malamnya ada janji makan malam dengan beberapa produser LN. Biar tidak kehabisan, jangan lupa beli tiket nonton konserku bulan depan mulai dari sekarang. Aku tunggu loh SMS kamu! Kamu-kamu sendiri lagi pada ngapain?”

Penasaran dengan bunyi pesan balasan itu, keesokan harinya Kacur kembali menulis pesan, pesannya yang ke tiga;

“Mashasih, aku sangat memujamu. Kau tahu itu khan? Engkau menempati tempat yang yang sangat khusus di ruang hati saya. Seharusnya bathinmu dapat merasakan hal ini. Apakah hatimu tidak berbisik, tidak berkata apa-apa sedikitpun tentang aku, tentang kehadiranku dalam hidupmu melalui SMS ini? Setidaknya keberadaanku dapat kau rasakan di tanganmu setiap kali pesanku masuk ke ponselmu! Aku sering menontonmu di MTV, tapi aku mungkin tidak akan pernah bisa hadir dalam konsermu.

Aku tidak mungkin meninggalkan kebunku. Sayur-mayurku dan buah-buahanku yang tak lama lagi akan panen. Apakah kamu yakin benar-benar tidak mengharapkan kiriman singkong, papaya, pisang, atau buncis dari saya?

Aku tidak tahu yang mana dari alternatif yang saya tawarkan ini yang paling kau sukai dan paling menggugah seleramu. Sebenarnya saya sangat berharap setidaknya kamu menyinggung hal itu dalam SMSmu kemarin, walaupun hanya sedikit. Itulah yang rasanya seharusnya kamu lakukan. Seperti gayung bersambut!

Tadi siang separuh pohon singkongku telah aku panen, jika kamu tertarik aku dengan senang hati akan mengirimkan beberapa untuk kamu. Tapi bisa aku tebak, kau pasti lebih tertarik dengan keju daripada singkong. Itu wajar saja, kamu adalah artis. Namun menurutku kamu dapat saja menjadi seorang artis yang mencampur keju dan Kraff menjadi keripik keju singkong!

Sayang.., singkong apa keju, mana yang paling menarik buatmu? Entahlah… Menurutku, tokh kamu bisa membuat keripik singkong lalu menaburinya dengan parutan keju. Tolong.., tanggapi SMSku ini! Berjuta cinta, dari saya untuk kamu! Kacur.”

Mesin penerima dan penjawab otomatis di jalur hotline rupanya bekerja dengan baik sekali. Tak sampai seperempat jam, ponsel Kacur telah kembali menyalak. Pesan yang masuk ke ponselnya;

“Pagi ini Mashasih ada syuting video klip album terbaruku. Setelah istirahat siang dan fitness biar stamina tetap sehat, vit dan bugar, menjelang tengah malam aku akan terbang ke Eropa untuk liburan Natal. Tunggu cerita dari akyu yach!”

Setelah pesan itu, Kacur akhirnya sadar ada sesuatu yang ganjil antara dia dengan Mashasih, dengan artis idolanya. Ada computer dan mesin penjawab otomatis. Dia pantas untuk merasa kecewa, tapi tidak untuk putus asa. Dia coba mencari akal. Perlakuan ini harus dibalas, kesalnya. Summa inniura, ketidakadilan yang luar biasa, terhadap dirinya, terhadap keluguannya.

Keesokan harinya, dia mulai mengirimkan pesan-pesan yang seadanya, ’ngaco, tanpa maksud apa-apa. Bahkan maaf, tidak ketinggalan pesan-pesan jorok, sekedar untuk mengetahui responsinya.

Apakah ada yang tersinggung?

Yang menarik, setiap kali dia menerima pesan balasan yang jelas sama sekali tidak responsif dengan pesan-pesan yang dia kirimkan, setiap itu pula dia terlihat merasa puas dan bahagia. Dia seperti merasa telah berhasil memperdaya komputer, mesin penjawab otomatis di jalur tersebut, teknologi yang telah menghancurkan harapannya untuk mendapatkan akses langsung dan pribadi dengan artis idolanya.

”Punya pacar seorang super star, bintang idola?”

”Hei Kacur.., kau cuma mimpi! Mengerti?”

”Bangsat…, diam kau! Setidaknya aku memilikinya. Kau puas khan sekarang?”

”Easy, it’s all right baby!”

”Hmm.., aku tahu, sedikitpun kau bahkan tidak memilikya!” guman Kacur pada dirinya sendiri.

Saya kurang tahu, apakah Kacur masih mengirimkan pesan-pesannya sampai sekarang. Kalau ternyata masih, saya yakin, dia tidak akan pernah berhenti merasa menang, puas dan bahagia.

Jika Kacur telah begitu menikmatinya, ini berarti seseorang harus menolongnya keluar dari sana!

Dalam suatu wawancara eksklusiv yang menempati beberapa halaman sebuah tabloid sport, kepada Ace, salah seorang pelari tercepat abad ini, diajukan puluhan pertanyaan. Salah satunya adalah kontroversi seputar pengunduran dirinya dari sebuah arena lomba lari maraton yang tidak kalah kontroversinya; mometnya, gengsinya dan sudah pasti hadiahnya yang bahkan membuat bulu kuduk merinding.

”What is going on?” kata seorang reporter mengakhiri salah satu pertanyaannya.

Jawab Ace menanggapi pertanyaan yang sarat dengan penyesalan itu;

“Anda sedang berlomba, berlari dengan segerombolan binatang. Beberapa spesies diantaranya bahkan bisa berlari 100x lipat lebih cepat dari saya. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana segerombolan gajah, kuda dan banteng berlari, full power, mata tidak akan berfungsi terlalu banyak, dan otak tidak penting bagi mereka. Saya tidak pernah bisa membayangkan dengan lebih baik akan bisa berlari sampai ke garis finish dengan segerombolan Cheeta, macan, harimau dan serigala berlari di belakang saya. Singa tidak akan pernah memikirkan garis finish jika anda berlari di depannya. Dia tidak akan berlari sekuat tenaga untuk menyentuh garis finish, dia berlari untuk anda! Yang saya tahu, untuk tetap hidup, saya tidak boleh terlihat di garis start. Apakah ada tanggapan dan argumentasi yang lebih baik dan manusiawi untuk saya?

”Tidak…, tidak ada tuan Ace! Maaf.”

“Aummm.., rrrr..!”

Suatu petang antara Ashar dan Magrib, di sebuah perkampungan padat penduduk di pusat Jakarta,

”Telah ditemukan seorang anak berumur 5 tahun. Bagi yang merasa telah kehilangan anak, harap segera menjemputnya di Masjid!”

Demikian bunyi pengumuman yang dikumandangkan melalui microphone, pengeras suara, yang biasanya digunakan untuk menyiarkan Adzan dan Kothbah Jum’at.

Selang satu jam kemudian, pengeras suara itu kembali menyalak mengumumkan pengumuman yang sama dan sebuah pengumuman tambahan yang bunyinya,

”Dan juga baru saya ditemukan sebuah tas atau dompet wanita yang berisi beberapa kartu kredit, buku cek dan uang tunai kira-kira lima juta rupiah. Bagi yang merasa telah kehilangan dompet atau tas harap segera melapor kepada pengurus Masjid!”

Dari balik pintu kamar kontrakan saya yang menghadap persis ke sebuah warung sembako (Kebutuhan-kebutuhan pokok rumah tangga) yang ramai dipenuhi oleh cukup banyak ibu-ibu rumah tangga yang hendak berbelanja kebutuhan dapur, terdengar salah seorang dari mereka bertanya dengan suara yang lantang kepada ibu-ibu yang lain,

”Kalian percaya ada yang punya uang sebanyak itu di kampung ini?
”Tidak..!” jawab ibu-ibu yang lain hampir serentak.

Diatas sebuah trem di pinggiran pusat kota Washingthon DC, salah seorang penumpang tiba-tiba mengeluarkan serangkaian bunyi-bunyian yang sekalipun manusiwi tapi jelas sangat mengganggu, menguap disertai dengan suara keras yang panjang.

”Tidak sopan!” keluh dan kesah seorang penumpang di sampingnya.

”Siapa yang suruh anda mendengarnya. Besok-besok, tiap kali naik trem, tolong anda gunakan Headphone!” jawab bapak itu membela diri.

Mendengar jawaban itu, si pemrotes langsung melempar pandangannya keluar jendela. Tapi tak lama kemudian, tiba-tiba wajahnya memerah, meringis seperti menahan sesuatu, dan tak lama kemudian terdengar bunyi kentutnya yang keras.

”Lebih tidak sopan!” protes bapak tadi dengan keras.

”Anda mendengarnya juga ya?

“Yes.., very noisy, Sangat berisik…, you know?”

“Sepertinya stelan earing aid anda terlalu sensitif. sebaiknya anda memperbaikinya kapan waktu!” balas orang itu lalu cepat membuang pandangannya kembali ke jalan, tak mengharapkan percakapan lanjutan.

Suatu waktu, Ibu, Kakak dan adik saya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pameran bunga Anggrek species di TMII. Ikut serta dalam rombongan tersebut, tentu saja Melokun. Saya sendiri tidak ikut, disuruh menunggui rumah, menjaga kebun dan merawat tanaman.

Suatu sore, salah seorang penjaga stand di samping stand kami kebetulan menyiram bunga dagangan mereka yang berjejer searah dengan paranet pembatas antar stand. Entah itu sengaja untuk maksud guyon atau tidak, cipratan air dari spoit, alat siram tersebut kebetulan mengenai tubuhnya yang tengah asyik mengawasi para pengunjung. Tentu saja dia kaget bercampur bingung. Merasa tidak terima dengan cipratan air tersebut, dengan lugas dan kejujurannya yang lugu dia lalu protes, katanya;

”Mami saya tanam bunga, papa saya tanam bunga, Kakak saya tanam bunga, saya juga tanam bunga. Jangan kamu semprat-semprot saya, nanti saya tumbuh bunga!!?”

“..?…”

Menurutku, sepertinya kamu benar-benar telah menyakiti hati Melo!

Melokun, keterusterangannya lugu, kejujurannya gamblang dan tidak untuk diragukan. Dia adalah seorang anak berumur 4 tahun kala itu, yang selalu memiliki rencana yang unik dan menarik dalam benaknya yang bersahaja.

Suatu malam di sebuah tempat hiburan malam, nampak seorang pria paruh baya tengah mengamati dengan seksama sederetan perempuan yang duduk berjejer di balik kaca tembus pandang membelakangi mereka, dalam sebuah show room exclusive club streaptease yang remang.

”Yang mana yang anda sukai tuan Guido?” tanya pelayan yang bertugas memandu tuan Guido menemukan pilihannya.

”Bisa tidak kamu menyuruh mereka membalikkan badan? Saya ingin melihat wajah mereka satu persatu terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan.” tanya tuan Guido yakin.

”Dikenakan biaya 1 poin per orang, atau setara dengan sepersepuluh harga satu barel minyak di bursa internasional hari ini, Tuan!”

”Kalau saya menyentuhnya?”

”15 $!”

”Kalau sekedar mengajaknya mengobrol?”

”50 $ per jam, Tuan!”

”Untuk bercumbu?” tanya tuan Guido semakin mendesak.

”Juga 50 $ perjam.”

”Bagaimana kalau saya bercinta dengannya?”

”100 $ per jam.”

”Sepertinya tidak menjadi persoalan. O ya, selain itu, apakah masih ada lagi yang harus saya bayar?”

”Masih Tuan, service charge 10 $, room standart 100 $ short time, compliment 50 $ dan pajak kesenangan 10 % dari total biaya keseluruhan!”

”Kira-kira 376 $ plus pajak 10 % untuk semuanya, benar begitu?”

”Benar sekali Tuan!”

”Oh Tuhan, jika semua ini benar-benar terjadi, malam ini akan menjadi transaksi yang sangat kejam yang pernah saya alami!”

“Maksud Tuan?”

“Ini pemerasan namanya, tidak koperatif dan dan sungguh tidak manusiawi!”

”Ada apa Tuan?”

”Ternyata saya harus pulang lebih cepat. I am brook, saya bangkrut. Saya hanya punya satu poin di dompet!”

“Sebaiknya begitu tuan!” balas si Guido  dengan ketus, dengan kesal.

Simbol-simbol ikonik yang lucu-lucu dan sarat makna ini saya adaptasi dari kupon costumer feedback yang saya peroleh dari salah satu gerai Fren Mobile 8, di Kebon Sirih. Dengan sedikit memplesetkan cara pandang dan pemahamannya, ikon-ikon tersebut kira-kira berarti demikian;

Saya minta terus. Sangat-sangat memuaskan!

Kadang-kadang puas, tapi tak jarang pula begitu memuakkan. Dia tipe yang biasa-biasa saja! No comment, saya tidak punya komentar. Tapi apakah anda merasa tertantang? Kalau begitu, jalani saja! Paling tidak ikuti kata hati anda. Tokh.., sebelum mencobanya, anda tidak akan pernah tahu apakah anda salah dalam memilih, salah dalam membuat keputusan atau tidak. Dia akan memuaskan anda ataukah sebaliknya!

Setan..! dia ternyata mengecewakan siapapun. Anda pernah?

Sekarang, saatnya bagi anda untuk menemukan sudut pandangnya. Buka amplop pesan yang baru saja masuk ke ponsel anda, entah dari siapa; Mungkin dari pacar anda, kekasih gelap, fans fanatik, bos atau majikan anda, buruh atau bawahan anda, teman atau bahkan orang-orang yang berkepribadian minus dengan karakter-karakter yang tidak menarik, tidak menyenangkan dan bahkan berkecenderungan merusak.

Yang terakhir ini, anda perlu sangat mengenalinya, memahaminya, tapi harus menghindarkannya masuk dalam kehidupan anda. Mengenai hal ini, anda tidak perlu menunggu sampai gelap atau mencari jalan sempit dan sunyi untuk menghindarinya. Jangan pikirkan apapun, ayunkan langkah anda seringan mungkin, dan tinggalkan dia! Itu adalah hak anda yang paling azasi, hakiki dan paling manusiawi. Jangan tunggu sampai anda terbawa arus dan tenggelam dalam pusara kategori, tentang mereka.

Memang ini bukanlah persoalan yang mudah. Anda mungkin akan banyak terbentur pada banyak persoalan tentang pengertian. Mereka memang sangat susah untuk mengerti dengan cepat, sama seperti ketidakmampuan mereka memberikan pengertian dengan lebih baik, arif dan manusiwi. Tapi tidak mengapa, enjoy saja, dengan demikian, setidaknya mereka telah menjelaskan siapa, hakekat dan kualitas diri mereka sendiri jauh lebih baik dari perkataan dan nasehat apapun yang bisa anda ucapkan.

Apakah saya juga berkelakuan dan berkepribadian minus?

Saya pikir ini cukup adil; saya telah melewati begitu banyak jalan yang sepi, menghindari, dan demikianpun sebaliknya!

Siapapun pengirim pesan itu, adalah tidak penting sebagaimana pesan ini. Yang penting untuk anda renungkan dan cermati adalah bahwa bagi anda simbol yang manakah yang telah dikirimkan untuk anda? ini bisa jadi merupakan gambaran tingkat kemajuan, kedewasaan dan pencapaian anda selama kurun beberapa waktu terakhir.

Toujour la pour moi!”

Saya tidak bisa berbahasa Prancis sama sekali, tapi ungkapan tersebut kira-kira berarti demikian;

”Kepuasan anda adalah persoalan utama kami…, berdua!”

Apakah penterjemahan saya salah? Apakah anda di 5 a Sec kecewa? Akh…, sebenarnya saya belum pernah masuk ke sana. Saya hanya melewatinya dan melihatnya dari kejauhuan.

Saya tidak punya apa-apa untuk di laundry atau di dry cleaning!

What ever, lupakan!

…You are my best Friend..! (Queen)

”I am suppouse to be…!

Continiue….

Berikut ini beberapa buku bacaan yang telah membantu saya menghayati dan memahami beberapa hal dari kehidupan yang jenaka ini, untuk memahami tekhnik menggarap thema, karakter tokoh dan sudut pandang, dengan jenaka juga, tentunya:

  1. Siasat gonjang-ganjing (Guy Kawasaki, pustaka Delapratasa.)
  2. Differentiatie or die (Jack Trout & Steve Rivkin, penerbit Erlangga.)
  3. Siasat mencaplok Time (Richard .M. Clurman, pustaka Delapratasa.)
  4. Propaganda; seni menjual budaya Amerika ke dunia (Nancy Snow, penerbit Opini.)
  5. Dare to make a mistake (Richard Farson & Ralph Keyes, BIP kelompok Gramedia.)
  6. Astrologi asmara (Sarah Holcombe, penerbit Kentindo.)
  7. P i n g! (Stuart Avery Gold, BIP kelompok Gramedia.)
  8. Comunicating beyond our differentiaties (Susan Delingger, Grasindo Jakarta.)
  9. The christmas thief (Mary Higgins Clark & Carol Higgins Clark. Gramedia GPU Jakarta)

Lahir di; Makale Tana Toraja, Sulawesi Selatan 15 Mei 1975. Pendidikan; SD Kristen II Makale, Tana Toraja. SMP Strada Budi Luhur Bekasi. SMA KAPIN Jakarta Timur. Fakalutas Hukum UKI Jakarta. Riwayat lain; Aktif dalam pergerakan mahasiswa 1997-1999. Pemred Bulletin kampus “Reformasi” dan “Colloseum”. Sekjen Forum diskusi Mahasiswa (FORDIMA FH UKI). KP. Bakhti sosial FH UKI 1999 dan KP Seminar bertajuk; Reformasi: antara cita-cita dan realita. Pemred tabloid “Panji Demokrasi” th. 2003. Membuka kantor advokad partikelir th 2002-2005. Karya tulis: Kompilasi essay dan artikel th 1997-2005. Novel hukum: “Pengacara Pilihan” (Indie, Jakarta 2004). Kompilasi humor: FREE ATTITUDE; Manifesto kehendak bebas orang-orang merdeka! ( 2008 Belum terbit). AN OTOBIOGRAFI; Kami akan mengenangnya! (2009 Belum terbit).

NOTES

NOTES

NOTES

NOTES

NOTES


[1] Dalam bahasa Jepang berarti; Selamat tinggal, selamat jalan, selamat berpisah, sampai jumpa lagi. Mata dalam bahasa India bearti tikus. Dalam peta wisata India, terdapat sebuah kuil keramat yang disebut The Temple of mata, Kuil tikus! Tempat ini menjadi salah satu titik point dalam reality show di jaringan TV Amerila, The Journey!

[2] Besar. Jumbo. Giant. Oh.., besar sekali! Bazaar adalah juga  nama sebuah korporasi  penerbitan majalah fashion & life style dalam industri  jurnalistik berskala  multinasional.

[3] Pace= Papa, ayah. Kaka’= kaka’ atau saudara laki-laki yang lebih tua. Kedua kata ini merupakan ungkapan/panggilan akrab dalam bahasa papua.

[4] Levis adalah sebutan slang dari Levi’s yang dalam bahasa Indonesia sehari-hari bersinonim dengan nama buah atau biji-bijian yang bernama pete’. Dalam bahasa latin termasuk dalam kelompok family Tara. Bila di makan secara berlebihan akan menyebabkan nafash dan mulut menjadi bau, menjadi tidak sedap rasanya, dan aromanya. Demikian pula dengan air seni. Rasanya sendiri? Uenak!

[5] Adalah ungkapan dalam bahasa Betawi yang berarti: Brengsek, jahanam, biadab bedebah, sialan, penjahat! Dalam bahasa Jawa bangsat bersinonim dengan kata Tinggi, yang berarti; Kutu busuk. Dalam kamus bahasa Toraja, Tinggi berarti; Anak kalung atau manik-manik yang berwarna merah marun yang diletakkan di antara emas dan batu-batu mulia lainnya. Tinggi.., adalah nama belakang saya!

[6] Trantip atau Polisi Pamong Praja.

[7] Misi, dalam pengertian yang sebenarnya merupakan kependekan dari kata Misionary, atau Zending. Pada mulanya, kata ini digunakan sebagai sebutan terhadap para Misionaris-Misionaris, para pengajar Injil dan Teologia Kristen  dari  Amerika Serikat dan Eropa. Dewasa ini, terminology tersebut meluas pemakaiannya hingga meliputi para pekerja-pekerja sukarelawan di bidang sosial, kemanusian, perdamaian dan pendidikan baik yang diadakan oleh lembaga-lembaga international yang memiliki otoritas untuk hal tersebut maupun lembaga-lembaga social nir laba yang bernaung dibawah lembaga atau institutio gereja atau keagamaan. Masa kecil saya, sebagian besar kecil di-habiskan di ruang tamu dan dapur para Misionaris-Misionaris dari Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Demikian pula dengan leluhur saya.

[8] Salam, Do’a-do’a, Shalawat dari yang hidup untuk orang-orang atau kaum kerabat yang dicintai, yang telah meninggal dunia!

[9] Sebagaimana ditulis dalam sebuah features di harian Top Score, yang dikutip dari tulisan John Martin dalam situs ABC News.com, 7 September 2006. Bagian ini khusus saya nukilkan, saya tuliskan kembali disini dengan maksud agar setiap pembaca buku ini senantiasa memiliki pengertian yang benar akan arti pentingnya prestasi, berprestasi dan menjadi orang-orang yang memiliki prestasi dalam hidup. Inilah yang membedakan anda dari kebanyakan orang! Paling tidak, anda pernah melakukan suatu hal yang benar dengan benar di dunia ini, di kehidupan anda sebelum anda mati. Sekali saja.., itu sudah lebih dari cukup, daripada tidak ada sama sekali. Inilah yang saya simpulkan selepas peristiwa di bundaran Hotel Indonesia tersebut. Teruslah berkarya dan menjadi lebih baik. Kehidupan pasti menanggapinya.., cepat atau lambat!

[10] Dalam bahasa Toraja berarti; Oh my Lord, Oh God, Ya Tuhan, Oh my Goddes. Hingga pada tingkat gradasi yang paling umum ungkapan ini berarti; Ya ampun.., Sialan!

[11] Kata yang sama juga adalah judul buku seri pertama dari keempat seri novel Kisah Klan Otori, karangan Learn Hearn.

Naskah sebuah Novel: Chapter seven.

Juli 7, 2009

Chapter seven.


Looke mengambil ponsel dari tasnya, aroma roti merebak, menyengat kemana-mana menggantikan pengharum mobil. Namun hanya sekejab, lalu menghilang. Dia mencari nama dalam direktori ponsel dan menulis sebuah pesan singkat dan mereguest sebuah lagu. Pesan terkirim, tersambung ke sebuah studio radio, chanel yang sedang diputar di radio dalam mobil.
“Aku baru saja merequest sebuah lagu di radio!”
“Laguku?”
“Bukan!”
“Endless story!”
“Aku sangat menyukainya!”
“Lagu itu untuk kamu!”
“Aku tidak yakin mereka memilihnya!’
“Kita tunggu saja!”
“Looke….?”
Mobil memperlambat lajunya, dari kejahuan nampak warna kuning di trafict light.
“Ya, Nona?”
“Sudah berapa lama kau bekerja di Nomoto?”
“Lama, sudah lima tahun. Saya salah seorang yang paling tua di sana!”
“Betul, ya?”
“Saya beberapa kali ganti pekerjaan sebelum masuk ke sana, dan di Nomoto, itulah tempat yang paling nyaman kurasakan sampai saat ini! Kau tahu, manager sip 2 siang jauh lebih muda dariku!”
“Posisimu sekarang?”
“Karyawan biasa!”
“Apakah kamu tidak pernah mendapatkan promosi?”
“Sering. Tapai aku selalu menolak! Saking seringnya dipanggil dan menolak, bosku sampai mengaku cape’. Setiap kali ada peluang promosi, dia tak lagi memanggilku tapi mengatakannya di dapur!”
“Kau tidak terpikirkan gajinya?”
“Bos punya kebijakan tersendiri untuk itu! Nona, setiap orang lahir dengan pembawaannya masing-masing, gayanya, sifatnya, keberuntungannya dan rejekinya masing-masing. Beberapa orang lahir sebagai majikan, dan yang lainnya sebagai buruh. Saya mungkin bisa saja memaksakan diri saya memenuhi setiap promosii yang ditawarkan, tapi pertanyaannya, apakah hal tersebut akan membawa manfaat dan kebaikan di Nomoto, kemajuan untuk karyawan dan perusahaan, ataukah sebaliknya, ambisi saya akan menjadi bumerang, batu sandungan untuk semua. Saya cukup mengenal baik diri saya, saya tidak memiliki kemampuan manajerial yang  cukup baik dan memadai untuk mengolah  sebuah tanggungjawab managerial selain menjadi seorang tukang aduk adonan di dapur, menjadi pelayan atau sesekali menjadi kasir. Bosku, sama sekali tidak tahu bedanya tepung terigu dengan maizena, tidak tahu bagaiaman menbuat riti yang paling sederhana sekalipun, omelet, kautahu jenis itu khan?”
“Ya!”
“Tapi outlet Nomoto ada dimana-mana, kita dapat menemuinya hampir di setiap plaza. Saya sama sekali tidak suka memerintah orang  untuk melakukan ini dan itu teristimewa untuk menggantikan tugasku,. Tapi aku senang jika disuruh kesana-kemari, ini dan itu oleh bos. Ada perawsaan senang dan bangga bekerja di bawah perintah. Ini terkait erat dengan persoalan kepercayaan, dan mentalitas kuli yang mendaging!”
“Mentalitas kuli? Istilahmu boleh juga!”
“Cukup proporsional bukan? Tak ada yang diruugikan, bos, karyawan ataupun perusahaan, juga saya. Coba lihat saja tampangku, potongan dan gayaku, otot-ototku dan garis-garis kerutan di wajahku, kuli habis khan?”
“Sukurlah kau menyadarinya!”
“Sialan!”
Meadowri tertawa.
“Kau sendiri, berapa album yang sebenarnya telah kau buat?”
“Ada beberapa!”
“Lagu-lagunya kau ciptakan sendiri?”
“Tidak semuanya, sebagian, iya. Saya punya manajemen, mereka yang mengatur semuanya untukku! Looke…..?’
“Ya Nona?”
“Apalagi yang kau ketahui tentang aku?”
“Tentu saja kau adalah seorang penyanyi yang hebat. Tidak banyak yang aku tahu tentang fashion, tapi kau juga adalah seorang top model bukan?”
“Belum seberapa top sebagaimana atribut itu. Aku baru menekuninya beberapa tahun terakhir ini!”
”Tapi kau masih sangat muda. Dari yang aku tahu, kau memiliki segalanya untuk menjadi top model yang sesungguhnya, sebagaimana istilahnya itu sendiri.  Waktumu cukup untuk melakukan semuanya itu sekaligus?”
“Dengan manajemen yang baik, semuanya dapat berjalan dengan baik, sebagaiamana yang diharapkan.”
“Kau sudah terbang sampai sejauh mana?”
“Yang terakhir aku menjadi salah seorang model sebuah merek fashion ternama, dalam sebuah fashion show di New York!”
“Fashion membawamu berkeliling dunia. Bukan begitu?”
“Bisa dikatakan demikian!”
“Mana yang lebih kau sukai dari keduanya, bernyanyi atau fashion?”
“Keduanya! Bernyanyi adalah hidupku, luapan perasaannku, jiwaku ada di sana. Music, kau tahu khan, adalah bahasa universal. Sedangkan fashion adalah duniaku. Seperti yang tadi kau katakan, fashion memperkenalkan banyak hal tentang kehidupan di dunia ini. Fashion membawaku berkeliling dunia!”
“Seperti apa kehidupan di sana?”
“Glamour, susah melukiskannya dengan kata-kata, dan tentu saja….”
“Perempuan-perempuan cantik, bukan?”
“itu kesukaanmu, bukan?”
“Yep!”
“Tapi ketahuilah Looke, mereka tidak hanya cantik-cantik sebagaiamna yang terlihat, mereka adalah orang-orang hebat, brilian, smart, brightly. Mereka adalah orang-orang pilihan dari berbagai agen model yang tersebar di seluruh penjuru dunia, hebat dalam pengertian yang sebenarnya, First class, gaya hidup first class dan tentu saja fasilitas-fasilitas first class. Kontribusi mereka pada duni, ada kehidupan sama besar dengan yang mereka peroleh. Cukup adil khan?”
Looke terdiam, dia membayangkannya.
“Bagaimana dengan akting, film, kau tidak tertarik terjun ke sana?”
“Tidak. Biarlah orang lain saja yang melakukannya, ini akan membaut dunia nampak lebih baik. Bagaimana dengan kau sendiri? Menurutku kau cukup pandai berakting!”
“Seperti kamu, kalau semua orang mau jadi aktor, siapa yang akan membuat roti untuk makan siang para aktor, stradara, kru dan top-top model, seperti kamu?”
“Ha.., ha.., ha…!”
“Lagipula, setiap kali bos datang dan mulai memuji cappucinonya dihadapan kami, sebagai yang terbaik, mengangguk-angguk di hadapannya adalah juga akting, permaianan watak yang rumit dan membosankan!”
“Tidak semua orang bisa melakukannya!”
“Yep!”
“Kalau begitu bermainlah dengan hebat seperti itu di episode ini, Looke!”
“Ok. Tentu saja, Nona!”
Dari radio, penyiar berbicara…
“Looke, memesan Endless story untuk salah seorang perempuan yang paling menarik dan mengagumkan yang pernah dia temui, di hidupnya, bahkan katanya di dunia. Benar begitu? Yang sebenarnya adalah dia jarang bertemu dengan perempuan, dan kenyataannya, tidak banyak perempuan dalam hidupnya yang sederhana. Kau akan terang, teru dan akan benderang. Jika ada umur panjang, semua orang akan tumbuh menjadi besar dan dewasa, dan tentu saja untuk bersikap selayaknya orang dewasa, sebelum dia menjadi letih, menua dan mati! Sebuah endless story untuk Meadowri, di sisinya saat ini, untuk persahabatnnya!”
“Saat ini? Lanjutnya.
Intro Endless story telah mulai terdengar.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Setengah jam untuk menghabiskan segelas jus sirsak dan ice cream sarsaparilla yang dicampur dengan sedikit Vodka smirnov.
“Gerrr….., rasanya mengguigit, asam, manis dan sedikit alkohol, benar-benar pelepas dahaga yang hebat!”
“Itulah yang mereka berdua rasakan.
Di menit terakhir, Meadowri tampil di panggung, bernyanyi untuk sebuah lagu hit terbarunya, lalu beranjak dari sana.
Tapi belum seberapa jauh mobil mereka melaju, Looke menawarkan pilihan. Sisa perjalanan akan mereka lalukan dengan kendaraan umum.
“Apa maksudmu membawaku ke sini?”
“Tidak ada tendensi lain. Penggemarmu yang menonton acara ini tokh tidak semuanya adalah kaum muda dari kelas menengah keatas, sebagiannya yang betah bertahan berjam-jam di depan Tv adalah ibu-ibu rumah tangga, dan kelas bawah, kaum marjinal, ibu-ibu rumah tangga kebanyakan. Sejauh ini kita telah naik sedikit dan berbicara banyak hal, mungkin inilah saatnya kita turun sedikit. Semuanya untuk episode ini, tidak kurang ataupun lebih, bagiku semua ini hanyalah sebuah pertunjukan dan tontonan.  Sepertei apa tontonan yang akan kau tawarkan kepada mereka? Saya hanya berusaha membuatnya lebih beragam, dan membuatnya nampak lebih menarik, lebih baik.”
Meadowri sepakat.
“Kau tahu tidak Looke?”
“Tentang apa?”
“Kau akan melupakan semuanya ini, semua hal yang baru saja engkau lihat, yang baru saja kita lewati dan apa yang ada didepan mata di sis perjalanan begitu kau berada di jejakku!”
“Berkenalan dengan dunia. Berkeliling dunia, itu khan maksudmu?”
“Benar sekali!”
“Kalau kau sudah sampai ke sana, engkau akan sadar dengan sendirinya bahwa ada begitu banyak hal menarik di dunia ini terbuka untuk kau lihat, kau datangi dan kau nikmati. Kau mungkin belum pernah merasakan bagaimana rasanya melihat dan bertemu dengan banyak hal, banyak tempat dan lebih banyak orang-orang yang menarik, atau bahkan keajaiban yang baru setiap hari. Aku sudah mengalaminya, Looke! Dan kau tahu….”
“Apa?”
“Saat itulah kau akan sadar, betapa berharganya hidup ini!”
Looke terdiam, terkesima.
“Berapa umurmu sekarang?”
“34 tahun!”
“Kau sudah kemana saja?”
“Tidak kemana-mana. Aku hanya berputar-putar dari pintu kamar flaatku ke pintu belakang Nomoto, setiap hari, seperti itu, berputar dalam lingkaran itu, di siklus itu!”
“Itulah yang aku maksudkan!”
“Aku akan melakukannya, juga…, Meadowri, suatu waktu!”
“Kalau begitu, buatlah perjalanan yang hebat nanti, Looke!”
“Tentu saja. I will!”
Tempat kendaraan umum itu berhenti tidak seberapa jauh dari rumah Meadowri, di sebuah pemukiman elite di Selatan Jakarta. Hanya beberapa puluh langkah kaki ke sana.
Seorang pembantu pria membuka pintu pagar.
Kedua orang tuanya, adik-adiknya menunggu di deopan pintu. Mereka berkenalan sejenak lalu masuk ke dalam, meninggalkan mereka berdua di pintu masuk.
“Tiba saatnya episode hari ini berakhir.”
“Benar. Letih rasanya, ya?”
Mereka berdua terdiam saling menatap.
“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu Looke?”
Dia tidak segera menjawab. Dia menatap tajam dan haru wajah Meadowri yang cantik, matanya yang bening berkaca-kaca, dia sepertinya tidak mengharapakan perpisahan di jam ini, dan malam minggunya berakhir seperti ini. Tapi dia juga sadar, semua ini hanyalah sebuah pertunjukan dari sebuah episode di kehidupannya, di kehidupan mereka, dimana bagaimana segala sesuatunya bermula, berjalan dan mengalir, dan pada akhirnya berakhir semuanya telah ditentukan dalam skenario. Tiap orang dengan perannya masing-masing. Setiap orang pada tempatnya masing-masing!
Dari kejahuan, Foster, Kline dan seluruh kru mengikuti drama ciptaan mereka dengan luapan emosi, penuh rasa haru. Mereka menahan nafash, menunggu apa yang akan selanjutnya, bagaimana malam ini akan berakhir.
“Meadowri….?”
“Ya, Looke?”
“Malam ini aku adalah seorang pria dewasa yang paling beruntung, dan yang paling berbahagia, dan di dunia ini kau adalah perempuan yang sangat mengagumkan. Kau cantik sekali malam ini. Sungguh!”
Meadowri menarik nafash panjang.
“Terimakasih Looke!”
“Selamat malam!”
“Selamat malam, Looke!”
Dia berpaling lalumelangkah menjauh, pergi. Kamera mengikutinya. Yang lainb menyorot Meadowri yang berdiri terpaku, tak bergeming, suasana hatinya diselimuti emosi, haru dan bahagia yang menyatu bercampur aduk, dia ingin meronta, dan atau bahkan menangis….
“Looke, kau yakin tidak ingin menghabiskan roti di tasmu itu, di sini?” ungkap Meadowri berteriak ke arahnya.
Dia meoleh, sejenak, membrinya sedikit senyuman, lalu melanjutkan langkahnya, dan akhirnya menghilang.
Di benaknya, hanya ada Pearl dan Sam!
Malam ini, Meadowri telah mengajarinya banyak hal tentang kekuatan sebuah impian, dari seseorang yang telah menjalaninya.
Di benaknya, Meadowri, terlintas pikiran yang berbisik di hatinya, kepadanya….
“Seharusnya aku menjalani cinta yang seperti ini, dalam kehidupan nyataku. Tapi aku percaya, tak seorangpun, tak seorang priapun yang akan mencintaiku setulus Kline, terlebih Looke. Dia memang menarik, tapi tidak menjiwaiku, kami tidak akan pernah saling mencintai dan memiliki seperti yang aku rasakan dengan Kline. Dia, Kline dalam hidupku, itu cukup bagiku!”

Naskah sebuah novel: Chapter six.

Juli 6, 2009

Chapter six.




Malam minggu dengan seorang bintang, dengan Meadowri.
Pertengahan antara siang yang panas menyengat dan sore menjelang malam, Meadowri tioba di sebuah salon spa di Fous Seasons. Dua jam kemudian dia kembali ke rumah, melakukan persiapan kencan, dengan Looke.
Semuanya on take, on camera, bagian dari skenario.
Camri Toyota————–perlahan memasuki parkiran Nomoto, merapat di antara jejeran mobil lainnya. Tidak lama kemudian Meadowri muncul dengan stelan semi casual yang modis dan trendy, warna merah mudah, warna yang menandakan seseorang tengah jatuh cinta, warna cinta. Dia berkaca sebentar pada kaca mobil yang berlapis film berwarna biru muda, melihat wajahnya, rambutnya dan memperbaiki pakaiannnya yang sedikit kusut, Penampilannya harus sempurna, dia harus tampil sebaik mungkin, ini adalah reality show tentabng dirinya. Dia ingin semua orang yang emnontonnya dapat terhibur atau bahkan terinspirasi oleh diorinya.
———————- itu pas di tubuhnya.
Seorang kamerawan mengikutinya dari jarak dekat.
Seorang yang lain di dalam restoran telah menunggu kemunculannya sejak dari tadi.
Dia mendorong pintu dengan separuh kekuatannya, melangkah masuk, seorang pengunjung yang hendak keluar berpapasan dengannya meninggalkan sebuah meja yan kosong. Beberapa orang berjejer di depan etalase memilih roti untuk mereka makan di sini dan sebagian yang lain adalah tamu yang mampir sebentar, memilih roti lalu take away, membawanya pulang, menikmatinya di tempat lain.
Dia melanjutkan langkahnya di antara para tamu di depan etalase, seorang pelayan menghampirinya.
“Dine in or take away, makan disini atau dibawah pulang?”
“Makan di sini!”
Dia mengambil nampan untuknya, menaruh sebuah sendok, garpu, pisau roti dan sebuah piring lebar.
“Silahkan dipilih!”
Meadowri sedikit memiringkan tubuh, agak menunduk, untuk memilih satu persatu roti yang masih hangat yang diinginkannya, yang terpajang di sana lalu memilih beberapa.
Semua mengalir, berjalan sebagaimana yang diharapkan, sebagaimana skenario. Sebagian besar pengunjung yang ada di dalam sana adalah pengunjung yang sebenarnya.
Dia duduk, lalu mulai menyantap ————–, yang habis dengan cepat. Berikutnya adalah Cinnamon. Seorang pelayan mendekat mengantarkan segelas Cappuciono panas, pesanannya.
Dia muncul lalu melekaknya perlahan-lahan di hadapan Meadowri.
Meadowri meliriknya. Dia terkejut, lalu melirik cepat ke arah Foster yang duduk di meja lain di depannya, menghadap ke aranya, dia mengangkat jempol membalasnya, sebagai tanda: Dialah orangnya. Sedikit kejutan!
Kita semua ada di pertunjukan, menjadi permain dengan karakter dan peran masing-masing, jadi bermainlah dengan baik.
“Ya Tuhan!” desis Meadowri.
“Cappucinonya, Nona!”
Meadowri meliriknya.
“Kamu lagi?” ungkapnya seketika. Looke tersenyum. Lalu juga ke arah kamera yang tak jauh darinya dan mengangkat tangannya.
“Hallo…., saya dari Nomoto mengucapkan selamat malam minggu untuk anda semua. Dia, Meadowri akan menjadi kencanku malam ini, dan beberapa minggu ke depan!” katanya.
“Kita berkencan!” cepat Meadoeri menambahi.
Lanjutnya tak membuang waktu…..
“Bukan kau yang mengencaniku. Kau tahu, itu adalah dua hal yang berbeda!”
Meadowri lalu melambaikan tangannya ke arah kamera.
“Hallo, selamat malam!
Looke berpaling kembali ke arha Meadowri.
“Selamat datang di dunia, nona yang cantik!”
“Duniaku ada di sana, di hutan. So, well come to the junggle, anak muda!”
“Aummm…..!”
Lanjutnya lagi….
“Saya adalah raja di duniamu itu, Nona!”
Meadowri terdiam, lalu cept memasukkan sepotong kecil Cinnamon ke mulutnya. Dia sama sekali tidak menduga akan berhadapan dengan situasi demikian.
Looke sadar.
“Bagaimana rasanya?”
“Cukup enak. Sebenarnya, enak!”
“Cappucinonya?”
“Saya belum mencobanya!”
“Coba saja, silahkan!”
Meadowri meletakkan garpunya, lalu sedikit mencicipi Cappucino hangat itu.
“Hm, lumayan enak!”
“Saya juga berpikiran demikian, tapi kau mau tahu tidak…”
“Kenapa?”
“Bosku selalu berkata bahwa tidak ada Cappucino yang lebih enak dari itu!”
“Dia bosmu khan?”
“Benar juga, ya wajar saja! Semua karyawan di sini menyukainya. Sedikit pelit, tapi baik hati, seorang ekspat!”
meadowri mengangguk lalu kembali memasukkan secuil Cinnamon ke mulutnya lagi.
“Kau tahu dimana Cappucino yang paling enak?”
“”Ya!”
“Kapan waktu kau harus mengajakku ke sana!”
“Baiklah!”
“Looke melirik ke arah Foster, lalu mengedipkan mata. Dia tersenyum , semuanya berjalan lancar.
“Boleh aku duduk?”
Looke mengamil pssisi yang terbaik berhadapan dengannya.
“Ini tidak akan lama, kita akan melewati m,alam ini bersama-sama!”
“Ya!”
Looke melirik jam Benetton di tangannya.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka menemukanku dan apa alasan serta pertimbangan mereka sampai memilihku tampil di sini!”
“Aku juga tidak menyangkanya sedikitpun!”
“Mereka tidak mengatakannya padamu?”
“Tidak. Foster hanya berkata bahwa sesorang yang akan menjadi kencanku akan bertemu denganku di sini. Itu saja, dengan siapa, dia tidak menyebutkannya!”
“Ternyata aku!”
“Seperti itulah!”
“Bagaimana perasaanmu?”
“Entahlah, kita baru menjalaninya beberapa menit, bukan?”
“Kau benar. Aku akan berusaha tampil sebaik mungkin. Mereka baik padaku, kau mengerti maksudku khan?”
“Ya!”
“Tapi….”
“Kenapa?”
“Seperti sebuah buku atau novel, tidak semua bab-bab terdiri dari bab-bab yang menarik. Sebuah novel best seller yang ditulis oleh seorang penulis hebat sekalipun selalu ada bab yang rasanya membosankan dan menjengkelkan. Saya sering mengalaminya. Bagaimana dengan kamu!”
“Tentu saja, saya sedang membaca sebuah novel yang seperti itu!”
“Seperti itulah kira-kira, kalau ada yang kurang menarik dan tidak menyenangkan dari saya selama pembuatan acara ini, tolong kau mengatakannya, ya!”
“Baiklah, tentu saja!”
“Meadowri, o ya, boleh khan aku menyebut namamu dan memanggilmu dengan sedikit mesra dan manja?”
“Silahkan, boleh saja!”
“Kamu adalah seorang Penyanyi yang hebat!”
“Kau membeli cd atau kasetku tidak?”
“Tidak. Maaf. Tapi aku sering mendengarmu bernyanyi di radio, aku bahkan beberapa kali merequest lagumu. Suaramu merdu, lagu-lagumu enak terdengar, dan kaupun bernyanyi dengan sangat baik!”
“Aku akan berusaha agar bisa lebih baik lagi!”
“Kalau begitu, aku akan sering-sering merequestmu, aku berjanji!”
“Kalau kau tidak bisa membelinya, kau bisa saja mendownloadnya yang kau suka dari websiteku! Dengan senang hati, lagi pula itu semua gratis!”
“Aku pernah sempat memikirkannya. Lain waktu akan kulakukan!”
“Kau pernah mengunjungi websiteku?”
“Belum!”
“Semua tentang diriku, kegiatanku, foto-foto dan laguku dapat kau akses dan lihat di sana. Sempatkan sedikit waktumu, dan berkunjunglah sekali-kali!”

“Dalam waktu dekat aku akan mengunjungimu, aku berjanji, bersiaplah Nona!”
keduanya lalu tertawa.
“Satu jam lagi restoran ini akan tutup!”
“Foster mengatakan kepadaku bahwa syutingnya akan kita lanjutkan di tempat lain!”
“Seperti itulah! Kemana?”
“Entahlah!”
“Aku akan melanjutkan pekerjaanku kembali. Kau boleh menungguku di sini sampai kami bubar. Tambah lagi roti dan Cappucinonya, jangan ragu-ragu. Foster adalah orang yang banyak uang dan sekaligus baik hati. Aku sudah mengalaminya!”
“Sialan kau!”
Meadowri tersenyum dan tertawa. Cukup jujur dan lucu menurutnya.
“Foster ya?”
Lokke mengangguk.
“Nona Meadowri, kau tahu apa yang dipikirkan oleh Foster saat ini?”
“Tidak, menurutmu?”
“Sedikit kejutan, bukan dari dia, tapi dari kita!”
“Kejutan? Semacam blunder atau manuver? Kau akan memberinya?”
“Ya, itupun kalau kau mau ikut serta!”
“Seperti apa?”
“Boleh aku mencicipinya?”
“Silahkan!”
Looke mengambil garpu dari tangan Meadowri lalu menyendok sattu lapisan besar Cinnamon dan memakannya.
Meadowri hanya terdiam, tersenyum dan tersipu-sipu. Ini agak konyol baginya.
Lalu Looke menyendok lapisan kedua, yang sedikit lebih kecil dan menyuapkannya ke mulut Meadowri.
“Ayo!”
Menwdowri tersenyum sejenak ke arah kamera, terlihat seperti enggan melakukannya, tapi akhirnya menyambutnya. Dia membuka mulutnya, Looke memasukkan roti itu ke sana.
“Tutup!”

Meadowri mengkatupkan kembali kedua bibirnya yang sensual yang tersapu oleh—————–merah pekat, menjepit garpu itu.

Perlahan-lahan Looke manariknya, dengan gerakan mesra, sangat romantis, meninggalkan bercak lipstik di garpu.
“Silahkan dimakan!”
“Meadowri menurutinya.
“setelah itu Looke berdiri.
“Selamat menikmati!” lanjutnya lalu mengeser tubuhnya keluar dari celah antara meja dan kusi. Dia akan kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya..
“Looke, tunggu!” teriak Meadowri menghentikan langkahnya. Looke berpaling. Foster menatap mereka dari kejahuan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Klin yang membelakai mereka, penasaran dengan apa yang terjadi, dia ingin sekali mengetahuninya.
Meadowri cepat mengiris sekeping Cinnamon, menyendoknya dengan garpu.
“Ada apa Nona?”
“Buat kamu!” jawab Meadowri lalu menyuapkan roti itu ke pada Looke,.
Looke mengikuti kemauan Meadowri. Itulah yang dia harapkan darinya.
Dia lalu menunduk memberi hormat, rasa hormat dari seorang gentleman kepada seorang perempuan terhormat.
Meadowri tersenyum manis sekali, dan bahagia. Dia bangga.
Looke meneruskan langkahnya.
Dia mampir sebentar di etalase, memesan dua paket roti, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.



*


Satu persatu karyawan keluar dari pintu belakang Nomoto. Jam 9 lewat, diantaranya adalah Looke. Ada yang pulang dengan kendaraan sedniri, ada yang di jemput, ada pula yang pulang ke rumah dengan kendaraan umum. Looke masuk kembali ke dalam restoran melalui pintu depan, menemui Meadowri yang sendirian, lalu keluar berdua setelah semua lampu di matikan.

Mereka berdua meningalkan Nomoto, kearah Selatan Jakarta, ke sebuah Cafe terbuka yang berada di beranda, pelataran sebuah plaza, mungkin salah satu yang terbesar saat ini.
“Bagaimana menurutmu sikap Foster saat di Nomoto tadi?”
“Cukup puas. Itulah yang aku ketahui. Jika ada yang salah atau kurang, dia pasti akan mengatakannya.”
“Dia adalah seorang sutradara, manager produksi yang hebat dan kreatif!”
“Reputasinya hebat. Hampir semua orang mengaguminya. Kau tahu tidak, banyak selebriti yang memohon agar masuk di acara ini, tapi dia sepertinya tidak semudah itu bagi dia!”
“Kau termasuk yang beruntung!”
“Seperti itulah. Lagi pula saya dekat dengannya. Dia adalah salah seorang teman baikku!”
“Sejauh ini syutingnya bagaimana?”
“Lancar-lancar saja. Tidak ada masalah dengan yang lain. Tapi jujur saja, dengan kamu aku agak sedikit kewalahan!”
“Sebabnya?”
“Foster menginginkan sedapatmungkin sesi kita dilakukan tanpa skript!”
“Mengalir secara alami!”
“Ya, seperti itu. Untung saja kau tidak terlampau merepotkanku. Kau sepertinya telah mempersiapkann diri dengan baik sebelumnya!”
“Aku? Tidak! Aku tidak melakukan persiapan apapun. Yang seperti inui biasa bagiku. Semuanya berjalan dan mengalir secara wajar, alami dan biasa-biasa saja, apa adanya. Kalaupun ada yang berjalan di luar dugaan, itu cuma improvisasi namanya, semata!”
“Seperti suapan tadi, bukan?”
“Ya. Kau tidak merasa terganggui khan?”
“Tidak! Tentu saja Looke!”
Dari kursi belakang, seorang kru memberi aba-aba, akan dilakukan pergantian pita kamera. Mereka telah separuh perjalanan ke sana.

Lewat ponsel, Foster mengabarkan bahwa persiapan di cafe telah selesai, matang. Menunggu kemunculan mereka dan siap ujntuk pengambilan gambar. Sebuah band pengiring telah disiapkan. Kline berharap dan berupaya sedapat mungkin, semaksimal kontribusi yang dapat dia berikan agar episode Meadowri dapat berjalan dengan sempurna, menjadi sebuah episode yang terbaik yang pernah ada, sebuah episode dimana dia ada juga di sana.
Di flaat, Pearl dan Sam telah tertidur pulas, siap untuk bangun lagi saat Looke pulang. Mereka nyaman di dalam pelukan Drew yang hangat.
Looke di tempat lain jauh dari sana sedang memainkan perannya, tengah bermain cinta, larut dalam permaianan cinta yang dramtis, untuk sebuah episode dari sebuah reality show dewasa ini, masa kini.
Syutingnya masih perlu beberapa jam, dan beberapa gulungan pita lagi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.